TPA Sanggrahan Overload, DPRKPLH Temanggung Siapkan Sejumlah Strategi

TPA Sanggrahan Overload, DPRKPLH Temanggung Siapkan Sejumlah Strategi
Beginilah tumpukan sampah yang terus menggunung di TPA Sanggrahan Kecamatan Kranggan. Sampah adalah problem serius yang harus segera ditangani. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Temanggung mengklaim bahwa volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sanggrahan berada di Kecamatan Kranggan telah overload atau kelebihan muatan dan telah melewati batas normal usia pakai.

Kepala DPRKPLH Kabupaten Temanggung, Hendra Sumaryana, menyebut pihaknya tengah mencari cara efektif guna mengurai permasalahan tersebut. Pasalnya, secara tidak sadar problematika sampah merupakan bom waktu yang dapat memicu masalah baru apabila tidak segera diselesaikan.

“TPA Sanggrahan sejauh ini masih menjadi andalan kami dalam menampung sampah dari masyarakat di Kabupaten Temanggung. Namun demikian, lokasi ini sudah overload. Bahkan sudah melebihi batas usia pakai sejak tahun lalu karena memang batas pemakaiannya berlaku sekitar 10 tahunan saja,” jelasnya, Kamis (28/4).

Menurutnya, luasan lahan TPA Sanggrahan saat ini hanya sekitar 4,5 hektare dengan beban sampah masuk setiap harinya mencapai 120 ton, dan meningkat hingga 200 an ton di hari-hari tertentu seperti Lebaran. Dengan asumsi tiap orang menghasilkan 0,6 kg sampah per hari.

Sejatinya, lanjut Hendra, Pemkab Temanggung telah menyediakan 2,5 hektare lahan tambahan sebagai perluasan yang telah dibeli menggunakan APBD Temanggung. Namun demikian, pihaknya masih terkendala masalah anggaran yang saat ini pembiayaan tambahannya tengah diperjuangan dari DAK maupun APBD Provinsi Jawa Tengah.

“Satu-satunya cara yang kami lakukan adalah pintar-pintar menata sampah yang masuk, berikut langkah penguraiannya. Kita sejauh ini baru bisa fokus di TPA Sanggrahan. Sehingga wacana penambahan lokasi TPA baru di wilayah Temanggung Utara masih belum dapat terealisasi,” imbuhnya.

Kendati demikian, Pemkab Temangggung melalui DPRKPLH sejauh ini memiliki berbagai program dan langkah nyata guna mengurai problem sampah yang memang menjadi konsen nasional di berbagai kota/kabupaten se Indonesia.

Yakni melalui Gerakan Moral Temanggung Bebas Sampah yang direalisasikan ke dalam sejumlah program berbasis partisipasi warga masyarakat. Dari situ, diharapkan peran aktif warga agar dapat mengurai sampah dari tingkat sumber, yakni masing-masing rumah tangga.

Dengan semakin bijaknya masyarakat dalam mengurai sampah melalui langkah pemilihan dan pemilahan, baik jenis organik maupun anorganik, diharapkan terdapat beragam keuntungan ekonomis yang didapat. Termasuk dari proses daur ulang.

“Konsen kami adalah meminta peran aktif masyarakat secara masif agar mengurai sampai dari sumber utama, yakni lingkungan masing-masing. Sehingga volume yang masuk ke TPA bisa ditekan. Termasuk peran serta sekitar 70 an orang pemulung atau teman pemilah di TPA Sanggrahan yang terbukti mampu mengurangi volume sampah hingga 30 persen karena memang mereka hanya memilih sampah yang bisa dijual lagi untuk didaur ulang,” pungkasnya. (riz)