SilaturNgopi, Ajak Diskusi Para Pecinta Sastra di Wonosobo

SilaturNgopi
PUISI. Agenda Silaturngopi bacakan dan bahas puisi-puisi dari sastrawan nasional hingga peserta diskusi, dihelat di Munggang Coffee

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Sebuah even perdana bertajuk Silaturngopi atau singkatan dari Silaturahmi dan Ngopi dihelat seorang penulis sekaligus akademisi Unsiq, Jusuf Amin N, di Munggang Coffee, Senin petang (25/11). Agenda yang juga dihadiri para seniman, budayawan, hingga penulis lokal Wonosobo itu menjadi sebuah ekspresi atas kurangnya asupan sastra, khususnya puisi selama ini.

Menurut Jusuf yang belum lama ini memenangkan anugerah Prasidatama, untuk kategori buku puisi terbaik se-Jawa Tengah oleh Balai Bahasa Jawa Tengah.

“Ini adalah kegiatan santai tapi ada muatan bahasan sastra untuk teman-teman agar termotivasi untuk terus berkarya. Kalau kegiatan semacam ini tidak ada maka nanti karya dari teman-teman kurang dikenal, juga jadi ajang untuk membedah calon karya yang akan dibukukan. Sehingga ada dialog bersama para pembaca sekaligus rekan-rekan penulis dan bisa mengembangkan ekosisetem yang mendukung para penulis lokal,” ungkap Jusuf.

Baca juga
Korban Keracunan Massal di Ponpes Miftahu Rosyidin Temanggung Bertambah, 71 Orang Dirawat di RS

Di agenda silaturngopi itu juga dibahas beberapa karya dari sastrawan nasional berikut dengan pembacaan puisi oleh para peserta. Ada juga sebuah reuni band yang mengusung musik etnis asal wonosobo, Siddhayatra. Menurut M Ihsanuddin, salah satu peserta sekaligus praktisi media, agenda itu ternyata banyak dirindukan masyarakat. Khususnya para praktisi yang menggeluti kepenulisan.

“Agenda ini meski digelar Senin malam, bukan sabtu malam, ternyata tetap banyak peserta. Hal ini membuktikan bahwa mayoritas mahasiswa butuh asupan diskusi seperti ini. Ajang seperti Silaturngopi juga sekaligus mengenalkan karya-karya baru dari para penulis lokal,” ungkapnya.

Kultur pondok pesantren sekaligus akademik di kawasan Munggang, Kalibeber juga menjadikan even itu dihelat secara bersahaja di sebuah warung kopi yang menyajikan buku-buku sastra untuk dibaca para pengunjungnya.

“Tidak banyak tempat ngopi yang peduli dengan bidang literasi apalagi menyediakan buku-buku berbobot seperti di tempat ini dan sesuai dengan kultur lokalitasnya, yaitu ponpes, santri, dan kampus,” imbuh peserta lainnya, Tongat Setiadi. (win)