Siapkan Pilkades Serentak 37 Desa di Temanggung, Panitia Ikuti Simulasi…

Siapkan Pilkades Serentak 37 Desa di Temanggung, Panitia Ikuti Simulasi...
Panitia Pilkades serentak di Kabupaten Temanggung tengah menggelar simulasi pemilihan di Pendopo Pengayoman, Rabu (2/3). Foto: rizal ifan chanaris.
TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Panitia Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades serentak di Kabupaten Temanggung melaksanakan proses simulasi pelaksanaan pemilihan dengan cara mempraktikan secara langsung di lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dilaksanakan di Pendopo Pengayoman, Rabu (2/3).
Proses tersebut dilakukan dengan tata cara baru mengingat saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19, sehingga terdapat ketentuan khsusus guna menghindari penularan virus Corona.
Sekda Temanggung, Hary Agung Prabowo mengungkapkan, proses pelaksaan pilkades serentak untuk kali ini berbeda dengan sebelumnya karena pertimbangan masih masa pandemi Covid-19, terutama di tahap pemungutan hingga penghitungan dan yang wajib harus memperhatikan protokol kesehatan.
Lanjutnya, terdapat sebanyak 37 desa di 14 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang rencananya akan menggelar pesta demokrasi di tingkat desa pada tanggal 30 Juni 2022 mendatang.
“Hari ini panitia melaksanakan bintek dan simulasi Pilkades di Kabupaten Temanggung, dan ini penting karena prosesnya berbeda karena situasi pandemi. Jadi, harus kita lakukan simulasi agar nanti bisa dilaksanakan dengan baik. Protokol kesehatan harus menjadi perhatian utama. Saya minta, nanti pilkades serentak ini harus berjalam tertib, aman, lancar dan sukses,” pintanya.
Adapun dalam simulasi tersebut dilakukan seperti saat pemilihan mulai dari pemilih datang kemudian oleh panitia di cek suhu tubuhnya, semua panitia menggunakan masker dan kaus tangan. Kemudian tinta yang dahulu di celup dijari kini cukup diteteskan atau disebut tintes (tinta tetes).
Sementara itu, Kepala Dinpermades Kabupaten Temanggung, Gema Artisti Wahyudi menuturkan, tujuan simulasi adalah untuk memberikan penjelasan kepada para pelaksana di desa yaitu panitia pilkades bagimana pemungutan suara di masa pandemi Covid-19.
Apabila dalam pelaksanaan pilkades sebelumnya yang belum memasuki masa pandemi, tidak ada bilik khusus, namun sekarang diatur sedemikian rupa.
“Sekarang yang sedang isolasi didatangi di tempat isolasinya kemudian dengan prokes ketat bersama Satgas, kemudian yang suhunya di atas 37 disendirikan karena rawan. Kemudian supaya di TPS tidak terjadi antrean pemilih maka dibedakan per TPS tidak boleh lebih dari 500 pemilih, supaya pelayanan di meja tidak antre,” urainya.
Di samping itu, lanjutnya, ada hal yang perlu diperhatikan oleh para petugas pemungutan suara, yakni ketegasan.
“Setelah memilih harus langsung keluar tidak menunggu supaya tidak ada kerumunan. Karena kita melakukan pencegahan terhadap penyebaran virus corona, seperti itu tujuannya. Jadi itu perbedaannya,” pungkasnya. (riz)