Sudah Masuk Musim Hujan, Lima Alat Pendeteksi Bencana di Wonosobo Malah Tidak Berfungsi

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Sebanyak 13 alat deteksi dini bencana longsor atau Early Warning System ( EWS) yang di pasang di lokasi rawan bencana di Wonosobo, di pantau oleh BPBD. Ditemukan 5 (lima) alat sudah tidak berfungsi atau rusak.

“Dari 13 EWS yang kita pasang, ternyata 5 diantaranya sudah tidak berfungsi, padahal saat ini curah hujan di wonosobo cukup tinggi dengan durasi cukup lama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan, upaya deteksi dini bencana alam tanah longsor akan terus diperkuat,” ungkap  Kepala Pelaksana BPBD, Bambang Triyono ketika ditemui di sela pantauan sejumlah alat deteksi dini Early Warning System (EWS) di Desa Tieng Kejajar, Minggu (7/11.

Menurutnya, BPBD sedang mempertimbangkan upaya penambahan sarpras strategis tersebut, salah satunya dengan menggandeng CSR BUMD/BUMN. Saat ini yang  masih berfungsi aktif tinggal 8 yaitu di Desa Pagerejo Kertek, Desa Pucungkerep Kaliwiro, Kalikarung Kalibawang, Medono Kaliwiro, Watumalang, serta Garung Lor,  Pulus dan Kalibening Sukoharjo.

“Sementara, 5 EWS terpasang lainnya dalam kondisi rusak,  yaitu di Desa Tieng Kejajar, Desa Ngasinan Kaliwiro, Dusun Gelangan dan Tripis Watumalang, serta 1 EWS lagi di Desa Pagerejo Kertek,” katanya.

Bambang mengaku pihaknya akan menambah dengan skema pengadaan alat di tahun mendatang, mengingat hampir semua wilayah Kab Wonosobo memiliki potensi rawan bencana tanah longsor. EWS merupakan alat peringatan dini apabila terjadi gerakan tanah yang berakibat longsor, sehingga warga yang berpotensi terdampak bisa mengambil langkah antisipatif demi menghindari timbulnya korban.

Di sejumlah wilayah, Bambang juga menyebut jajarannya telah memasang EWS baru, dengan harapan masyarakat lebih tanggap ketika alat EWS alarmnya berbunyi, yang artinya ada pergeseran tanah di wilayah sekitar alat tersebut.

Artikel Menarik Lainnya :  Dipamerkan di Bali, Kopi Asal Anggrunggondok Diminati 5 Buyer Besar

“Sistem pemantauan itu juga sederhana, yaitu dengan memanfaatkan aplikasi yang terpasang di smartphone berbasis android, sehingga lebih mudah apabila sewaktu-waktu ada pergeseran tanah bisa langsung terdeteksi untuk kesiapsiagaan masyarakat sekitar di radius 1 sampai 2 kilometer,” katanya

Pada tiap titik EWS, Bambang juga mengaku sudah menunjuk operator untuk mengakses setiap saat, baik melalui komputer maupun handphone android. Saat ini BPBD  sedang memetakan wilayah yang paling rawan dan berpotensi longsor untuk bisa dipasang alat detektor, meski memang secara umum hampir di semua wilayah Wonosobo berpotensi  longsor karena kondisi tanahnya yang labil dan letaknya di tebing-tebing.

Dengan sarpras di BPBD yang diakuinya minim, hambatan dalam penanganan kebencanaan menjadi lebih tinggi, sehingga kedepan BPBD akan mencari terobosan dengan menggandeng CSR  pihak BUMN, BUMD, Perbankan dan pihak swasta untuk bisa membantu mengadakan sarpras. (gus)