Seorang Pelajar Tewas Tersambar KA di Purworejo, Begini Kronologinya

EVAKUASI. Korban tertabrak kereta api di jembatan jalur kereta api Desa Butuh Kecamatan Butuh dievakuasi oleh pihak kepolisian, TNI, tim medis, dan warga setempat, kemarin. (foto : Eko Sutopo/Purworejo Ekspres)
EVAKUASI. Korban tertabrak kereta api di jembatan jalur kereta api Desa Butuh Kecamatan Butuh dievakuasi oleh pihak kepolisian, TNI, tim medis, dan warga setempat, kemarin. (foto : Eko Sutopo/Purworejo Ekspres)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Seorang pelajar pria tewas tersambar kereta api di jembatan jalur perlintasan kereta api Desa Butuh Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo, Rabu (10/8) siang. Diduga, korban sedang mengalami depresi atau gangguan jiwa.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber diketahui, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Korban berinisial SAK (18), warga Desa Binangun Kecamatan Butuh.

Kronologi kejadian bermula saat korban tengah menyebrang jembatan. Pada saat bersamaan, kereta api Sawunggalih dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Kutoarjo melaju dari arah barat.

“Setelah mendapatkan informasi ada orang menyebrang, saya bersama penjaga perlintasan KA, Rian Cipto (30) langsung mengecek dan ditemukan korban tertabrak kereta api,” kata Polsuska wilayah setempat, Febri Kurniawan (35).

Tidak lama kemudian, warga sekitar lokai berdatangan dan mendapati anggota tubuh korban sudah terpisah antara kaki dan sebagian tubuh hancur. Korban teridentifikasi mengenakan kaos hitam, celana kolor hitam, dan meninggalkan sepeda mini merk Phoenix warna merah.

“Tanpa berpikir lama, saya langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Butuh, dan tidak lama anggota Polsek dan Unit Reskrim merapat ke tempat kejadian bersama dengan unit Inafis Polres Purworejo,” sebut Febri.

Setelah dilakukan pencarian, ditemukan tubuh korban terbagi menjadi empat bagian. Petugas pun langsung mengevakuasi ke RSUD dr Tjitrowardojo Purworejo untuk dilakukan visum.

Sementara itu, ibu korban berinisial S menyampaikan bahwa putranya tersebut tengah mengalami depresi atau gangguan jiwa setelah pulang dari pondok pesantren.

“Dia sudah rutin mengonsumsi obat gangguan saraf dan sering pergi-pergi menggunakan sepeda tanpa membawa alat komunikasi HP,” ujarnya. (top)