Wonosobo Diajukan Jadi Lab Kebhinnekaan

KUNJUNGAN. Tim Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ketika mengunjungi masjid Al Mansur Kauman saat meninjau usulan Laboratorium Kebhinnekaan, 
KUNJUNGAN. Tim Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ketika mengunjungi masjid Al Mansur Kauman saat meninjau usulan Laboratorium Kebhinnekaan, 

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Tim Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengunjungi beberapa tempat di Wonosobo untuk melakukan assessment dalam pemilihan Laboratorium Kebhinnekaan. Ketika nantinya Wonosobo terpilih, maka akan menjadi rujukan dari jejaring lintas komunitas etnis dan gerakan bersama untuk program kebhinnekaan nasional.

Tiga tempat yang didatangi tim BPIB ialah Desa Buntu Kecamatan Kejajar, Masjid Al Manshur Kauman, dan Kampung Sruni Desa, Kelurahan Jaraksari Kecamatan Wonosobo.

Direktur Kebudayaan BPIP, Irene Camelyn Sinaga mengatakan, ketiganya dianggap merepresentasikan keberagaman di Indonesia sekaligus contoh yang mewakili banyak wilayah di Wonosobo.

“Kami melihat Wonosobo adalah potret keberagaman sesuai dengan ideologi Bhinneka Tunggal Ika. Kami juga catat rekomendasi dari para tokoh. Para tokoh di sini sudah selayaknya jadi pembicara ke lintas daerah untuk dukung gerakan lainnya. Sebelumnya dilakukan di Jawa Timur dan tahun ini ditarget Wonosobo untuk bisa memberikan testimoni ke luar daerah,”ungkap Irene ketika berkunjung ke salah satu masjid tertua Wonosobo, Masjid Al Mansur, Rabu siang (26/8).

Ketua Yayasan Masjid Al Mansyur Syarif Hidayat menyambut rombongan tim dengan suguhan mi ongklok dan tempe kemul dan menyebut bahwa Masjid Al Mansur adalah masjid yang bisa dikatakan sangat terbuka.

Baca Juga
Diwajibkan Beli Masker, 300 Orang Terjaring Operasi Gabungan

Bahkan ketika pandemi, masjid di Kampung Kauman itu tetap intens kegiatan lintas etnis agama seperti penyaluran bantuan sembako dari perwakilan Tionghoa. Sebelum pandemi juga menjadi tujuan tempat diskusi bagi Pendeta Gereja Kristen Jawa se-Kedu.

“Kita punya prinsip bahwa masjid harus memberikan rasa aman, damai, dan sejahtera tentunya kepada siapa saja yang memasukinya. Siapa yang masuk masjid selamat tenteram. Kami welcome dengan siapapun. Masjid jadi pengikat persaudaraan. Di sini ada pengajian seton yang sudah ada sejak tahun 61 sampai sekarang. Di masa pandemic, kami tetap mengacu protokol kesehatan seperti jarak dan mewajibkan masker,” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Begini Cara Pria di Wonosobo Ini Menjual Samurai Palsu Hingga Belasan Juta Rupiah. Kini Ia Harus Pasrah Berurusan dengan Polisi

Menanggapi sambutan ketua yayasan, Irene merasa sangat berterimakasih telah ditetima dengan luar biasa hingga mengungkapkan bahwa kedamaian di Wonosobo bisa dirasakan begitu menjejakkan kaki dan menyapa warganya.

“Kami datang ke sini dengan ketertarikan yang kuat. Dengan informasi bahwa keberagaman yang sudah biasa dijalankan sebagai laku hidup. Inilah potret Indonesia, dari Buntu kami melihat kerukunan lintas umat beragama dan di Masjid ini atmosfernya sangat kental bahkan sangat nyaman bagi siapapun. Bahkan sejatinya inilah indonesia. Semoga apa yang kami dapatkan di sini akan kami laporkan untuk rekomendasi,” katanya.

Di kesempatan itu, tim BPIB juga menyerahkan Ikon Prestasi Pancasila BPIB 2020 pada salah satu pendidik di SMPN2 Selomerto dan pengasuh sanggar Ngesti Laras, Mulyani atas karyanya serta upayanya melestarikan warisan seni budaya jawa di Wonosobo. (win)