Usulkan Jadi Pahlawan Nasional, Trah HB II Minta Dukungan Bupati Wonosobo

KELUARGA. Trah keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono II melalui Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menggelar audiensi dengan Bupati Wonosobo.
KELUARGA. Trah keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono II melalui Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menggelar audiensi dengan Bupati Wonosobo.

WONOSOBO,MAGELANGEKSPRES.COM Trah keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono II melalui Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menggelar audiensi dengan Bupati Wonosobo. Mereka meminta dukungan untuk pengajuan HB II sebagai pahlawan nasional.

“Dukungan dari Pemkab Wonosobo ini penting, mengingat Sri Sultan Hamengku Buwono lahir di Desa Pagerejo Kecamatan Kertek Wonosobo, lereng Gunung Sindoro,” ungkap Ketua Yayasan Biijana Paksi Sitengsu, R Fajar Purwanto saat audiensi dengan Bupati Wonosobo, kemarin.

Bupati menerima audiensi didampingi Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kadinsos PMD), Harti, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Wonosobo Fahmi Hidayat dan  Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Kabag Prokompim) Satriyatmo.

Menurutnya, pengajuan HB II menjadi pahlawan nasional didasari oleh sejumlah hal. Diantaranya sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur, menyebarkan sejarah perjuangan HB II melawan kolonial dan mengajak generasi sekarang meneladani perjuangan serta sikap tegas terhadap penjajah.

“Selain itu, ini juga akan membuka fakta sejarah bahwa di masa kecilnya HB II pernah melalui masa kecilnya di lereng Gunung Sindoro Wonosobo,” ucapnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah daerah Wonosobo memberikan masukan dan arahan dalam pengajuan usulan HB II sebagai pahlawan nasional.

Sementara itu, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyambut baik atas inisiatif trah Kraton Jogja dalam upayanya mengajukan  sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II sebagai pahlawan nasional.

Afif meminta kepada tim riset daerah untuk meneliti secara detail dan mendalam  terkait sejarah lahirnya Sri Sultan HB II atau yang sebelumnya bernama Raden Mas Sundoro di lereng Gunung Sindoro, sehingga mampu menghasilkan bukti sejarah yang berkualitas.

“Kami meminta kepada tim dan unsur terkait untuk menggali dan meneliti secara mendalam sampai  akar-akarnya sehingga didapatkan rekomendasi informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik secara luas.  Selain itu saya minta diadakan diskusi terbuka dengan menghadirkan tokoh sejarah yang benar-benar memahami seluk beluk kesejarahan,” kata Afif.

Sementara itu, Filolog Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus peneliti sejarah keberadaan HB II, Mahnu Widyo Seputro menjelaskan, HB II lahir dan tumbuh dewasa di Lereng Gunung Sindoro sebelah barat dengan nama Raden Mas Sundoro, yang pada akhirnya diangkat menjadi raja Yogyakarta dengan nama Sri Sultan Hamengku Buwono II, menggantikan  ayahnya yang bernama Sri Sultan Hamengkubuwana I.

“HB II Menyusun Undang-Undang yang disebut Paugeran Serat Suryo Rojo, namun sampai saat ini masih menjadi misteri karena tak satupun orang yang bisa membacanya. Saya mendapat dari naskah babad Jogjakarta jilid 1 yang belum tergarap dengan baik, upaya kami adalah berjuang untuk beliau agar mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, ini didasari jiwa nasionalismenya melawan penjajah semasa hidupnya,”  tandasnya. (gus)