Tidak Ada Ampun! Polisi Bekuk Pengguna Psikotropika di Temanggung

Barang bukti dan tersangka ditunjukan saat gelar perkara, kemarin. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
DITUNJUKKAN. Barang bukti dan tersangka ditunjukan saat gelar perkara, kemarin. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Kepolisian Resor (Polres) Temanggung terus memberantas peredaran obat-obatan terlarang, kali ini pengguna pil Riklona dan Alprazolam dibekuk dengan sejumlah barang bukti.

“Peredaran obat-obatan terlarang memang cukup memprihatinkan, oleh karena itu petugas kami terus berusaha membongkar peredarannya,” ujar Wakapolres Temanggung, Kompol Ahmad Ghifar saat gelar perkara, kemarin.

Tersangkanya, yakni KT (22) warga Dusun Jubug RT.04 RW.02 Desa Wanutengah Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung dibekuk di rumahnya.

“Tersangka tidak bisa mengelak, karena saat digeledah petugas menemukan sejumlah barang bukti yang menguatkan perbuatan tersangka,” terangnya.

Ia menyebutkan, barang bukti yang diamankan di antaranya 52 butir Riklona, 2 Clonazepam dalam kemasan warna silver,
2 butir Atarax, 1 Alprazolam tablet 1 mg dalam kemasan warna biru, satu unit handphone merk Redmi warna hitam dan uang tunai Rp400 ribu.

Kasat Resnarkoba Polres Temanggung AKP Bambang Sulistiyo mengatakan, tersangka KT melakukan perbuatan memiliki, menyimpan dan menggunakan psikotropika jenis Alprazolam dan Riklona.

Terungkapnya kasus ini setelah anggota Satres Narkoba mendapatkan informasi tentang peredaran dan penyalahgunaan psikotropika jenis Alprazolam dan Riklona di wilayah Temanggung.

“Anggota Satresnarkoba Polres Temanggung melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi bahwa peredaran dan penyalahgunaan obat-obatan tersebut dilakukan oleh tersangka KT,” jelasnya.

Petugas Polres Temanggung melakukan penggeledahan terhadap badan/pakaian serta barang bawaan tersangka KT menemukan barang bukti yang disimpan di dalam tas pinggang warna hitam.

“Tersangka KT mengakui riklona dan alprazolam tersebut miliknya dibeli secara online dari seseorang yang mengaku bernama B alamat Tangerang,” jelas Bambang.

Dikatakan, transaksi dilakukan dengan cara komunikasi melalui handphone/WhatsApp kemudian uang ditransfer. Psikotropika tersebut dikirim ke alamat tersangka melalui jasa paket.

“Tersangka juga mengaku barang-barang itu dipakai sendiri dan dijual ke teman dekatnya saja,” akunya.

Artikel Menarik Lainnya :  Bulan Dana PMI 2021 di Temanggung Tercapai 99 Persen dari Target

Tersangka KT melakukan tindak pidana tanpa hak memiliki, menyimpan dan/atau membawa Psikotropika atau menyalurkan Psikotropika atau menyerahkan Psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Primer Pasal 62, Subsider Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

“Ancaman hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp100.000.000,” sebutnya. (set)