Warga Luar Daerah Sering Berziarah ke Makam Joko Nolo di Temanggung. Ada apa?

Makam serta Petilasan Joko Nolo yang terdapat di Dusun Tanggung, Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Kecamatan Temanggung ini kerap dikunjungi peziarah asal dalam dan luar daerah.(Foto: rizal ifan chanaris.)
Makam serta Petilasan Joko Nolo yang terdapat di Dusun Tanggung, Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Kecamatan Temanggung ini kerap dikunjungi peziarah asal dalam dan luar daerah.(Foto: rizal ifan chanaris.)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM Petilasan atau makam para tokoh penyebar agama Islam di zaman dahulu kerap ramai dijadikan sebagai lokasi sasaran para peziarah dari berbagai daerah. Selain memanjatkan doa, mereka meyakini bahwa dengan mendatangi tempat tersebut, spiritual mereka semakin tebal.

Seperti halnya Makam dan Petilasan Joko Nolo yang berada di Dusun Tanggung, Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Di hari-hari tertentu, lokasi ini didatangi para peziarah dari dalam maupun luar daerah.

Kepala Dusun Tanggung, Timbul Basuki (43) mengungkapkan bahwa Makam Joko Nolo berada di sebuah area dengan vegetasi rimbun, tepat di ujung dusun yang bersebalahan dengan lahan persawahan milik warga.

Ia menceritakan, lokasi tersebut memang kerap dikunjungi para peziarah lantaran memiliki nilai histori tinggi dan terdapat peninggalan-peninggalan bersejarah di dalamnya.
“Tidak hanya dari desa dan kecamatan lain di Temanggung. Banyak juga peziarah yang berasal dari luar daerah, salah satunya Semarang,” jelasnya, Minggu (6/3).
Dijelaskan, bahwa sosok Joko Nolo sendiri dahulu merupakan murid dan santr

dari Syech Maulana Maghribi yang kini dimakamkan di sekitar Pantai Parangtritis Provinsi DIY. Ia diperintahkan kala itu untuk menyebarkan ajaran agama Islam di lereng Gunung Sumbing.
Selama itu pula, ia membuka kawasan hutan belantara yang pada akhirnya dijadikan sebagai lahan pemukiman penduduk. Hingga pada akhir hayatnya dimakamkan di Dusun Tanggung dan dikenal menjadi pepunden oleh warga setempat.

Berdasar cerita turun-temurun, lanjut Basuki, ada beberapa versi yang menjadi sumber dan referensi darimana sebenarnya asal Joko Nolo.

“Antara lain ada yang menyebut beliau berasal dari Yogyakarta, ada yang bilang dari Cirebon Jawa Barat, ada juga yang menceritakan bahwa Joko Nolo sebenarnya berasal dari Demak Bintoro. Namun yang jelas ia adalah tokoh agama yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah lereng Gunung Sumbing,” imbuhnya.

Tak hanya pemakaman saja, di dalam area lokasi ini juga tersebar benda-benda peninggalan sejarah yang diduga berasal dari era Mataram Kuno. Mulai batu umpak, batu bata merah berusia ratusan tahun, hingga batu-batuan lain berbentuk balok.
Bahkan terdapat pula batu-batu lumpang kuno yang tersebar di areal persawahan, pemandian umum warga, hingga rumah-rumah penduduk.

Menariknya, di pemakaman ini juga terdapat sebuah batu umpak yang di dalamnya dihuni seekor kalajengking kecil. Hewan berbisa satu ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan jumlahnya tidak berkembang.

“Ya cuma seekor itu. Ukurannya kecil dan hidup di celah tumpukan batu umpak kuno. Dulu pernah dibunuh dan dibuang. Tapi lagi-lagi ada di tempat yang sama dan sejak dulu ya itu, ukurannya kecil dan tidak berkembang menjadi koloni,” ungkapnya.
Sementara itu, Junarto (45), salah seorang warga setempat mengaku bahwa sebenarnya tempat ini sangat strategis menjadi tujuan wisata ziarah. Selain sejarah Kyai Joko Nolo sebagai penyebar agama Islam, di tempat ini juga tersebar peninggalan bersejarah, berikut cerita turun-temurun di dalamnya.

Bahkan, setiap Jumat Kliwon di Bulan Suro dalam penanggalan masyarakat Jawa, warga setempat rutin menggelar khaul dan doa bersama sebagai wujud peringatan terhadap pepunden mereka.

“Selain warga sekitar, banyak juga peziarah yang datang ke sini. Mereka berdoa dan mujadahan di tempat ini. Saya dan warga lain secara rutin membersihkan sekaligus merumat makam pepunden kami,” imbuhnya.

Kendati demikian, warga mengakui bahwa terdapat kekurangan untuk menjadikan lokasi ini menjadi kawasan wisata sejarah atau ziarah. Mulai dari akses jalan, fasilitas pendukung, hingga literasi sejarah dari dinas terkait setempat.

“Kami berharap agar pemerintah setempat melalui dinas terkait memberikan perhatian ke lokasi bersejarah ini. Karena belum pernah ada ahli sejarah yang meneliti secara pasti temuan-temuan di sini. Syukur-syukur ada pihak yang membantu membangun fasilitas dan akses jalan di tempat ini biar bisa menjadi lokasi wisata serta situs peninggalan sejarah,” harapnya. (riz)