Pembangunan Fly Over di Kota Magelang Dipercepat, 80 KK Terdampak Mulai Didata

DIBONGKAR. Bangunan di sisi Jalan Telaga Warna Kota Magelang dalam waktu dekat bakal dibongkar seiring dengan rencana pembangunan fly over dan underpass Canguk.(foto : wiwid arif/magelang ekspres)
DIBONGKAR. Bangunan di sisi Jalan Telaga Warna Kota Magelang dalam waktu dekat bakal dibongkar seiring dengan rencana pembangunan fly over dan underpass Canguk.(foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Sekitar 80 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Rejowinangun Utara dan Wates Kota Magelang terdampak pembangunan semi underpass dan flyover di simpang Canguk mulai didata. Mega proyek yang memakan anggaran ratusan miliar ini rencananya akan mulai dikerjakan quartal ketiga tahun 2022.

Ketua Satuan Kerja (Satker) Pengelola Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Provinsi Jawa Tengah Devita Alcitra Candra mengatakan rangkaian kegiatan pembangunan semi underpass dan flyover Canguk sedianya dijadwalkan tahun 2023. Namun dipercepat, guna mendukung pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional  (KSPN) Borobudur.

Dia menyebutkan sekitar 104 bidang tanah dengan luasan 11.346 meter persegi terimbas pembangunan ini. Lahan itu berada di Kelurahan Rejowinangun Utara dan Wates.

“Seluruh kegiatan pembangunan dari awal sampai akhir, membutuhkan waktu 18 bulan. Targetnya Desember 2023 pembangunan sudah selesai dan 2024 sudah dapat difungsikan,” ungkapnya.

Semi underpass akan dibangun untuk menghubungkan jalan nasional dari arah Salatiga ke Magelang dan Semarang. Sedangkan flyover dibangun dua ruas selebar 12-15 meter untuk menghubungkan jalur Jogjakarta-Semarang. Jalan yang terdampak antara lain dua ruas Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Soekarno Hatta, dan Jalan Telaga Warna.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kota Magelang, MS Kurniawan mengatakan, pembangunan flyover dan underpass Canguk ini murni dibiayai Kementerian PUPR. Termasuk di antaranya pelaksanaan hingga biaya pembebasan lahan.

“Sedangkan Pemkot Magelang bertugas membantu menyosialisasikan dan identifikasi warga yang terdampak,” jelasnya, Kamis (24/3).

Saat ini, lanjutnya, sudah dilaksanakan survei lokasi dari Tim Pengadaan yang dinahkodai Balai Besar Pengelola Jalan Nasional. Ia menyebut, terkait penentuan harga pembebasan lahan pun sudah dibentuk tim independen.

“Sudah ada tim independen. Tetapi untuk pagu dana dan detail engineering design (DED) kami belum terinformasi,” ujarnya.

Sejauh ini, masyarakat yang terdampak pembangunan sudah beberapa kali dikumpulkan dalam satu forum. Terakhir, pada 14 Maret 2022 lalu.

“Belum negoisasi harga. Cuma kalau pas kumpulan itu pernah dikasih tahu penetapan harga didasarkan nilai jual objek pajak (NJOP),” kata Didi, warga setempat.

Pada dasarnya, warga menyambut antusias rencana pembangunan flyover dan underpass ini. Namun, dia meminta agar penggantian dana tetap didasari pada harga tanah, harga bangunan, dan harga lama tinggal.

“Yang saya tahu sampai habis Lebaran nanti akan diselesaikan pembayaran ke masyarakat dan lain-lain. Lalu, Oktober mendatang baru dipugar,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Bappeda Kota Magelang, Handini Rahayu mengatakan rencana pembangunan jembatan layang Canguk sebenarnya sudah cukup lama diusulkan Pemkot Magelang ke Kementerian PUPR. Namun baru tahun 2018 lalu mendapat respons baik dari Kemen-PUPR dan Komisi V.

”Sudah lama Pemkot kirim proposal ke pemerintah pusat, tapi selalu tidak direspons. Kami terus mengajukan sampai akhirnya tahun 2018 mendapat lampu hijau,” paparnya.

Untuk diketahui, pada tahun 2012 silam Pemkot Magelang sudah mengusulkan adanya pembangunan jalan layang di kawasan Canguk. Sayangnya, usulan tersebut ditolak pemerintah pusat. Kementerian PU beraganggapan pelebaran jalan di Jalan Urip Sumoharjo lebih tepat dan efektif untuk mengurai kemacetan yang terjadi, ketimbang membangun fly over yang  membutuhkan biaya lebih besar.

Namun demikian, hingga beberapa tahun pascapelebaran jalan nasional itu, kemacetan di persimpangan Canguk masih saja terjadi sampai sekarang. Bahkan, antrean kendaraan dari arah Tegalrejo menuju Kota Magelang, bisa sampai di area jembatan yang berpotensi menurunkan kekuatan konstruksi jembatan.

Dini menambahkan persimpangan Canguk kerap terjadi kemacetan lalu lintas, terutama dari arah Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Soekarno Hatta.

Pemkot mengusulkan pembuatan jembatan layang dan underpass dengan perkiraan awal menghabiskan dana Rp119,9 miliar. Spesifikasinya, flyover tepi Sungai Elo panjang 340 meter dan lebar 9,4 meter. Flyover dibangun untuk arah Jogja-Semarang, sedangkan underpass untuk arah Tegalrejo-Jogja termasuk dari Jalan Telaga Warna. (wid)