Taman Kyai Langgeng Tak Terdampak Libur Panjang Imlek, Pengunjung Tetap Sepi

JURANG KOCO. Wahana baru Taman Kyai Langgeng, Jurang Koco yang sempat menjadi andalan tempat wisata plat merah itu, tak membuat angka kunjungan di tengah pandemi Covid-19 bertambah.

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Objek wisata Taman Kyai Langgeng yang menjadi kebanggaan Kota Magelang masih terdampak pandemi Covid-19. Meski ada hari libur panjang Imlek 2021, tingkat kunjungan masih tetap tidak sesuai harapan.

Sejak Januari 2021 terdapat kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga dua jilid dan dilanjut PPKM Mikro sampai 22 Februari, membuat jumlah wisatawan turun drastis. Tak pelak, perusahaan umum daerah (Perumda) ini masih mengalami kerugian yang cukup besar.

Direktur Umum Perusda Taman Kyai Langgeng, Slamet Maryono mengatakan, selama masa pandemi Covid-19, pihaknya mengalami kerugian sekitar Rp6,1 miliar. Hal ini mengingat tingkat kunjungan yang hanya tercapai 40,70 persen dari target.

“Selama tahun 2020, kita ditarget 390.019 pengunjung. Tapi, realisasi hanya 170.455 pengunjung. Tidak tercapainya target ini jelas karena ada pengaruh dari pandemi Covid-19 yang menghantam hampir di semua sektor, salah satunya pariwisata,” katanya, kemarin.

Dia menjelaskan, baru awal Juli 2020, Taman Kyai Langgeng dibuka kembali, namun dengan pembatasan secara ketat. Di antaranya, pembatasan jumlah kunjungan tidak lebih dari 30 persen kapasitas, pembatasan jam operasional hingga pukul 17.00 WIB, dan penerapan kerja karyawan dengan sistem shift (bergantian).

“Jadwal karyawan ini kita berlakukan 50 persen bekerja dan 50 persen tinggal di rumah. Setiap harinya dirolling,” katanya.

Sistem kerja bergantian ini, katanya, paling efektif diterapkan untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK). Konsekuensinya, pembayaran gaji karyawan TKL pun dikurangi sesuai dengan jumlah libur yang mereka dapatkan.

“Kami tidak bisa mempraktikkan sistem kerja dari rumah (WFH) dan kerja kantor (WFO). Karena di sini BUMD, bukan instansi Pemkot Magelang. Jadi, yang tidak berangkat atau pas giliran di rumah, kita kurangi gaji mereka secara proporsional,” ucapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Perhatian! Masuk Candi Borobudur Harus Memiliki Aplikasi PeduliLindungi

Slamet mengutarakan, saat ini PDOW Taman Kyai Langgeng memiliki 117 karyawan. Meski terdampak pandemi, manajemen tidak sampai melakukan PHK kepada karyawannya.

Baca Juga
Joko Budiyono Jabat Plh Walikota Magelang

“Pendapatan mereka hanya kami kurangi secara proporsional sesuai jadwal kerja lapangan. Meski sudah dikurangi, tapi tetap saja soal beban gaji masih menjadi masalah utama Taman Kyai Langgeng,” jelasnya.

Dia mengaku sampai saat ini, pihaknya belum menyetorkan hasil pendapatan kepada Pemkot Magelang. Sebab, dana perolehan penjualan tiket prioritas digunakan untuk biaya perawatan wahana, pemeliharaan, kebersihan, dan beban gaji karyawan.

“Kami belum berpikir untuk setor pendapatan asli daerah (PAD) ke Pemkot Magelang, tapi dimaklumi. Beban operasional kami saja, selama pandemi sangat tinggi, sedangkan pendapatannya masih sangat minim,” paparnya.

Menurutnya, Taman Kyai Langgeng tidak bisa disandingkan dengan tempat pariwisata yang dikelola perorangan maupun skala kecil yang justru kebanjiran pengunjung di masa pandemi ini. Sebab, kebanyakan pengunjung yang datang ke TKL, sebelum pandemi, mayoritas adalah masyarakat luar daerah Jawa Tengah.

“Sebanyak 70 persennya anak-anak sekolah, saat sebelum pandemi. Sedangkan 30 persennya masyarakat umum. Sekarang adanya pandemi, otomatis yang 70 persen ini tidak ada. Maka, andalan kami hanya yang 30 persen, dan itupun hanya masyarakat lokal, yang sebagian lebih memilih tempat pariwisata yang sedang hits,” ungkapnya. (wid)