Siapa Membunuh Putri (10) – Beradu Headline

Siapa Membunuh Putri (10) - Beradu Headline
Ilustrasi pembacokan. (Pixabay)

Oleh: Dahlan Iskan

FERDY Tahitu Namanya. Ia muncul di depan pintu rumah kontrakanku pada saat yang tepat. Kami sedang menyiapkan Dinamika Kota, dengan sangat buru-buru. Semua dilengkapi dengan lekas. Kantor dengan segala perlengkapan, kendaraan operasional, anak-anak pemasaran dan iklan, desainer, dan terutama wartawan.

Saya percaya apa yang diyakini oleh bos-bos kami, bahwa koran itu jadi kalau ada tiga orang wartawan, bukan orang iklan atau agen, berkumpul dan bekerja bersama. Intinya di jurnalismenya. Mulainya dari situ, tapi bagian lain bukannya tak penting. Aspek bisnis harus beres juga untuk menjaga idealisme jurnalisme itu.

Saya akhirnya mengambil tawaran rumah kredit dari developer yang diperkenalkan Bang Ameng. Perumahan baru di Kawasan Petimban. Lokasinya di antara Sekumpang dan Tanjung Kawin. Tak terlalu jauh dari pusat kota, dari kantor.

Ada jarak yang terasa, memberi arti bagi kata pulang. Pulang kerja ya ke rumah. Rumah adalah sesuatu yang berjarak dari kantor. Sementara rumah 27/60 yang saya ambil dengan kredit 15 tahun itu dibangun, dan saya mencicil DP-nya, saya mengontrak di blok lain yang sudah ramai. Saya menolak kredit keras tanpa DP yang ditawarkan Bang Ameng. Paling-paling dia juga yang bayarin uang mukanya, berutang jasa lagi saya sama dia. Tak nyaman rasanya.

Ke rumah kontrakan sementara itulah, Ferdy mendatangi. Dia datang dengan sebotol besar minyak kayu putih dari Pulau Buru. Buat oleh-oleh katanya. ”Saya Ferdy, Bang… Ferdy Tahitu,” katanya, setelah mengucapkan salam dengan fasih.

Saya sedikit kaget dan bingung. Tak ada yang tahu tentang rumah ini, kecuali orang kantor, anak-anak yang bantu saya pindahan. Seorang kurus tinggi dengan rambut ikal kecil berdiri di depan pintu. ”Kita belum pernah bertemu. Tapi saya yakin saya ketemu orang yang baik,” katanya.

Saya yang malah ragu apakah tamu saya ini orang baik. Tapi saya persilakan Ferdy masuk. Konflik Ambon yang membuatnya sampai ke Batam. Ia datang bersama istri dan seorang anak. ”Saya Kristen, istri saya Islam. Abang bayangkan bagaimana posisi kami di tengah konflik yang terjadi di sana. Yang saling bunuh itu semua saudara-saudara kami semua, saudara saya, saudara istri saya,” kata Ferdy.

Setelah menikah, Ferdy tinggal di wilayah yang dikuasai oleh orang Islam. Ia bekerja di koran yang menyuarakan suara Islam. Di wilayah Kristen ada koran lain – koran dari grup kami juga – yang beritanya prokristen. Selama konflik pecah dia tak berani keluar rumah. Ia juga tak mau tinggalkan anak dan istrinya pergi ke wilayah sebelah.

“Saya hanya berpikir bagaimana selamatkan keluarga saya, Bang. Selamatkan anak dan istri saya,” kata Ferdy. Lalu dia berpikir untuk tinggalkan Ambon Ia punya saudara di kota ini. Katanya anak saudaranya itu pernah saya bantu. Ia dapatkan alamat saya dari saudaranya itu, seorang tokoh masyarakat Ambon di kota ini.

Ferdy membawa beberapa kliping berita karyanya.

”Sekarang anak sama istrimu di mana?”

”Saya titip keluarga, Bang!”

”Mau gabung di koran kami, nggak? Kami lagi siapkan koran baru. Satu grup dengan koran kita di Ambon itu,” kata saya.

”Itu maksud saya datang ketemu Abang,” kata Ferdy. Ia cerita selama di sana biasa meliput apa saja terutama berita kriminal. Saya tertarik dengan kemampuannya.

”Sudah berapa hari di sini, Ferdy,” tanyaku.

”Sudah seminggu,” katanya.

”Baca koran kan? Gimana menurutmu koran-koran di sini.”

”Tinggi juga tingkat kriminal di kota sekecil ini, Bang. Berita istri polisi yang terbaru itu kayaknya bakal jadi berita besar,” kata Ferdy. Ia lalu menjelaskan analisis dan mengajukan teorinya. Saya sependapat.

Terakhir saya menyunting berita untuk Metro Kriminal, istri polisi itu menghilang bersama anaknya dan pembantu perempuannya. Menghilang begitu saja. Kami mewawancarai tetangga-tetangganya, sekuriti penjaga perumahan, semua seakan menutupi apa yang mereka tahu.

Wartawan saya ditegur oleh humas Polres, diperingatkan agar memberitakan hanya keterangan resmi dari mereka. Kami tak pedulikan, selama tak melanggar kaidah jurnalistik dan kode etik, kami akan temukan informasi tentang apa pun dengan cara-cara dari sumber yang tak melanggar aturan.

Ferdy langsung bekerja. Ia jenis jurnalis yang sabar, tekun, dan mudah diterima narasumber. Pengalamannya bekerja di wilayah berkonflik mematangkannya. Ia amat berhati-hati dengan fakta. Paling tidak ia akan mencari satu sumber pembanding. Untuk hal-hal peka, kepada pemberi informasi ia tanyakan lagi kepastiannya. Ferdy terus menabung informasi itu.

Koran kami belum terbit, tapi tinggal menunggu hari, begitu juga kami dengar koran dari grup pesaing kami, Podium Kota. Pada hari H-1terbit kami sudah punya berita untuk seminggu, berita tentang hilangnya istri polisi itu. Sampai hari itu, kami masih menyebut kata hilang, bukan pembunuhan, faktanya memang baru hilang.

Ferdy mewawancarai salon mahal tempat langganan istri polisi itu. Ia memang mantan model di ibu kota. Sekolah di universitas swasta terkenal mahal. Sebagai anak bungsu petinggi kepolisian gaya hidup yang mewah itu bisa dimaklumi. Ferdy juga mendapatkan info dari butik langganan istri polisi itu. Berapa juta sekali belanja, dan berapa habisnya tiap bulan. ”Mereka kira saya polisi kayaknya, Bang,” kata Ferdy.

”Wah, jangan menyamar, dong. Nggak boleh. Harus bilang kita wartawan dari media mana. Jurnalis harus menunjukkan identitas sebagai wartawan, itu kode etik nggak bisa kita langgar…,”

”Oh, iya, bang. Saya tahu itu. Saya bilanglah, dari Dinamika Kota meskipun korannya belum ada, tapi rata-rata orang yang saya wawancara sudah tahu bakal terbit koran baru kita ini,” kata Ferdy.

Saya tertawa. ”promosi sambil liputan, ya…”

”Saya tawarin langganan, malah, Bang,” kata Ferdy.

Dengan dua koran yang harus dilayani oleh satu mesin maka berlaku aturan deadline yang ketat. Metro Kriminal cetak lebih dahulu, dengan deadline yang lebih cepat tentu saja, menyusul Dinamika Kota, koran kami. Ada waktu bagi kami lebih leluasa untuk menyunting berita, kami pun bisa menunggu perkembangan berita terakhir dari Jakarta dan juga berita lokal.

Hari-hari kami menegang menjelang terbit. Apalagi saya. Semuanya seperti saya pertaruhkan untuk edisi perdana itu. Konsep koran kami meniru yang sudah dipakai di grup kami, apa yang saya bilang sebuah gagasan sederhana tapi bisa dicatat sebagai sebuah inovasi besar.

Saya ingat dulu di Suara Balikpapan pada awalnya pun belum menerapkan konsep pembagian sesi itu. Jadi koran dibagi tiga atau minimal dua sesi. Sesi nasional dan sesi lokal. Ini bukan sekadar pembagian cakupan berita, tapi terkait deadline dan giliran cetak. Sesi lokal digarap dan dicetak lebih dahulu, lalu menyusul sesi nasional atau sesi utama. Sederhana tampaknya, tapi efeknya terbangun kepekaan dan pengelolaan isu. Berita lokalpun apabila cakupannya besar bisa masuk di sesi utama itu.

Ketegangan memuncak di malam terbit perdana! Saya lihat Ferdy membawa anak dan istrinya ke kantor. Mungkin keluarganya jadi saksi momen bersejarah itu.

Hari itu polisi menemukan pembantu dan anak polisi yang istrinya menghilang. Keduanya sembunyi di sebuah hotel kecil di kompleks pertokoan di Kawasan Tanjung Kawin, di lokasi yang agak terpencil. Polisi hanya memberi keterangan itu, tak ada media yang diberi akses pada keduanya. Yang menemukan adalah tim yang dibentuk sendiri oleh AKPB Pintor, polisi yang kehilangan istri itu. Ini bagian yang aneh. Belum ada keterangan soal istrinya.

Siang hari tadi Ferdy datang dengan informasi yang tak dirilis humas polisi tentang penemuan koper di hutan menuju Pelabuhan Telaga Pinggir. Koper merah muda itu ditemukan pemulung. Ada bau bangkai menusuk, dan oleh si pemulung segera dilaporkan ke polsek terdekat. Tentang koper merah muda itu disebut-sebut sejak semula ikut hilang bersama hilangnya istri polisi itu. Ferdy bahkan dapat informasi detail itu koper dibeli di toko apa dan dengan harga berapa.

Saya berdebat panas dengan Bang Eel soal berita apa yang harus jadi headline di edisi perdana itu. Aku yakin untuk menjadikan penemuan koper merah muda itu itu sebagai sebagai berita utama. Bang Eel ingin dengan rencananya semula, yang sudah disiapkan matang sejak beberapa hari lalu, berita tentang hari pertama kerja di pabrik perakitan Maestrochip Corp. Sudah ada seribu orang yang mulai bekerja di sana. Bang Eel dapat foto bagus sekali, suasana di dalam pabrik, para pekerja beratur dengan mesin-mesin rumit dan besar.

”Kita bukan koran kriminal, Dur. Jangan kebawa-bawa Metro Kriminal,” kata Bang Eel.

Saya mendebatnya.

”Ini bukan soal kriminal, Bang. Ini soal keamanan. Dan itu terkait dengan investasi. Kalau istri AKBP aja bisa hilang, dibunuh, gimana nasib puluhan ribu pekerja perempuan itu, Bang. Berapa Sandra lagi harus mati…”

Bang Eel melemah. Ia berkompromi. Ia menyetujui pendapatku.

Dan pagi itu wajah kora seperti dipenuhi oleh tiga koran dengan headline yang berbeda. Metro Kriminal dengan berita utama Pembantu dan Anak Polisi Ditemukan, Istrinya Masih Hilang. Podium Kota menjual headline Maestrocorp Mulai Berproduksi!. Dinamika Kota juga memuat berita Maestrocorp sebagai headline kedua, dan berita utama yang mencolok: Siapa Membunuh Putri. Tanpa tanda tanya.

Semalam judul itu harus diperdebatkan dulu. Bang Eel hanya ingin yakin dengan kata ”Membunuh”. Saya katakan jelas itu pembunuhan. Mula-mula soal penemuan koper. Polisi Polsek Telagapinggir yang pertama mendapat laporan sempat memberi keterangan pada Ferdy yang beruntung sekali kebetulan sedang berada di sana. Ferdy mendapat foto koper merah muda itu dalam mobil patroli dibawa dari TKP ke Polresta. Polisi itu juga memberi keterangan dugaan isi koper tersebut mayat. Dia memang tak membukanya, karena penemuan itu segera dilimpahkan ke Polresta. Ferdy juga mengunjungi TKP berdasarkan info dari petugas polisi Polsek Telagapinggir itu.

”Kayak dibuang di tempat yang sengaja agar cepat ditemukan,” kata Ferdy. Humas Polresta yang semalam dikonfirmasi mengiyakan penemuan tersebut tapi belum mau beri keterangan lebih lengkap. ”Tunggu besok saja. Tapi betul soal koper merah itu. Itu memang milik korban,” katanya.

Dan itu cukup.

Malam itu saya tidur di kantor. Selain karena capek dan tegang, memastikan koran dicetak sampai mesin cetak berhenti, saya suruh Ferdy ajak anak dan istrtinya tidur di rumah kontrakan saya. Sampai dia dapat rumah kontrakan sendiri. Ia tak enak sama keluarga istrinya yang mereka tumpangi sejak pertama kali datang ke kota ini.

Pagi-pagi saya dibangunkan anak-anak pemasaran yang dengan semangat lapor edisi perdana kami sudah habis sebelum pukul 11. ”Jadi cetak 10 ribu?” tanyaku pada manajer pemasaran.

”Kita tambah cetak seribu eks untuk promosi. Tapi jadinya semua kita jual,” kata manajer pemasaran kami. Bang Eel datang dan suruh orang membingkai halaman pertama edisi perdana itu. ”Sejarah kita ini!” katanya.

Aku menemui Mas Halim, dia sedang setor. Mas Halim salah satu agen besar kami. ”Gimana, Mas, koran baru kita? Bagus penjualannya?” tanyaku.

”Anak-anak loper ada yang jual sampai dua kali lipat harga eceran masih dibeli orang,” kata Mas Halim. ”Bisa cetak lagi, nggak?” pintanya. Jelas saja tak bisa. (Hasan Aspahani)