Siapa Membunuh Putri (19) – Jangan Mengadu Domba

Siapa Membunuh Putri (19) - Jangan Mengadu Domba
Ilustrasi polisi-Pixabay-Pixabay.com

Oleh: Dahlan Iskan

PULANG dari makan malam di kelong, di Watubesar, Inayah memintaku menemaninya kembali ke pesantren. Edo saya minta pulang sendiri. Di mobil, selama perjalanan ke Watuaji, Inayah bercerita banyak tentang rencana-rencananya mengembangkan pesantren, koperasi, dia bahkan punya ide bikin majalah dakwah.

”Redaksinya siapa?” tanyaku.

”Anak-anak pesantren. Kamu sudah lihat tulisan mereka kan?”

”Sudah, bagus-bagus. Beberapa dari mereka berbakat. Siapa itu? Indra sama Aidil itu yang paling berbakat.”

”Rodi juga. Anak dari panti dulu itu,” kata Inayah.

”Iya dia juga,” kataku. Tapi kuingatkan dia, untuk menerbitkan majalah tak hanya perlu penulis yang bagus. Perlu modal yang cukup untuk biaya cetak di tahun-tahun awal, perlu pengelola bisnis yang paham dunia media.

”Kan ada kamu, Bang Dur. Kamu terbukti berhasil membesarkan dua koran. Kata Ustad Samsu sih gitu. Iya kan?”

”Mau merekrut saya nih ceritanya? Bu Ustadzah Inayah investornya? Saya mau digaji berapa nih?” kataku menggoda dia.

”Saya paksa untuk kerja tanpa gaji. Mau?”

”Atau….,” kataku menggodanya dengan kalimat menggantung.

”Atau apa?” suara Inayah berubah manja dan balik menggoda.

”Atau, bayar saya dengan cintamu. Saya mau…,”

“Oh, kalau itu gak cukup dengan kerja gratis di majalah dakwah itu saja. Dan kontraknya harus sampai mati,… Berani?”

Kami terdiam. Hanya sekilas berpandangan lalu saling lempar mata ke arah lain. Aku menatap ke samping, Inayah menatap lurus ke depan.

”Sudah ada nama majalahnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

”Manzilah. Bagus kan? Artinya… peredaran. Garis edar,” kata Inayah.

”Bagus… Kata itu ada di Surah Yasin ya…”

Kami kembali terdiam. Sampai mobil berhenti di pesantren. Malam itu saya tidur di asrama pesantren. Saya tidur dengan sangat nyenyak. Tapi kata anak-anak santri, malam itu saya bermimpi. Saya seperti bernyanyi atau bersenandung. Saya tak pernah bermimpi begitu. Pagi-pagi ada sarapan tersedia untukku di kamar. Kata yang mengantar itu dari Ustadzah Inayah.

Saya minta Edo menjemput saya di pesantren. Sampai pukul 10 dia belum sampai. Sampai kemudian dia menelepon ke ponsel saya. Dia menelepon dari Polrestabes. Dia ditahan sejak malam kembali dari Kelong.

”Di Simpangkapal ada razia. Saya distop, mereka periksa mobil. Terus katanya ada ganja di mobil kita. Saya tak tahu mereka temukan di bagian mana. Saya pastikan itu bukan punya saya. Saya tak pernah pakai ganja, tak pernah berurusan dengan penjual ganja,” kata Edo.

”Oke, tunggu. Saya ke sana,” kata saya

Saya menelepon Bang Eel. Juga Bang Jon. Ferdy menelepon saya juga menanyakan soal itu. Dia juga serta-merta datang ke Polrestabes. Di ruang tamu Kasatnarkoba saya menemani Edo. Dia tak ditahan. Cek urine-nya bersih. Tadi juga dijelaskan tak ada sidik Edo jari di bungkusan plastik ganja yang disita polisi.

Sepertinya yang diincar malam itu saya, bukan Edo. Kata Edo, yang distop hanya mobil Dinamika Kota. Untung saja tadi malam Inayah mengajak saya ke pesantren.

”Saya sudah tahu trik polisi. Mereka kalau mau jebak kita pas razia, mereka suruh kita pegang barang yang katanya ditemukan di mobil kita, pura-pura tanya, ’ini apa?’ Ah, saya sudah hafal itu. Di mana-mana sama saja. Kalau kita pegang nah, kena kita, habis kita, ada sidik jari kita di situ,” kata Edo bicara setengah berbisik padaku.

Saya dipanggil ke masuk ke ruangan khusus menemui Kasatnarkoba Polres Bogram AKP Heru Rusdiyanto. Dia termasuk polisi senior. Karirnya berjalan normal, tak pernah melejit. Orangnya bersih. Ferdy datang, dia temani Edo di ruang tunggu.

Bang Eel, Bang Jon sudah ada di situ. AKP Heru menjelaskan razia malam itu bukan atas perintahnya. Itu razia liar atas suruhan eorang perwira terkait AKBP Pintor. Menurutnya, sudah lama ada kubu-kubuan di tubuh Polresta Borgam. Yang sekarang di atas angin adalah kubu yang dikepalai oleh AKPB Pintor.

”Saya ini netral. Saya tak suka kubu-kubuan. Saya selalu ingatkan Pak Kapolresta agar menghentikan itu. Tapi sepertinya beliau lebih mendengar suara lain,” kata AKP Heru.

”Kasus Putri ini sejak awal saya tahu penanganannya tak benar. Itu semua kelihatan di sidang kan, berantakan semua. Keluarga AKBP Pintor, terutama ibu mertuanya tambah bikin kacau,” kata AKP Heru.

”Jadi menurut Bapak kami harus bagaimana? Maksud saya di luar urusan pemberitaan. Kalau soal berita kami akan tetap seperti selama ini karena kami tak melanggar apa-apa,” kata Bang Eel.

”Terus saja memberitakan apa adanya. Akan ada mutasi besar-besaran,” kata AKP Heru.

”Kapolresta kita bertahan?” tanya saya.

”Masih nego kelihatannya. Kalau pun diganti momennya menunggu Hari Bhayangkara. Beberapa bulan lagi.”

”Nego apa ya, Pak Kasat?” tanyaku.

”Ada lah itu. Kita tunggu. Makanya agak kencang ini perlawanannya,” katanya, ”tunggu saja. Yang penting semuanya nanti yang terbaik buat kota Borgam kita ini.

Bang Jon keluar ruangan lebih dahulu. Kepada saya dan Bang Eel, AKP Heru mau bicara terkait kasus pembunuhan Putri. Ia menjanjikan bisa atur waktu ketemu dengan penyelidik dari Satreskrim yang pertama kali memeriksa TKP, rumah AKBP Pintor. Hasil penyelidikannya tak ada di BAP. ”Kalau itu masuk BAP akan jelas semuanya, akan berubah konstruksi kasusnya,” kata AKP Heru.

Pembicaraan kami hari itu tidak untuk diberitakan. Edo dibebaskan. Kasusnya tidak diberkaskan. Saya mengira itu bagian dari upaya menekan kami saja terkait kasus pembunuhan Putri. Sidang akan memasuki pembacaan putusan sela. Kuat kemungkinan sidang tak akan berlanjut, ke pembuktian, karena kurangnya bukti-bukti. Tim pembela yang diketuai Restu Suryono bekerja dengan cemerlang.

”Kenapa kau telpon Jon?” tanya Bang Eel, sesampainya kami di kantor. Edo saya suruh beristirahat. Semalaman dia tak tidur katanya. ”Saya panik, Bang. Saya telepon saja orang-orang yang saya pikir bisa bantu bebaskan Edo,” kataku. Bang Eel tak bicara lagi.

Saya pun langsung bekerja. Membacai semua koran lokal dan koran nasional yang selalu datang agak siang. Nurikmal datang dengan berita bagus. Ia memotret iring-iringan mobil yang subuh-subuh diangkut ke pelabuhan tikus di Pulau Golong. Menurut info penduduk di sekitar situ, sudah berhari-hari kegiatan itu dilakukan.

”Mau dibawa ke mana?” tanyaku.

”Itulah yang sedang kita investigasi. Kita bisa pastikan itu bodong. Itu semua mobil dari Malaysia. Tanpa pelat. Seperti mobil yang banyak beredar di Borgam sini. Di sini legal, karena FTZ, kalau dibawa keluar harusnya kena pajak, kan, Bang…,” papar Nurikmal.

Foto-foto yang berhasil dijepret Sapril kuat sekali. Ada trailer yang mengangkut mobil-mobil luar itu, proses memuat ke tongkang dan yang paling menarik adalah ada mobil yang jatuh sebelum termuat di tongkang.

”Menurutmu siapa ya yang sedang bermain ini?” tanyaku.

Kalau tidak polisi ya tentara, kata Nurikmal. ”Kalau nggak, nggak mungkin Bea Cukai kayak membiarkan saja. Kok tidak tahu? Tak mungkin rasanya. Apalagi menurut info itu sudah berhari-hari, tiap malam, ratusan mobil,” kata Nurikmal.

”Kita konfirmasi ke Bea Cukai. Kalau dapat kita beritakan,” kataku.

”Oke, Bang,” kata Nurikmal.

Dinamika Kota edisi Senin itu berbeda sendiri. Sesekali bagus juga jeda dari berita panas pembunuhan Putri. Hanya kami yang menaikkan berita penyeludupan mobil itu. Eksklusif. Kami jadikan mobil yang jatuh di samping tongkang itu sebagai foto utama.

Sementara koran lain memberitakan rencana putusan sela sidang kasus pembunuhan Putri. Kami juga memberitakan kelanjutan kasus Putri. Kami menulis khusus tentang TKP, rumah AKBP Pintor, dan Putri.

Rumah itu tergolong mewah dan elite di Borgam. Tertutup dengan satu gerbang keluar masuk yang dijaga sekuriti 24 jam. Kami kumpulkan fakta dari beberapa orang, sekuriti, tukang kebun, petugas sampah, tukang sayur yang buka lapak di ujung kompleks. Kami melacak CCTV. Kata petugas sekuriti, rekamannya disita petugas polisi sebelum tersiar kabar Putri menghilang. Mencurigakan. Di mana rekaman itu?

Beberapa wartawan televisi nasional dan koran Jakarta menghubungiku, beberapa datang ke kantor meminta foto. Saya berikan foto yang belum kami pakai. Saya minta mereka tak usah menyebut sumber fotonya dari kami. Tulis saja nama fotografer mereka sendiri. Ini cara saya berbagi risiko.

Naluri saya mengendus ini berita akan jadi isu nasional. Semakin lekas diberitakan media nasional, semakin aman bagi kami. Para wartawan media Jakarta itu juga ramai-ramai mengonfirmasi ke Bea Cukai. Jawabannya sama: mereka tidak tahu dan akan mengusutnya. Saya mengikutinya di siaran berita televisi siang. Hampir semua televisi nasional menyiarkannya.

”Bang, Pak Kapolres marah-marah. Ini dia sedang gelar jumpa pers,” kata Ferdy menelepon dari Mapolresta.

”Kok jumpa pers? Kok marah-marah?” tanyaku.

”Itu ternyata mobil yang dikirim Kapolresta ke untuk Mabes,” kata Ferdy.

”Buat apa mobil sebanyak itu?”

”Betul, Bang. Ratusan. Tapi tadi tak jelas juga disebut berapa jumlahnya. Katanya itu buat parade di HUT Polri tahun ini. Bukan bodong, katanya. Seperti yang kita tulis itu. Tapi legal dan dapat pembebasan bea masuk.”

”Kok Bea Cukai bilang tak tahu? Kok diangkut malam-malam, mencurigakan gitu?”

”Itu tadi saya tanya, Bang. Langsung dimarahi saya. Hahahaha… Katanya, kamu dari Dinamika Kota ya? Jangan mengadu domba Kepolisian dengan Bea Cukai,” kata Ferdy menirukan kata-kata Kapolresta. Saya menyuruhnya lekas kembali ke kantor.

Bang Eel datang. Di meja tamu dia empaskan koran. Wajahnya tegang. Pasti ada yang dia cemaskan. Pasti ada yang membuatnya kesal. Tapi apa? Soal headline itu? Dia tahu, semalam ia ikut menentukan.

”Kenapa, Bang?” tanyaku.

”Kapolresta mau ke sini,” katanya. (Hasan Aspahani)