Tari Krenteg SMPN 1 Wonosobo Sabet Juara Jateng

SYUTING. Tim Tari SMP N 1 Wonosobo saat tengah syuting. Di masa pandemi, ada tantangan sendiri. Karena video yang dikirim harus sekali jadi dan tidak ada editing.
SYUTING. Tim Tari SMP N 1 Wonosobo saat tengah syuting. Di masa pandemi, ada tantangan sendiri. Karena video yang dikirim harus sekali jadi dan tidak ada editing.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Tari bertajuk Krenteg sajian siswa SMP N 1 Wonosobo sabet juara 1 Jawa Tengah dalam ajang FLS2N tahun 2021. Pengumuman tersebut disampaikan Pusat Prestasi Nasional Kementrian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, kemarin.

Tari Kreasi ini disajikan lima siswa meliputi, Aristya Manggala Anindita, Raissa Nurmala Putri, Rima Ardia Narulita, Gadisa Ayla Widiasari dan Shavina Tsany.

Seperti judulnya, Krenteg berasal dari bahasa Jawa yang berarti kehendak yang kuat. Tari ini bercerita kegigihan anak desa menuntut ilmu. Meski penuh rintangan dari akses transportasi, fasilitas pendidikan, namun dengan semangat dan gigih mampu gapai cita-cita.

Uniknya dari sajian tari ini, penggambaran situasi menggunakan properti pertanian berupa keranjang, rumah kecil yang memiliki dua muka untuk penggambaran situasi sebelum dan sesudah. Saat dirobohkan rumah menjadi jembatan perjalanan anak menuju sekolah.

Sri Puji Astuti Kepala SMP N 1 Wonosobo mengatakan, pihaknya bersyukur siswanya mampu menorehkan prestasi di Jateng.

“Kami bangga, semoga pekan ini latihan lagi dan bisa meraih juara satu nasional,” ujar perempuan berkerudung ini.

Menurutnya,  pada masa pandemi ini ada sejumlah tantangan dalam latihan siswa. Karena praktis selama pandemi, ekstrakurikuler tari tidak ada aktivitas. Sehingga hampir sebulan siswa digembleng untuk latihan.

“Anak anak kami dan orang tua wali  punya semangat. Dengan waktu yang pendek tiap hari berlatih,” katanya.

Sementara itu, Waket Prasudi Puger Pelatih Tari mengemukakan, pada masa pandemi ini tantangan beda dengan normal. Apalagi yang dikirimkan berupa video utuh tanpa edit. Sehingga penyajian para siswa harus kuat.

“Pengambilan gambar cukup lama. Kami ingin suguhkan terbaik. Saat tarian udah jadi. Eh, harus diulang tiba tiba ada bocor karena mobil atau orang lewat,” ujar guru tari yang sudah pernah pentas di Singapura dan Korea Selatan itu.

Artikel Menarik Lainnya :  16 Ibu Hamil Meninggal Karena Covid-19

Asisten Pelatih Paimin menambahkan, meski disajikan lewat video. Tantangan lebih besar dibanding pentas langsung. Karena hasil tarian harus tetap kuat, Wiraga ( gerak) , Wirama ( ketepatan irama), Wirasa ( penghayatan) di luar itu, kreativitas dan pesan harus terikat tema.

“Kita sering latihan dari sore sampai tengah malam. Beruntung anaknya memiliki semangat tinggi,”katanya.

Aristya salah satu penari mengatakan, meski mereka beda kelas. Dalam membangun kekompakan tim tari, usai latihan mereka saling koreksi dan memotivasi lewat grup Whatsapp.

“ Kami biasanya kalau di rumah masing masing meet up di grup. Seperti rapat, saling cerita, koreksi dan saling memberi semangat,”katanya. (gus)