Wisata Ziarah Favorit, Pengunjung Gunung Tidar Capai 220 Ribu

FULL SENYUM. Para pedagang di sekitaran Gunung Tidar mendapat keuntungan berlebih, imbas naiknya tingkat kunjungan ke Pakuning Tanah Jawa itu. (foto : suma maulida/magelang ekspres)
FULL SENYUM. Para pedagang di sekitaran Gunung Tidar mendapat keuntungan berlebih, imbas naiknya tingkat kunjungan ke Pakuning Tanah Jawa itu. (foto : suma maulida/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Objek wisata religi Gunung Tidar masih menjadi tempat favorit masyarakat untuk berwisata maupun berziarah. Sejak Januari 2022 hingga saat ini, ‘Pakuning Tanah Jawa’ itu sudah dikunjungi 220.094 pengunjung.

Kepala UPT Kebun Raya Gunung Tidar, Yhan Noercahyo menuturkan setelah dibuka secara nornal pengunjung mengalami kenaikan signifikan.

“Pasca-pandemi kunjungan signifikan sekali. Mungkin karena sudah dibuka secara normal, kemudian ada penataan di Gunung Tidar sehingga orang lebih tertarik,” kata Yhan, saat ditemui, Rabu 28 September 2022.

Ia menjelaskan, selama ini Gunung Tidar terus mendapat alokasi penataan. Adanya Gardu Pandang Elang Jawa dan Monumen Tanah Air Satu Bangsa menambah signifikan tingkat kunjungan publik. Kini Gunung Tidar tak hanya menawarkan wisata budaya dan keagamaan, melainkan dapat menyajikan pemandangan yang eksotis.

Yhan menyebut, pada hari biasa atau weekdays jumlah pengunjung mencapai 600 hingga 800. Sedangkan di hari libur, maupun akhir pekan bisa mencapai 4.000 per hari.

“Angka ini masih terus mengalami kenaikan setiap bulannya,” ujarnya.

Bertambahnya jumlah pengunjung, kata dia, juga tak lepas dari penetapan status Gunung Tidar sebagai kebun raya. Sejak 12 Januari 2021, kawasan wisata yang dikelola oleh UPT Kebun Raya Gunung Tidar dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang itu bukan lagi hanya sebagai wisata religi. Lebih lengkap, pengunjung dapat merasakan wisata edukasi kebun raya dan berolahraga.

“Kita sedang berproses mengarah menjadi kebun raya secara utuh. Karena kebun raya jadinya ada fungsi pendampingan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Itu sebagai pendamping kami dalam memfungsikan kebun raya secara utuh. Jadi arah kebun raya harus selalu kami konsultasikan dengan mereka,” tutur Yhan.

Untuk dapat dikatakan sebagai kebun raya, imbuhnya, paling tidak harus memenuhi 3 unsur zona. Ada zona koleksi, zona penerima, dan zona pengelola.

Menurutnya, zona koleksi untuk menetapkan tanaman yang berasal dari tanaman spontan (tumbuh secara alami), eksplorasi alam, hibah dari kebun raya lain.

Kemudian, zona pengelola yakni berupa fasilitas terdiri dari ruang kantor dan ruang parkir. Sedangkan zona penerima ialah gerbang masuk dan keluar sebagai akses pengunjung.

Saat ini, kawasan Gunung Tidar yang luasnya mencapai 69 hektare itu baru memenuhi zona penerima dan zona pengelola saja. Sedangkan zona koleksi tengah dirancang secara bertahap.

“Kamu bersama BIRN memetakan dan trecking lokasi yang ditumbuhi oleh tanaman spontan, yaitu tanaman yang tumbuh secara liar bukan hasil budidaya manusia dan dibantu oleh penyerbukan hewan,” ucapnya.

Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terdapat 32 spesies tanaman yang tumbuh subur di Gunung Tidar. Spesies tersebut termasuk dalam kategori tanaman spontan.

Pihak pengelola terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kebun raya ini. Mereka menjelaskan 5 fungsi kebun raya yaitu konservasi, pendidikan, wisata, jasa lingkungan, dan penelitian.

Yhan menambahkan, selain ramai pengunjung berziarah dan wisata, saat ini kebun raya Gunung Tidar juga ramai didatangi para siswa yang melakukan kegiatan outing class, wisata sembari edukasi. Mereka dengan mudah memperoleh informasi terkait tanaman yang ada di kebun raya.

“Kami menyediakan papan informasi yang disertai barcode sehingga pengunjung dapat langsung terhubung ke website kebun raya,” tuturnya.

Selain itu, akhir-akhir ini juga digunakan untuk penelitian oleh para mahasiswa atau peneliti yang berkaitan dengan konservasi tanaman.

Naiknya pengunjung turut membawa berkah bagi para pedagang. Sumarni (47), salah satu pedagang makanan dan pakaian merasa mendapat keuntungan yang berlipat dibanding saat masa ganas pandemi Covid-19.

“Ya alhamdulillah laku meskipun terkadang ramai sekali kadang biasa. Kalau rame itu Sabtu Minggu bisa sampai Rp2 juta omsetnya,” jelasnya.

Tak jauh beda, Samidah (55) pedagang di tempat yang sama juga merasa senang dengan kebijakan UPT yang hanya membolehkan warga sekitar kawasan wisata untuk berjualan.

“Kalau ginikan jadi membantu saya dan warga lain. Kami ada pemasukan setiap harinya,” katanya. (mg1)