Usai Lebaran, Industri Tekstil Bakal Bertumbangan

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Di tengah kondisi berat saat ini sepertinya tak ada harapan lagi untuk industri tekstil bisa bertahan. Pasalnya, imbas pandemi Covid-19 telah memukul produksi, apalagi ditambah dengan adanya larangan mudik tahun ini oleh pemerintah. Ya, industri tekstil tak ada lagi pemasukan dari momen Lebaran Idul Fitri, dan setelahnya akan banyak yang gulung tikar.

Keresahan itu disampaikan oleh pengusaha teksil yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). “Lebaran tahun ini tak ada harapan bagi kami. Pasar sudah sudah sepi dari jauh-jauh hari karena wabah Covid-19,” ujar Sekretaris Eksekutif API, Rizal Rakhman, kemarin (26/4).

Terpuruknya industri tekstil pada 2020 merupakan yang terparah dibandingkan dengan krisis monter pada tahun 1998 silam. Saat ini produksi tekstil turun drastis hingga 70 persen. Akibatnya, pelaku industri menanggung bebsar yang besar setiap bulannya. “Tahun ini titik nadir, lebih parah dari tahun 1998. Mungkin kami akan habis (tutu) usai Lebaran. Yang bertahan paling hanya sedikit sekali,” katanya.

Kondisi demikian, lanjut dia, industri tekstil telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan pekerja kepada 1,98 juta pegawai. Jumlah tersebut mencapai 70 persen dari total tenaga kerja di industri TPT yang jumlahnya sekitar 2,7 juta orang. “Tak ada lagi pemasukan lagi karena enggak bisa jual barang. Sementara kewajiban tetap berjalan seperti bayar listrik, tenaga kerja, BPJS, dan bunga bank. Kondisi ini sangat berat,” tuturnya.

Kendati demikian, lanjut dia, masih ada industri tekstil yang bertahan. Hal ini karena ditolong oleh peralihan melakulan produksi masker dan Alat Pelindung Diri (APD). “Dari 2.500 industri garmen menengah besar Indonesia, mungkina tak lebih dari 30 perusahaan besar yang bisa produksi APD,” ucap dia.

Peralihan itu tak cukup untuk menyelamatkan industri tekstil. Artinya, secara nasional tak lebih dari 3 persen yang bisa memproduksi makser dan APD. “Jadi secara nasional enggak signifikan untuk mendongkrak industri tekstil. Ya, hanya beberapa saja yang bisa memproduksi,” katanya.

Oleh karennya, ia mendesak pemerintah memberikan stimulus kepada industri garmen. Di antaranya keringanan tagihan listrik dan kredit perbankan. “Kita minta penghapusan rekening minimum atau beban jam menyala itu 40 jam. Selain itu, kita minta ada relaksasi pembayaran bunga untuk industri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) memberi stimulus kepada perbankan sehingga industri garmen bisa mendapatkan relaksasi untuk pembayaran bunga,” papar dia.

Terkait stimulus yang diberikan pemerintah tentang relaksasi Pajak Penghasilan (PPh), menurutnya tak berpengaruh dan tak bisa menyelamatkan industri garmen. “Kita enggak punya penghasilan, apa yang mai dipajakin. Jadi stimulus untuk industri manufaktur dan tekstil tak efektif,” ujar dia.

Terpisah, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna mengatakan, larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah cukup baik untuk memutus mata rantai penyebaran corona. ” Larangan mudik akan mengurangi konsumsi rumah tangga, meningkatkan kemiskinan baik kota dan desa. Namun, hal itu tidak masalah jika Covid-19 bisa kita hambat penyebarannya,” ujarnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (26/4).

Menurut dia, tak semua industri tekstil mengalami kerugian. Ada beberapa industri garmen yang meraup keuntungan di tengah penyebaran corona ini. “Untuk industri tekstil yang akan bertahan yang mampu beradaptasi dengan memproduksi APD dan masker secara masif. Sebab, kebutuhan APD dan masker sangat tinggi,” katanya.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan adanya larangan mudik Lebaran 2020 akan berimbas salah satunya pada industri garmen dan tekstil. Itu karena daya beli masyarakat akan turun drastis.”Lebaran tahun ini akan berbeda dengan lebaran sebelumnya,” tukasnya.(din/fin)