Walikota : Semangat Muda Bersatu Lawan Corona

Foto waikota-wakil walikota
Foto waikota-wakil walikota

MAGELANGEKSPRES.COM,WALIKOTA Magelang, Sigit Widyonindito mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peringatan Hari Jadi ke-1114, tanggal 11 April sebagai bahan refleksi dan intropeksi diri. Menurutnya, momen hari jadi sangat positif jika ditambahi dengan kolaborasi wujudkan visi-misi Kota Magelang sebagai kota jasa yang modern dan cerdas dilandasi masyarakat sejahtera dan religius.

Perayaan Hari Jadi Kota Magelang tahun ini memang sangat berbeda berbeda dengan sebelumnya. Perayaan yang setiap tahun digelar dengan penuh suka cita, khusus sekarang berganti ‘sunyi’. Tanpa malam tirakatan, karnaval kirab budaya, apalagi gerebeg getuk yang biasanya disambut dengan gembira oleh warga.

Hari ini, tepat Kota Magelang berusia 1114 tahun. Kota Magelang memang secara historis termasuk kota tertua kedua di Indonesia. Kota Magelang hanya kalah tua dengan Palembang.

Secara resmi, hari jadi Kota Magelang ditetapkan tanggal 11 April 907 berdasarkan prasasti Mantyasih, dan kajian sejumlah akademisi, pakar sejarah, dan ahli arkeologi.

Tidak hanya itu, mengenai penetapan hari jadi juga dilengkapi data dari berbagai peneliti baik di museum nasional Jakarta maupun di museum lainnya.

Dengan peradaban yang tinggi, Magelang dikenal sebagai daerah yang kaya akan potensi SDM-nya. Ini didukung dengan slogan Magelang sebagai Kota Jasa, sehingga sektor jasa ini menjadi unggulan perekonomian daerah.

Walikota Sigit juga mengajak masyarakat semua kalangan untuk berkomitmen dengan penuh kesungguhan, dan kerja keras menggali dan mengembangkan segala potensi yang ada, agar ke depan Kota Magelang kian maju dan sejahtera.

Di masa kepemimpinannya, kemajuan pembangunan di berbagai bidang terus diperluas, kualitas sumber daya manusia ditingkatkan, partisipasi masyarakat diperkuat, prestasi diperbanyak, pelayanan masyarakat di berbagai sektor pun konsisten dioptimalkan.

”Ini semua mewujudkan visi Kota Magelang sebagai kota jasa yang modern dan cerdas dilandasi kehidupan masyarakat yang sejahtera dan religius,” imbuh Sigit.

Usia Kota Magelang, memang tak muda lagi, namun semangat aparatur sipil negara (ASN) dan seluruh masyarakat tetap harus muda dan membara.

Lantaran tuanya kota ini, Sigit dan jajaran Pemkot Magelang punya komitmen kuat ke depan membuat destinasi baru yakni wisata heritage. Hal ini karena dukungan kekayaan sejarah yang ada, di antaranya museum, budaya, peninggalan, makam tokoh agama, kesenian, kuliner, dan lain sebagainya.

Dia berharap, destinasi wisata yang hendak digarap secara serius ini mampu membangkitkan perekonomian masyarakat. Sigit juga menyebut bahwa sejauh ini, pertumbuhan ekonomi di Kota Sejuta Bunga cukup tinggi. Pada tahun 2018 sebesar 5,59 persen dari 5,42 persen pada tahun 2017. Sedangkan pada tahun 2016 sebesar 5,18 persen.

”Tahun ini kita targetkan peningkatan ekonomi 6-7 persen. Namun karena adanya pandemi virus corona, diperkirakan tidak mencapai itu. Untuk itu, saya mengajak semua elemen masyarakat tanpa terkecuali, untuk berdoa semoga wabah ini segera berakhir,” ucapnya.

Kembali membahas soal kota tua, Sigit menilai bahwa Kota Magelang sangat kaya akan bangunan-bangunan bersejarah. Bahkan kekayaan tersebut menjadikan kota ini termasuk daerah dengan jumlah museum terbanyak.

”Banyak sekali museum di sini. Ada Museum Diponegoro, Abdul Jalil, Museum Jenderal Sudirman, Museum BPK RI, Museum Bumi Putera, dan lain sebagainya. Ke depan akan kita rumuskan pariwisata heritage ini, sehingga bisa dijadikan peluang untuk peningkatan perekonomian baru masyarakat,” jelasnya.

Dia juga menaruh perhatian terhadap upaya promosi Kota Magelang. Menurutnya, promosi menjadi kunci untuk mengenalkan potensi pariwisata. Dirinya juga berharap, Kota Magelang ke depan bisa menjadi sentralnya daerah-daerah se-eks Karesidenan Kedu.

”Tugas kita adalah bagaimana masyarakat seperti Kabupaten Purworejo, Wonosobo,Temanggung, Magelang Kabupaten, dan lainnya, bisa datang jalan-jalan ke Magelang. Mereka tidak hanya menikmati kuliner tapi juga membeli hasil produk UMKM kita sehingga ada sisi keuntungan para pelaku usaha kita,” paparnya.

Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina berujar bahwa di daerah ini banyak makam-makam tokoh pemuka agama. Ditambah dengan budaya masyarakat yang masih mempertahankan kearifan lokal seperti ”nyadran”, ”grebeg”, dan lainnya.

”Makam-makam pemuka agama beberapa sudah digarap. Termasuk yang terbaru adalah Makam Kyai Dudo. Yang sudah lama ada Makam Syech Subakhir, Kyai Sepanjang, dan lainnya menjadi daya tarik dan ribuan orang datang tiap bulannya,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Magelang, Joko Budiyono menambahkan bahwa tak hanya pariwisata yang punya peluang besar, kuliner dan UMKM pun dirasa berpotensi tumbuh pesat. Para pelaku UMKM, katanya, bisa menyokong perekonomian lebih meningkat lagi. Apalagi jika dilakukan pemberdayaan secara intensif.

”Skema pemberdayaan para pelaku usaha kecil ini menjadi urgensi Pemkot Magelang. Dengan harapan, ketika semuanya sudah berjalan, maka bisa mengurangi angka kemiskinan dan sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya,” tuturnya. (pro/kotamagelang)