Tidak Hanya Senang-senang dan Menikmati Alam, Pendaki Gunung Sindoro Diajak Andil Konservasi Lahan Kritis

Pendaki Gunung Sindoro
Pendaki Gunung Sindoro

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Pendaki di Gunung Sindoro diajak untuk ikut andil dalam program konservasi lahan kritis, mengingat di gunung tersebut lahan kritisnya semakin memprihatinkan.

“Jadi tidak hanya senang-senang menikmati alam saja, pendaki kami ajak untuk terlibat langsung dalam program konservasi,” ungkap salah satu pengurus pos pendakian Gunung Sindoro Desa Kledung Riyan, Kamis (10/2).

Ia mengatakan, sejak tanggal 4 Febuari 2022 lalu jalur pendakian Gunung Sindoro melalui pos pendakian Desa Kledung sudah mulai dibuka. Namun pendaki yang akan naik ke puncak wajib mengikuti peraturan yang saat ini sudah mulai diterapkan.

Sejumlah aturan yang wajib ditaati oleh pendaki di antaranya, tidak menyampah saat melakukan pendakian dan ikut merawat tanaman pohon yang sudah ditanam di sepanjang jalur pendakian.

“Akan kami cek dulu barang-barang yang dibawa oleh pendaki, jika ada yang berpotensi menimbulkan sampah, akan kami catat dan saat turun wajib dibawa kembali, jika tidak ada sanksi tersendiri,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini pendaki menjadi salah satu ikon konservasi, peran penting juga dipikul oleh pendaki dalam program konservasi alam dan lingkungan karena pendaki identik dengan alam dan lingkungan.

Namun demikian sebenarnya kata Riyan, tanggung jawab konservasi bukan hanya pendaki saja, namun masyarakat pada umumnya.

“Kita mulai dari pendaki dulu, ke depan akan kami sosialisasikan betapa peting konservasi alam kepada masyarakat,” terangnya.

Menurutnya, lereng Gunung Sindoro bagian timur yang parah masih ada lahan-lahan kritis. Penyebab lahan kritis di sisi ini karena pada masa orde baru saat krisis moneter, pemerintah memberikan izin kepada masyarakat untuk membuka lahan di wilayah Perhutani.

“Masyarakat yang nakal memanfaatkan kesempatan ini untuk membuka lahan tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam,” tuturnya.

Di lahan-lahan tersebut, setidaknya sudah kembali ditanam 2.000 tanaman kayu keras. Penanaman dilakukan sejak akhir 2021 lalu, saat ini selalu dikontrol dan dimonitoring untuk mengetahui kondisi tanaman terkini.

Untuk pengadaan Grasindo mempunyai rumah bibit sendiri, selain itu juga didukung dari pihak lain seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Jenisnya macam-macam di antaranya, Bintami, beringin, puspa, rasamala, cemara gunung (lesus),” jelasnya.

Saat ini memang pendakian tidak begitu ramai, hanya dari mahasiswa pecinta alam, ekspedisi dan pengembara. “Memang kondisi cuaca masih cukup ekstrim, untuk sementara ini hanya pendaki yang sudah profesional saja yang kami izinkan untuk mendaki SIndoro,” tutupnya. (set)