Sehari Tambah 21 Positif Covid-19, Wonosobo Kembali Masuk Zona Merah

SOSIALISASI. Tim penanganan covid 19 melakukan sosialisasi penggunaan masker dan protkol kesehatan di lokasi wisata.
SOSIALISASI. Tim penanganan covid 19 melakukan sosialisasi penggunaan masker dan protkol kesehatan di lokasi wisata.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO- Terbesar sejak pandemi bergulir, pasien positif covid-19 di Wonosobo mengalami penambahan sebanyak 21 orang dalam sehari. Bahkan jumlah pasien yang meninggal juga bertambah menjadi 3 orang. Pemkab  imbau warga lebih disiplin dan tidak memaksa kehendak.

“Bener, hari ini ada penambahan 21 orang pasien. Itu mungkin yang terbesar sejak pandemi bergulir. Kita berharap kerjasama semua pihak untuk kembali tingkatkan disiplin dan tidak kendor jalankan protokol kesehatan,” ungkap Plt Dinkes Wonosobo, dr.M Riyatno kemarin.

Menurutnya, perkembangan penanganan saat ini cukup mengkawatirkan, pasalnya meski pengklasteran masih dilacak, tracing masih dilakukan, namun transmisinya susah dideteksi. Sehingga perlu upaya yang lebih kuat.

“Pengklusteran kami masih lacak, tapi transmisinya sudah carut marut,” tandasnya.

Berkaitan dengan dugaan, apakah Wonosobo masuk gelombang ke dua penyebaran covid 19, pihaknya mengaku  belum bisa memastikan. Sebab perlu kajian lebih lanjut, dan ada penilaian dari pihak pihak terkait seperti Dinas Kesehatan Provinsi Jateng.

“Soal dugaan gelombang kedua, bisa jadi. Ini kan  setelah terlena dan akibat warga memaksakan untuk terjadi pembukaan semua fasilitas,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda One Andang Wardoyo mengaku, Wonosobo sempat mengalami landai pada kasus ke 83. Namun kemudian mengalami peningkatan setelah adanya kegiatan rapid test. Diduga penambahan kasus di Wonosobo lantaran penularan dari luar kabupaten

“Awal kasus mengalami peningkatan diduga dari luar atau impor, seperti hasil tracing kita, kedatangan tamu dari Surabaya, pasien dari Jakarta, dan pasien dari Tangerang,” ucapnya.

Menurutnya, ada beberapa hal dilematis, sebab masyarakat sekarang ada yang percaya dengan covid 19 ini sebagai  bukan penyakit. Di sisi lain juga ada yang apatis, biar saja covid, yang penting bisa makan.

Artikel Menarik Lainnya :  RSUD Setjonegoro Deteksi Dini Kesehatan Nakes

“Masyarakat cenderung abai, kita akan turunkan tim penuh, untuk memantau, jalankan protokol kesehatan. Jadi akan terpantau ledakan-ledakannya, desinfeksi di kota akan kita lakukan. Kemudian jam malam kita lakukan lagi untuk jaga imunitas warga,” terangnya.

Sedangkan untuk tenaga kesehatan yang positif covid 19, kemungkinan dari pasien yang dirawat atau berobat. Setidaknya ada lima puskesmas yang akhirnya ditutup untuk sterilisasi. (gus)