Selamat Ulang Tahun Ke-1.116 Kota Magelang, Salah Satu Kota Tertua di Indonesia

foto : prokompim kota magelang WATU LUMPANG.
foto : prokompim kota magelang WATU LUMPANG.

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM– 1.116 tahun bukan hitungan sedikit bagi sebuah daerah yang memperingati hari jadinya. Usia lebih dari satu milenium ini lah yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kota Magelang. Sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang memiliki luas 18,53 kilometer persegi dan dikenal sebagai “paku” atau pasaknya Pulau Jawa karena memiliki Gunung Tidar yang terkenal di seantero negeri itu. Sekilas memang mistis, tapi memang demikian sejarah tertulis.

Ya, setiap tanggal 11 April, Kota Magelang memperingati hari jadi. Tahun 2022, kota terdiri dari tiga kecamatan ini akan memperingati ulang tahun ke-1116. Usia ini membuat Kota Magelang pun termasuk dalam 10 kota tertua di Indonesia. Kota Magelang juga sarat pesona “hidden paradise” karena letaknya yang berada di antara 5 gunung tinggi, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing, Telomoyo, dan Andong.

Kelahiran Kota Magelang ini rupanya tak semata hanya klaim saja. Sebab, penentuan hari jadi telah tertuang dalam Perda Nomor 6 Tahun 1989 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Magelang pada tanggal 11 April 907 M berdasarkan Prasasti Mantyasih.

Bukti sejarah lainnya, sebagai dukungan Kota Magelang adalah kota terkecil dan tertua di Indonesia adalah Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal.

Sederet temuan artefak abad ke-10 itu membuktikan bahwa Magelang dahulu merupakan salah satu tempat di mana pusat kerajaan Medang berada. Di antara prasasti-prasasti itu juga saling berkaitan. Mulai dari Kartikeyasingha dan Ratu Jay Shima permaisurinya (Kalingga) hingga Rakai Watukura Dyah Balitung (Medang i Poh Pitu).

Dalam prasasti Mantyasih yang turut memuat daftar silsilah raja-raja Medang sebelum Rakai Watukura Dyah Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Dyah Balitung yang merupakan menantu Mpu Teguh (Raja Medang pasca-Dyah Lokapala) sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah Kerajaan Medang.

Dari beberapa masa pemerintahan, Kerajaan Medang berpindah ibukota beberapa kali. Dari Poh Pitu dipindahkan ke Mamrati (Mamratipura) oleh Rakai Pikatan atau Rakai Patapan Mpu Manuku. Namun, tak ada bukti-bukti yang jelas di mana Poh Pitu tersebut. Pindahnya ibukota ini, maka Mpu Manuku bergelar Rakai Mamrati.

Beberapa prasasti itu, masih dapat dilihat hingga saat ini. Prasasti Mantyasih di Kampung Meteseh, Kelurahan Magelang, sedangkan Prasasti Canggal dapat ditemui di Kadiluwih, Salam, Kabupaten Magelang. (prokompim/kotamgl/des)