Tradisi Baritan di Wonosobo, Menjaga Mata Air sebagai Sumber Kehidupan

TRADISI. Desa Maron Kecamatan Garung kembali menggelar tradisi baritan.
TRADISI. Desa Maron Kecamatan Garung kembali menggelar tradisi baritan.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Desa Maron Kecamatan Garung kembali menggelar tradisi baritan. Temanya Ngrawat Tradisi Ngrumat Panguripan. Puluhan bucu ingkung dan gunungan tersaji sebagai wujud syukur dalam momentum perayaan tahunan itu.

Tradisi Baritan sendiri dikenal sebagai tasyakuran yang dilakukan masyarakat yang hidup di pinggir Telaga Menjer itu. Tradisi ini dimulai dengan melakukan tasyakuran di beberapa sumber mata air. Dilanjutkan dengan melaksanakan unduh-unduhan atau festival bersama seluruh warga desa. Dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit di sekitar lokasi telaga menjer.

“Sebelum ini, kita pernah gelar kegiatan serupa pada tahun 2019 silam, tahun ini kita gelar dengan tema yang berbeda, yang disimbolkan dalam bentuk gunungan,” ungkap Ketua Panitia Baritan 2, Desa Maron garung, Muaris.

Menurutnya, Baritan telah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Desa Maron. Namun pada pelaksanaannya itu biasanya hanya dilakukan di dusun masing-masing, tidak disatukan dalam perhelatan besar tingkat desa.

“Kita satukan dalam satu agenda yang dikemas dengan cukup meriah. Sempat terhenti karena pandemi, dan tahun ini kita gelar lagi secara bersamaan,” ujarnya.

Dengan mengambil tema ngerawat tradisi, ngrumat panguripan ini tak lain untuk terus membumikan kebiasaan baik yang telah dilakukan secara turun temurun. Sekaligus sebagai wujud terimakasih masyarakat terhadap Tuhan atas limpahan rezeki yang telah diberikannya.

“Biasanya kita lakukan di bulan suro atau tahun baru hijriah sebagai wujud syukur kita atas limpahan rezeki yang tuhan berikan. Wujudnya dalam hasil bumi yang kita terima selama ini,” ujarnya.

Sedikitnya ada 46 gunungan yang dibawa oleh warga desa. Masing-masing perwakilan Rukun Tetangga (RT) di wilayah itu diminta untuk membawa hasil bumi yang telah diperolehnya. Ia berharap jika tradisi baritan ini bukan hanya sebagai sebuah agenda rutinan saja. Kedepan, pihaknya ingin jika tradisi ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan regional maupun nasional.

“Dan gunungan ini kan memiliki makna yang bagus. gunungan adalah simbol dimana kita hidup. Yang dikelilingi banyaknya pegunungan.Kita punya Telaga menjer yang sudah ada dan terkenal. Tinggal kita memasukkan acara ini menjadi salah satu paket wisata,” tutupnya. (gus)