Tetap Terapkan Protokol Kesehatan, Peserta Lokakarya ‘Sebar’ Bukan Hanya Warga Lokal

SEBAR. Lokakarya Seni Membaca Relief Borobudur (Sebar) di Borobudur, 
SEBAR. Lokakarya Seni Membaca Relief Borobudur (Sebar) di Borobudur, 

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Kegiatan di berbagai daerah berangsur dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan. Seperti Lokakarya Seni Membaca Relief Borobudur (Sebar) di Borobudur, Senin (10/8/2020), dengan pemantik Bambang Eka Prasetya (68).

Pesertanya tidak hanya dari lokal Magelang. Namun, dari berbagai wilayah dan profesi. Siapapun dapat mengikuti kegiatannya. Diadakan sesuai dengan permintaan calon pesertanya.

“Peserta hari ini paling jauh dari Sidoarjo (Jatim). Acara serupa akan diadakan kembali jikalau ada  request dari pengundang itu sendiri. Jadi prinsipnya siapapun tanpa ada batas usia. Dari TK hingga Guru Besar saya layani. Karena Borobudur yang semegah dan sekompleks itu sayang apabila tidak dikenal orang. Orang datang ke Borobudur ada yang sampai tujuh kali, 11x tapi untuk berfoto saja,” jelas Bambang.

Dinyatakan, acara semacam itu sebetulnya bukan rutin, tapi berdasar kesepakatan. Prinsipnya, ia yang diberi kesempatan untuk mengenal kisah relief Candi Borobudur.

“Untuk menceritakan tidak harus saya. Tapi bisa dari peserta, saya hanya menyiapkan ceritanya saja,” tutur Bambang.

Bambang juga mengaku bila acara yang diselenggarakan tersebut telah mendapat izin dari gugus covid. Peserta yang telah dibatasi dan penggunaan masker menjadi protokol kesehatan yang telah dilaksanakan.

“Acara dilaksanakan secara langsung karena kita sudah lapor untuk menyelenggarakan Kopdar terbatas dengan protokol kesehatan, sudah bawa masker. Memang sekarang sudah boleh (menyelenggarakan acara). Kita juga lapor ke komandan covid, apalagi daerah sini daerah aman,” pungkasnya.

Sih Utami (37) salah seorang peserta lokakarya yang berprofesi sebagai penulis mengungkapkan pesan dan kesannya. Ia berharap dengan mengikuti lokakarya ini, lebih banyak tulisan yang dihasilkan. Ceritanya akan disederhanakan sehingga mudah dimengerti anak-anak, khususnya anak difabel.

Artikel Menarik Lainnya :  Setelah 2 Tahun Berhenti, Kini Saatnya Air Mancur di Alun-alun Kota Magelang Kembali Menari

Baca juga
Pabrik Limbah Kain Perca di Tegalrejo Terbakar

“Saya ingin seni relief itu menjadi warisan buat anak-anak, nilai pesan moralnya dapat (dipahami). Saya ingin anak-anak berkebutuhan khusus punya teman, dan cerita dari relief ini pesanya bisa ditransfer ke jiwa mereka,” ujar wanita memakai kacamata ini.

Utami berharap buku yang ia ciptakan dapat membuat anak-anak berkebutuhan khusus berbesar hati. Buku yang akan ia tulis ini juga dapat membantu psikis orang tua agar tetap semangat. Tujuan utama penulisan buku ini adalah, agar kita mencintai budaya bahwa warisan kita tidak ternilai harganya.

Eko Sunyoto (48) founder Sanggar Kinara Kinari Borobudur merupakan salah pembawa cerita dalam acara tersebut. Ia membacakan naskah Romansa Manohara yang kemudian ia jadikan sebuah tarian.

“Salah satu yang saya pelajari selama ini, dan telah menjadi garapan tari saya yaitu kisah cinta Manohara. Kemarin di tanggal 15 Maret sudah saya gelarkan, (tarian),” ujar Eko.

Tarian yang diciptakan Eko terinsipirasi dari cerita yang berada di dalam relief. Alasan tersendiri ia mengikuti lokakarya ini adalah mau mempelajari sebuah nilai dari peninggalan leluhur.

Ia juga mengungku basicnya memang seorang penari yang terinsipirasi dari relief-relief yang ada di Candi Borobudur. (pkl3/Pkl5)