Unik, Pelukis Temanggung ini Mengekspresikan Karyanya dengan Kopi Lokal

Unik, Pelukis Temanggung ini Mengekspresikan Karyanya dengan Kopi Lokal
Tri Raharja, salah seorang seniman lukis asal Kabupaten Temanggung yang menciptakan karya seni lukisan dengan metode pewarnaan berbahan dasar kopi. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Kopi, siapa yang tak mengenal minuman yang satu ini. Hampir semua kalangan dari usia muda hingga tua menyukainya. Secangkir kopi adalah teman yang lengkap di semua waktu. Kala pagi, siang, sore, ataupun malam hari.

Kopi bisa dinikmati dalam rasa pahit maupun manis dengan tambahan sedikit gula hingga krimer. Kini tiap daerah memiliki kopi dengan citarasa khasnya masing-masing. Tak terkecuali Kabupaten Temanggung. Selain dicap sebagai penghasil tembakau terbaik dunia, daerah berhawa sejuk ini juga diklaim sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas tinggi di dunia.

Melihat perkembangan komoditas kopi asli Temanggung yang kian membanggakan dan digandrungi oleh banyak pihak, baik jenis Aracica maupun Robustanya, pantas rasanya apabila optimisme akan perkembangan ekonomi dari komoditas kopi kian membuncah di benak banyak pihak.

Tak sedikit yang berlomba meracik suguhan kopi berkualitas. Begitu pula dengan industri kreatif turunan yang menggunakan kopi sebagai bahan utamanya.

Salah satu yang melihat celah bagus dari kopi adalah seorang seniman lukis asal Kabupaten Temanggung bernama Tri Raharjo. Tergabung dalam komunitas bernama Catec atau Cah Temanggung Creative, ia menjadi pelopor karya seni lukis dengan metode pewarnaan berbahan dasar kopi.

Meski mengaku tengah merintis, namun berbagai karya seni lukisan berbahan kopi telah ia hasilkan sejauh ini. Salah satunya lukisan wajah Wakil Bupati Temanggung, Heri Ibnu Wibowo yang dibuat beberapa waktu lalu.

“Temanggung kan sekarang sedang ngetren kopinya. Banyak wilayah perkebunan di sini mampu menghasilkan kopi arabica maupun robusta berkualitas. Dari sinilah saya mencoba membantu mengembangkan kopi, tak hanya menjadi minuman, namun dikreasikan dalam bentuk lain yaitu lukisan. Ini adalah cara saya membantu mempromosikan kopi asli Temanggung,” jelasnya, belum lama ini.

Meski unik,namun metode melukis menggunakan pewarna berbahan kopi, lanjut Tri, tak berbeda jauh dari lukisan pada umumnya. Namun, warna yang dihasilkan hanya cokelat kekuning-kuningan saja, tidak bisa berwarna-warni.

Agar warna kopi tidak mudah luntur saat ditorehkan dalam kanvas putih, ia mencampurnya dengan bahan cat khusus sebagai perekat hingga lukisan mampu bertahan dalam jangka waktu lama.

“Memang kesulitannya adalah pewarna kopi tidak bisa hanya dicampur air saja. Harus ditambah bahan lain, yakni cat khusus sebagai perekat warna dalam kanvas sehingga awet,” imbuhnya.

Tak hanya nilai estetis semata, menurutnya lukisan dengan metode pewarnaan berbahan dasar kopi juga memiliki nilai filosofis tersendiri yang sangat mendalam.

“Kopi memang biasa dinikmati dalam citarsa pahit. Akan tetapi, ampasnya saja bisa berubah menjadi manis apabila dituangkan dalam selembar kanvas dengan sentuhan nilai artistik seni. Saya akan terus mengenalkan seni lukis berbahan kopi kepada masyarakat secara lebih luas,” pungkasnya. (riz)