Tradisi Turun Temurun Masyarakat

    NYADRAN. Warga Desa Cepit Kecamatan Bulu menggelar nyadran di salah satu tempat yang disucikan oleh masyarakat. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
    NYADRAN. Warga Desa Cepit Kecamatan Bulu menggelar nyadran di salah satu tempat yang disucikan oleh masyarakat. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

    Nyadran Bukan untuk Menyembah atau Mengagungkan-Agungkan Tempat Keramat

    Nyadran atau istilah lainnya Merti Desa (selamatan desa), masih menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Temanggung. Tradisi turun temurun selama ratusan tahun ini dilakukan menjelang bulan Ramadan.

    SETYO WUWUH, Temanggung

    MASYARAKAT di lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau ini mempunyai keyakinan sendiri-sendiri terkait dengan pelaksanaan nyadran, bahkan setiap desa sudah menetapkan hari tertentu di bulan tertentu untuk menjalankan tradisi nenek moyang mereka.

    Tidak hanya itu, setiap desa juga memiliki cara sendiri-sendiri dalam mempertahankan tradisi dan budaya adi luhung yang mereka jalankan. Ada yang menggelar nyadran dengan cara yang sederhana, ada juga yang megah dan dilengkapi dengan pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang kulit dan kuda lumping.

    Namun meskipun masyarakat memiliki tata cara dan keyakinan sendiri-sendiri dalam menggelar nyadran, tujuannya adalah sama yakni dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa Allah SWT atas berkat rahamat dan karunia yang telah diberikan.

    “Setiap desa mempunyai cara sendiri-sendiri, tapi intinya sama sebagai ungkapan syukur nikmat yang diberikan Allah SWT,” ungkap Wardiyanto salah satu tokoh desa di Desa Tlahab Kecamatan Kledung.

    Biasanya masyarakat di kabupaten penghasil tembakau ini melaksanakan nyadran dengan menggelar doa bersama sebelum tradisi sakral ini dilakukan keesokan harinya.

    Pada saat nyadran digelar, kudapan yang wajib dibawa  berupa ingkung ayam jantan, tumpeng, jajan pasar dan lauk pauk lainnya hampir dilakukan oleh semua masyarakat di Temanggung.

    Ingkung dan makanan yang dibawa ini biasanya dikemas dalam salah satu tempat yang sangat khas yakni tenong (terbuat dari anyaman bambu). Setelah didoakan biasanya makanan yang dibawa langsung dinikmati bersama-sama.

    Bahkan bagi masyarakat yang menggelar nyadran secara besar-besaran, mereka biasanya mengusung gunungan besar yang terbuat dari hasil pertanian masyarakat.

    Gunungan ini kemudian diarak keliling desa diiringi oleh masyarakat yang memakai baju radisional dan kesenian yang akan mengisi gelaran nyadran.

    “Selama pandemi ini tidak ada masyarakat yang menggelar nyadran secara besar, nyadran hanya digelar secara sederhana namun tujuan bisa tersampaikan,” ungkap Wardiyanto.

    Nyadran menjadi hari besar bagi masyarakat di Temanggung, setiap nyadran digelar, warga yang merantau di luar daerah dipastikan akan pulang kampung untuk mengikuti prosesi yang digelar hanya satu tahun sekali ini.

    “Lebaran saya belum tentu pulang, tapi kalau saat nyadran digelar saya pasti pulang. Bagi saya nyadran ini memang lebih memiliki makna yang sangat penting,” tutur Ahmad Nuryanto warga Kecamatan Kandangan.

    Saat nyadran digelar, dirinya bisa bertemu dengan keluarga, sahabat, teman kecil, tentangga sampai dengan mendoakan leluhur yang sudah mendahului mereka.

    “Tradisi nyadran sudah melekat, sejak saya kecil hingga sekarang berumur 53 tahun nyadran selalu digelar, momen-momen seperti ini sangat kami tunggu-tunggu,” tuturnya.

    Bagi Ahmad Nuryanto, nyadran hanyalah sebagai tradisi adi luhung yang wajib dijalankan, nyadran bukan salah satu tradisi untuk menyembah atau mengagungkan-agungkan tempat keramat atau benda lain.

    “Tidak hanya saya, nyadran ini hanya tradisi saja, sebagai masyarakat beragama kami tetap menyebah Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kalau saya karena beragama Islam ya tetap Allah tuhan saya dan Muhammad nabi saya,” tutupnya. (*)