Sendang Sebandot Dikembalikan ke Konsep Alami

SENDANG. Warga Dusun Gayam Desa Giripurno Kecamatan Borobudur, bersihkan Sendang Sebandot momentum 1 Muharram 1443 H.
SENDANG. Warga Dusun Gayam Desa Giripurno Kecamatan Borobudur, bersihkan Sendang Sebandot momentum 1 Muharram 1443 H.

BOROBUDUR, MAGELANGEKSPRES.COM – Kegiatan bersih-bersih Sendang “Sebandot” digelar Warga Dusun Gayam Desa Giripurno Kecamatan Borobudur bertepatan dengan momentum 1 Muharram 1443 H atau 1 Suro, Selasa (10/8/2021).

Kepala Dusun Gayam, Fendi Heri Wibowo menjelaskan, menurut kepercayaan warga, Sendang Sebandot itu merupakan petilasan dari Pangeran Diponegoro. Bahkan warga percaya jika Sunan Kalijaga pernah singgah di tempat itu dan melaksanakan salat. Namun karena tidak terdapat air kemudian melakukan tayamum.

”Ketika mau tayamum, tongkat yang dipegang Sunan Kalijaga itu ditancapkan ke tanah. Dan setelah selesai salat beliau istirahat sebentar dan meninggalkan lokasi itu sambil mencabut tongkat. Dari bekas tancapan tongkat itulah muncul mata air,” jelas Fendi.

Mata air yang muncul dengan skala kecil disebut warga menyerupai “Kencing” Kambing Bandot, sehingga mata air tersebut dikenal dengan nama Sendang Sebandot.

Dalam kegiatan yang diikuti warga masyarakat tersebut sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dikarenakan kali ini turut dilaksanakan kegiatan pembongkaran bangunan semen yang menempel pada Sendang Sebandot.

”Sumber mata air Sendang Sebandot ini semakin lama semakin kecil mengalirnya, untuk itu bahan yang terbuat dari semen ini mau dibongkar, mau dikembalikan alami seperti semula.

Kemarin sebelum dilakukan pembongkaran bangunan semen, ada warga yang secara mistis dijumpai oleh penunggu sendang ini. Penunggu itu mengatakan tidak berkenan dengan dibangunnya tempat itu menggunakan semen. Kalau tidak dibongkar penunggu itu mengatakan aliran air akan dihentikan,” terang Fendi.

Pembongkaran yang dilakukan kali ini menurut Fendi dilakukan bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1443 H. Sementara menurutnya tradisi ritual yang dilakukan di Sendang Sebandot tersebut selalu dilakukan dua tahun sekali yaitu pada bulan Sapar.

”Dulu mata airnya deras ini mas, akhir-akhir ini yang kemudian mendali kecil dan terus mengecil,” ungkap Fendi.

Artikel Menarik Lainnya :  Butuh Komitmen Bersama, Kasus Stunting di Kabupaten Magelang Terus Turun

Sebelum acara bersih-bersih dan pembongkaran material semen dilakukan di Sendang Sebandot, sesepuh warga memimpin doa keselamatan. Setelah itu dilakukan acara “Kepungan” yaitu menikmati makanan yang disajikan seperti Nasi putih, Kluban, Ingkung Ayam Jawa, Jenang Abang Putih dan lain sebagainya.

“Kami berharap nantinya setelah dilakukan pembersihan dan pembongkaran ini, mata air Sendang Sebandot dapat kembali normal seperti sedia kala,” tutur Fendi.(cha)