Sim Salabim Abra Kadabra. HET Dihapus, Stok Minyak Goreng di Temanggung Langsung Membludak

Salah seorang pekerja kios sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani tengah menata minyak goreng kemasan
Salah seorang pekerja kios sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani tengah menata minyak goreng kemasan Jumat (18/3) (Foto: rizal ifan chanaris.)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Sim salabim abra kadabra. Itulah kata yang sekiranya tepat guna menggambarkan kondisi minyak goreng di pasaran. Bak pertunjukkan sulap, sesaat usai pemerintah melepaskan Harga Eceran Tertinggi atau HET, stok minyak goreng di pasaran tiba-tiba membludak.

Belum lama ini pemerintah menghapus harga eceran tertinggi (HET) dan menetapkan harga minyak goreng menyesuaikan mekanisme pasar, yakni berkisar antara Rp 22.750-Rp 25.450 per liter.

Berdasar pantauan Magelang Ekspres.com, berbagai kios dan lapak pedagang pasar rata-rata memiliki stok minyak goreng kemasan yang cukup berlimpah. Sebuah kondisi yang bertolak belakang saat subsidi oleh pemerintah diberlakukan, yakni Rp 14.000 per liter dimana saat itu kelangkaan minyak goreng terjadi dimana-mana.

“Aneh sekali, kemarin waktu harganya Rp 14.000 per liter sulit sekali saya mencari minyak goreng. Harus pesan dulu, antri dulu. Kalau saya kan pedagang gorengan, pasti butuh minyak goreng. Berapapun harganya. Sekarang harganya mahal banyak sekali barangnya. Tapi pengeluaran ya bengkak,” keluh Rohmadi (46), salah seorang pedagang gorengan, Jumat (18/3).

Salah seorang pekerja kios sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani tengah Temanggung menata minyak goreng kemasan

Sementara itu, Panji (29) salah seorang pemilik kios sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung mengaku usai HET dari pemerintah di lepas, pasokan minyak goreng kemasan di pasaran sudah kembali normal. Namun harganya kini berada di kisaran Rp 23.700 per liter. Dan Rp 47.900 untuk kemasan 2 literan.

“Sekarang barang sudah mulai ada. Katanya dari distributor minggu depan sudah disebar lagi. Sekarang sudah ada tapi jumlahnya masih belum seberapa,” jelasnya.
Lebih jauh ia menambahkan, saat ini kiosnya digelintor stok minyak goreng dari distributor sebanyak 1 rit berisi 700 karton masing-masing 12 botor per karton ukuran 1 literan.
Sedangkan saat masih diberlakukan HET, pihaknya hanya menerima maksimal 200 karton yang datang setiap seminggu sekali.

“Waktu harga masih Rp 14.000 per liter memang stok dibatasi untuk pemerataan katanya. Tapi sekarang sudah normal dan masyarakat bisa beli berapa saja jumlahnya,” urainya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan terbaru, harga minyak goreng di sejumlah minimarket sudah meroket hingga Rp 50.000 per kantong kemasan 2 liter atau Rp 25.000 per liternya. (riz)