Tren Wisata di Masa Pandemi, Skala Kecil dan Tematik

MONITORING. Direktur Even Daerah Kemenparekraf, Reza Fahlevi didampingi Sekda Wonosobo dan sejumlah pelaku wisata melakukan monitoring ke Desa Wisata Reco, Telaga Bedakah dan Blembem Tlogojati.
MONITORING. Direktur Even Daerah Kemenparekraf, Reza Fahlevi didampingi Sekda Wonosobo dan sejumlah pelaku wisata melakukan monitoring ke Desa Wisata Reco, Telaga Bedakah dan Blembem Tlogojati.

MAGELANGEKSPRES.COM, WONOSOBO – Pariwisata Wonosobo harus kreatif dalam mengambil peluang di masa pandemi covid 19. Pasalnya tren wisata di tengah pandemi akan mengarah pada wisata yang memiliki pengalaman menarik, lebih tematik dan hadir dalam skala kecil.

“Wonosobo punya destinasi yang bagus. Hanya saja perlu usaha yang lebih kreatif untuk menarik wisatawan, sebab tren wisata ditengah pandemi, akan hadir dalam skala kecil lebih tematik, personal dan menarik,” ungkap Direktur Even Daerah Kemenparekraf, Reza Fahlevi.

Menurutnya, Reza, Wonosobo punya potensi alam. Harus dikembangkan dalam sebuah produk wisata, yang diminati wisatawan. Harus mampu mengemas, di era pandemi untuk mempersiapkan ekosistem pariwisata yang ada, sehingga ketika memasuki masa normal sudah siap.

“Saya sudah melihat langsung beberapa titik, wisata seperti di desa wisata reco, blembem dan telaga bedakah. Masyarakat antusias, tinggal penguatan lebih lanjut sehingga memiliki daya tarik. Ada kesenian, ada pendakian dan ada kopi, dan wisata rohani, sebenarnya itu akan memberikan experience yang menarik bagi wisatawan,” katanya

Kondisi tersebut sebenarnya mendukung para pelaku wisata di Wonosobo untuk lebih kreatif dan inovatif menjaring wisatawan yang sedang tren atau diminati di era pandemi, yaitu skala kecil, mereka akan hadir dalam jumlah sedikit.

“Lebih kecil lebih tematik, personal, dan menarik, itu yang sedang diminati,” katanya.

Pihaknya menyatakan pelaku wisata dan masyarakat, harus mampu menggali nilai-nilai sejarah, menarasikan menjadi story telling, dan itu akan menjadi lebih bernilai, daripada sekedar foto-foto atau selfie.

“ Untuk wonosobo, kami siap membantu, baik dari sisi penyelenggaraan event dan juga yang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, Agus Wibowo mengemukakan, akan melakukan pembenahan secara mendasar terhadap sistem kepariwisataan di kabupaten dingin ini. Dengan memperkuat, atraksi, amenitas, peran pemerintah dan manajemen.

Artikel Menarik Lainnya :  PTM Sudah Jalan, Vaksinasi Pelajar di Wonosobo Masih Cukup Rendah

“Wisata kita masih bergemuruh, para pelaku memberi banyak masukan, meski ini era pandemi, banyak yang perlu dibenahi, dan itu sangat mendasar,” katanya.

Menurutnya, pengembangan wisata di Wonosobo mendapatkan dukungan dari banyak pihak, terutama dari para pelaku wisata. Namun, di era pandemi covid 19 ini, dinas akan memanfaatkan untuk pembenahan infrastruktur dan sistem yang akan dijalankan. Terutama untuk kawasan lima Dieng baru.

“Untuk lima Dieng baru, kita akan memberikan tambahan cerita perjalanan wisatawan dari Borobudur, ceritanya tidak putus hingga Dieng,” ucapnya.

Pengembangan wilayah, Sapuran, Kalikajar hingga Kepil dan kawasan Sindoro Sumbing akan gandeng konsultan, memperkuat komunikasi dengan kemenparekraf serta merepro ulang buku tentang mata air peradaban.

“Kita akan dorong itu, seiring menyongsong limpahan dari borobudur, kita tidak masuk dalam poros limpahan awal, bukan juga di ring kedua, kita di ring ketiga kita karena faktor kendala utama aksesibilitas, jarak lama kita paling jauh. Sedangkan yang lain sudah terfasilitasi jalur tol,” katanya.

Terkait hal itu, pengembangan wisata yang sudah memiliki destinasi akan mengacu pada penguatan atraksinya, yaitu angkat budaya dan adat, kemudian amenitasnya, tidak  terburu buru buka destinasi, padahal belum punya WC dan parkir, kemudian memperkuat peran pemerintah dan tim manajemen. (gus)