Tahun 2040 Diperkirakan Wonosobo Kekurangan Air

NGOPI. Diskusi dan ngopi bersama bertajuk membangun konservasi berbasis ekonomi, secangkir kopi merawat bumi, di kompleks  Kantor Desa Larangan Lor, Garung.
NGOPI. Diskusi dan ngopi bersama bertajuk membangun konservasi berbasis ekonomi, secangkir kopi merawat bumi, di kompleks  Kantor Desa Larangan Lor, Garung.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM- Kerusakan lingkungan di Kabupaten Wonosobo, diperkirakan  akan berdampak kekurangan air pada tahun 2040. Namun upaya tersebut bisa dicegah dengan pola konservasi yang ramah lingkungan serta mendukung perbaikan ekonomi masyarakat.

“Beberapa waktu lalu saya menerima banyak informasi dari berbagai kalangan, pakar, akademisi termasuk ulama besar yang mengkhawatirkan kerusakan lingkungan di Kabupaten Wonosobo, utamanya di wilayah hulu,” ungkap Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat saat menghadiri diskusi dan Ngopi Bersama bertajuk Membangun Konservasi Berbasis Ekonomi, Secangkir Kopi Merawat Bumi, di komplek  Kantor Desa Larangan Lor, Garung.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut terkait dengan dampak dari kerusakan terhadap ketersediaan air di kabupaten pegunungan ini. Bahkan jika tidak dilakukan upaya perbaikan secara mendasar dalam pengelolaan lingkungan, diprediksi tidak sampai sampai 20 tahun, Wonosobo akan kekurangan air.

“Ini yang bicara ke saya Gus Muwafiq, kyai kondang, mengingatkan soal penyelamatan lingkungan, kalau tidak tahun 2040 Wonosobo bakal kekurangan air,” ucapnya.

Hal tersebut jelas miris mengingat Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai kabupaten di wilayah hulu sungai serayu yang tidak pernah mengalami kekurangan air. Apalagi banyak tangkapan air, banyak sungai serta curah hujan yang cukup tinggi menerpa nyaris sepanjang tahun.

“Namun saat ini kami optimis, ada upaya atau inisiasi dari masyarakat Wonosobo , dari akar rumput, terutama dari masyarakat yang hidup di kawasan penyangga Dieng yang sadar untuk melakukan konservasi lingkungan, pemkab harus mendukung upaya itu,” tandanya.

Sementara itu, Camat Garung Subiyantoro mengemukakan, Kecamatan Garung merupakan bagian dari kawasan Dieng, berulang kali memberikan tanda peringatan bahwa bumi harus segera diselamatkan, untuk itu kawasan perdesaan Margomarem ini layak dijadikan wilayah garapan bersama untuk mengatasi permasalahan lingkungan.

“Saya mendorong wilayah Garung yang dimulai dengan kawasan Margomarem ini menjadi wilayah garapan bersama untuk mengatasi permasalahan lingkungan,” ungkapnya.

Dijelaskan, kawasan Margomarem ini mulai diinisiasi tahun 2018 dengan melibatkan Desa Maron, Tlogo, Mlandi, Larangan Lor, dan Menjer, yang merupakan kawasan perdesaan di Kecamatan Garung.

Saat ini Badan Kerjasama Antar Desa bekerja sama dengan Kelompok Konservasi ABDI BUMI, LPTP Surakarta dan PT Tirta Investama Wonosobo berinisiatif untuk menggagas konsep konservasi berbasis ekonomi di wilayah Margomarem, yang diawali melalui kegiatan diskusi dan  penanaman pohon bersama untuk menyelamatkan lingkungan di Kawasan Perdesaan Margomarem, sekaligus mengkampanyekan model Konservasi Berbasis Ekonomi kepada masyarakat.

“Kita harapkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan akan melancarkan upaya-upaya konservasi yang sedang dilakukan,” katanya.

Sedangkan Kepala Kantor Pertanahan Wonosobo, Siyamto menyampaikan, sudah mengenal kawasan ini sejak lama, pada saat bergerak melakukan Reforma Agraria melalui penataan aset desa, sehingga pihaknya siap mendukung dengan program lanjutan.

“BPN berkomitmen akan mendukung kawasan Margomarem melalui program Akses Reforma Agraria (ARA),” katanya.

Menurutnya, program ARA yang akan mendukung program kawasan margo marem kecamatan garung merupakan the other side atau sisi lain dari program BPN untuk pemberdayaan yang akan diawali dengan kegiatan pemetaan sosial dengan sasaran awal 200 kepala keluarga

“Kami mendukung kawasan Margomarem dengan melanjutkan program reforma agraria melalui program Akses Reforma Agraria (ARA) yang secara konkrit melalui program pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya. (gus)