Waspada! Musim Hujan Longsor dan Banjir Mengancam

Masyarakat, relawan dan Koramil Watumalang membersihkan material longsor yang menutup jalan raya Dusun Lamuk Desa Kalidesel menuju Dieng.
BERSIHKAN. Masyarakat, relawan dan Koramil Watumalang membersihkan material longsor yang menutup jalan raya Dusun Lamuk Desa Kalidesel menuju Dieng.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Masyarakat Wonosobo diminta untuk mewaspadai ancaman longsor pada musim penghujan tahun 2021. Pasalnya kejadian longsor merupakan kasus terbesar kedua setelah kebakaran, sehingga perlu ada perhatian dan deteksi dini dari semua pihak.

“Ada dua kejadian bencana yang patut diwaspadai, saat musim penghujan, yaitu longsor dan banjir,” ungkap Kalak BPBD, Bambang Triyono, usai penutupan latgab relawan bencana se Kabupaten Wonosobo di kompleks lapangan Watugong Kalierang.

Menurutnya, sejumlah upaya akan akan dilakukan oleh BPBD Wonosobo sebagai Langkah antisipasi, diantaranya melakukan pemantauan terhadap early warning system yang dipasang di sejumlah titik di Wonosobo, melakukan update kondisi prakiraan cuaca dan terakhir mengajak pemerintah desa dan kelurahan untuk memantau lingkungan dan bersih lingkungan.

“Sejumlah langkah akan kita lakukan dengan bantuan dari relawan, tim SAR dan juga pemerintahan di level bawah untuk bersama-sama memantau kondisi lingkungan, utamanya yang berpotensi terjadi banjir dan longsor,” ucapnya.

Dijelaskan kabupaten di pegunungan ini merupakan daerah rawan bencana yang cukup lengkap, diantaranya longsor, banjir, angin puting beliung, gunung meletus, gas beracun, kekeringan, dan kebakaran. Sehingga Wonosobo masuk dalam 5 besar rawan bencana di Jateng.

“Satu satunya ancaman yang tidak ada hanya tsunami saja, selebihnya ada semua, sehingga ini butuh sinergitas semua pihak,” ujarnya.

Sedangkan untuk kebakaran menjadi perhatian serius lantaran meski dimusim penghujan, kasus kebakaran di Kabupaten Wonosobo masih sering terjadi, hal itu diduga karena kondisi pemukiman serta arah angin.

Terkait dengan hal tersebut, latihan gabungan relawan bencana se Kabupaten Wonosobo untuk menyatukan dan menyamakan persepsi serta tindakan dalam melakukan mitigasi bencana, antisipasi bencana serta melakukan pertolongan jika terjadi bencana.

Artikel Menarik Lainnya :  Begini Cara Pria di Wonosobo Ini Menjual Samurai Palsu Hingga Belasan Juta Rupiah. Kini Ia Harus Pasrah Berurusan dengan Polisi

“Jadi selama ini semua relawan ingin di lapangan, padahal Ketika ada bencana, mereka harus berbagai tugas, maka dalam pelatihan itu kita disamakan persepsinya,” jelas mantan camat Kalikajar itu.

Sementara itu, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat mengatakan bahwa peran relawan bencana sangat penting dalam membantu meminimalisir resiko bencana, mengingat Kabupaten Wonosobo merupakan supermarket bencana.

“Relawan memiliki peran yang penting dalam membantu meminimalisir risiko dan melakukan pertolongan serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat,” ucapnya.

Pihaknya berharap, dalam menghadapi musim penghujan, BPBD dan pemerintahan desa serta kecamatan dibantu ribuan relawan akan melakukan upaya lebih jelas dan sistematis dalam menghadapi ancaman bencana alam

“ Semoga tidak terjadi, jika masuk penghujan, biasanya longsor dan banjir. Ini harus ada mitigasi yang lebih kuat serta sosialisasi deteksi dini yang lebih inten,”pungkasnya. (gus)