Sistem Tanam Jajar Legowo Dongkrak Produktivitas Padi Hingga 15 Persen Pada Musim Tanam Kedua di Purworejo

PANEN PADI. Kepala DPPKP Kabupaten Purworejo meninjau para petani yang sedang melakukan panen padi di Desa Tanjung Kecamatan Ngombol, kemarin. (foto: eko sutopo/purworejo ekspres)
PANEN PADI. Kepala DPPKP Kabupaten Purworejo meninjau para petani yang sedang melakukan panen padi di Desa Tanjung Kecamatan Ngombol, kemarin. (foto: eko sutopo/purworejo ekspres)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Sistem tanam Jajar Legowo berhasil mendongkrak produktivitas padi sekitar 10 hingga 15 persen. Kondisi tersebut diketahui saat para petani di Purworejo melakukan panen pada musim tanam kedua (MT 2) tahun ini.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan kelautan (DPPKP) Kabupaten Purworejo, Hadi Sadsila, menyampaikan bahwa sistem tanam Jajar Legowo adalah salah satu sistem penanaman padi di indonesia yang dilakukan dengan cara mengatur jarak antara benih pada saat penanaman. Sistem ini telah terbukti dapat meningkatkan hasil padi dibanding dengan penggunaan sistem tradisional.

“Sekarang dengan sistem tanam Jajar Legowo ini Alhamdulillah kelompok tani di Purworejo meraih peningkatan jumlah produktivitas padi hingga mencapai 10-15 persen,” katanya saat meninjau salah satu sawah milik petani di Desa Tanjung Kecamatan Ngombol, Rabu (29/6).

Pihak dinas sangat mengapresiasi para petani yang sudah menerapkan sistem tanam Jajar Legowo. Menindaklanjuti kondisi tersebut, pihaknya juga menggelar  Sekolah Lapangan (SL) bagi para kelompok tani di Kabupaten Purworejo.

“Pesertanya ada sebanyak 25 kelompok tani dari 21 desa yang ada di Purworejo,” sebutnya.

Diungkapkan, berdasarkan pengalaman biasanya petani hanya menghasilkan panen padi sekitar 12 ton per hektar ketika menggunakan sistem tradisional. Namun, dalam tiga bulan panen, para petani di Desa Tanjung produksi padinya meningkat hingga 14 ton per hektar dalam sekali panen.

“Apa yang kita lakukan lewat Sekolah Lapangan ini tentunya sudah seharusnya kita terapkan pada petani didaerah lainnya,” ungkapnya.

Keberhasilan program sistem tanam Jajar Legowo ini tidak terlepas peran dari penyuluh di Kabupaten Purworejo. Para penyuluh pertanian yang juga sebagai pendamping Sekolah Lapangan terus menyosialisasikan sistem tanam Jajar Legowo ini kepada para petani.

Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) DPPKP, Hartoyo, menyampaikan bahwa di Kabupaten Purworejo luas tanaman padi sekitar 30 ribu hektar. Dari jumlah itu, sebanyak 30 persen sudah menerapkan sistem tanam Jajar Legowo.

Guna menyosialisasikan sistem tersebut, pemerintah juga mendukung dengan menggelontorkan dana sekitar Rp3,1 Miliar dalam Progam Sekolah Lapangan.

“Berdasarkan Nota Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) antara Pusat dan daerah pelaksanaan kegiatan mulai tahun 2018,2019,2020 dan tahun 2022 dan baru terserap sekitar 2,2 miliar,” jelasnya.

Lebih lanjut disebutkan bahw Progam Sekolah Lapangan juga disuport oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD), sebuah badan dari PBB yang didirikan pada 1977 untuk merespons bencana kelaparan. Tujuan utamanya adalah untuk menyediakan pendanaan dan menggerakkan sumber-sumber tambahan untuk program-program yang khusus dirancang untuk pengembangan ekonomi wilayah miskin, terutama dengan mengembangkan produktivitas agrikultural.

Pihaknya berharap kelompok tani lain dapat mengikuti dan menerapkan program sistem Jajar Legowo karena arah pertanian sekarang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup petaninya, melainkan juga untuk meningkatkan ekonomi.

“Beberapa petani yang sudah menerapkan sistem baru ini antara lain di Kecamatan Bener, Loano, Purworejo, Gebang, Bayan, Kemiri, Ngombol dan Kutoarjo,” terangnya. (top)