Waspadai Honorer Siluman,  Pendataan Tenaga Non-ASN Rawan Manipulasi

Ilustrasi: honorer K2 yang menunggu nasib
Ilustrasi: honorer K2 yang menunggu nasib

JAKARTA, MAGELANGEKSPRES.COM – Pendataan tenaga non-aparatur sipil negara (non-ASN) diprediksi memicu manipulasi data. Manipulasi ini akan berakibat membengkaknya data tenaga non-ASN sehingga honorer K2 posisinya makin terjepit. Sejumlah pengurus forum honorer K2 mengungkapkan indikasi permainan sudah tampak nyata.

Ada banyak honorer tidur alias tidak bekerja lagi, tiba-tiba muncul karena ada pendataan honorer. “Jadi, honorer yang sudah enggak aktif, tiba-tiba nongol. Mereka minta didata karena mengantongi nomor tes CPNS 2013 untuk formasi khusus honorer K2,” kata Dewan Pembina Honorer K2 Tenaga Administrasi Nur Baitih kepada JPNN.com, Selasa (9/8).

Nur menambahkan para pemilik nomor tes honorer K2 yang sudah tidak tahu di mana rimbanya, kini getol mendekati pemda. Mereka meminta didata karena punya kartu sakti itu.

Fakta lain diungkap Nur, bahwa saat ini permainan uang marak. Hal tersebut berdasarkan laporan yang diterimanya dari pengurus honorer K2 di daerah-daerah. “Ini saja ada yang membayar lho. Bukan cuma satu dua saja, tetapi cukup banyak,” ucapnya.

Munculnya honorer tidur, bodong alias siluman mengkhawatirkan Nur. Dia takut honorer K2 tenaga administrasi yang setia mengabdi sampai saat ini akan tersingkir dengan masuknya tenaga bodong.

Nur menegaskan jika keberadaan tenaga bodong itu terakomodasi, karena loss control, apalagi sudah rahasia umum para oknum pejabat pemda membalas budi kepada pendukungnya dengan menempatkan menjadi honorer. Kemudian mengarahkan mereka menjadi PNS maupun PPPK. “Yang jadi korban honorer K2 asli. Kami berharap Badan Kepegawaian Negara (BKN) memperketat pengawasannya agar yang bodong tidak lolos,” tegasnya.

Senada itu, Pengurus Perkumpulan Honorer K2 Indonesia (PHK2I) Kabupaten Garut Dudi Abdullah, permainan uang sudah sering terjadi setiap kali ada kebijakan pemerintah. Sayangnya, masih ada oknum-oknum pejabat pemda bermain sehingga datanya bisa dimanipulasi.

“Kami sih berharap kejadian 2013 tidak terulang lagi. Sakit hati rasanya karena sekitar 30 ribu yang lulus CPNS 2013 ternyata bodong,” ucapnya. Sementara itu, Pengurus PHK2I Pusat Eko Mardiono menegaskan munculnya tenaga bodong karena lemahnya sistem pengawasan.

Dia menyarankan agar data honorer diuji publik. Dengan uji publik, masing-masing honorer bisa menilai mana yang bodong dan tidak  “Tenaga bodong ini harus ditenggelamkan. Kalau mau jadi ASN, silakan lewat jalur umum, bukan honorer,” tegas Eko. (esy/jpnn)