Sebentar Lagi Ramadhan, Inilah Persiapan yang Harus Dilakukan…

Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan

MAGELANGEKSPRES.COM – Berbincang tentang persiapan Ramadhan, benarkah kita merindukan Ramadhan? Benarkah kita memang menginginkan datangnya?

Semuanya kembali kepada niat. Bicara Ramadhan, ini bukan yang pertama untuk sebagian; bahkan mungkin jadi Ramadhan yang ke-30 kali, ini Ramadhan yang ke-35 kalinya, bahkan mungkin dia lupa kapan pertama kali dia puasa. Tapi sebagian orang kalau dia mungkin mengadakan penelitian terhadap dirinya sendiri, objek yang diteliti adalah diri dia, tentang 30 tahun berpuasa, apa jadinya?

Kita tahu kalau ada orang sekolah, tahun pertama nanti ada semester kedua, dia naik ke tahun kedua, tahun ketiga, tahun keempat, sampai dia lulus SMA, tambah lagi..

Kalau kita bicara tentang diri kita yang sudah puluhan tahun Ramadhan, mungkin kita bisa melihat hasil yang kita dapat. Ada yang ga ada hasilnya, karena ibadah kita hanya rutinitas saja.

Mengingatkan kembali kepada tujuan diciptakannya manusia yang insyaaAllah ketika orang tahu dengan tujuan dia, paling tidak dia nggak salah arah.

Allah Azza wa Jalla berfirman di surat Adz-Dzaariyat ayat 55 sampai 58. Apa kata Allah Azza Wa Jalla?

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

{ وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ • وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ • مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ • إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ }

“Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

Kebanyakan kita itu tujuannya adalah dunia, harta, jabatan, kekuasaan. Sedangkan Allah menciptakan kita untuk mengabdi kepada-Nya. Maka manusia harus sering diingatkan agar tidak lupa dengan tujuan yang sangat mulia. Allah itu pemilik alam semesta ini dan Allah telah menyediakan bagi orang-orang yang bertakwa kenikmatan yang ga terbayang dan tidak tergambarkan oleh manusia.

Manusia gembira tatkala dia menjadi bupati, menjadi gubernur, menjadi presiden, yang masa kekuasaannya hanya 5 x 2 tahun. Tapi itu selesai, lalu dia menjadi tua, renta, mati. Sedangkan Allah menawarkan keridhaan-Nya, surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau untuk mencapai menjadi presiden, (kalau kita bicara orang jadi presiden) itu persiapannya matang banget, bahkan berhari-hari, sekarang nih rame di Indonesia bicara tentang presiden tahun berapa? 24 ya..? Sudah mulai mereka bicara untuk sebuah target yang sebenarnya target yaah… yang akan hilang, pergi, lalu orangnya akan menjadi orang biasa, menjadi bangkai, ditinggal oleh manusia. Itu sudah dibicarakan lama, bertahun-tahun sebelumnya.

Bagaimana dengan Ramadhan yang ada di depan kita, yang merupakan pintu untuk menjadi orang yang bertakwa yang berhak masuk surga? Allah berikan kesempatan bagi mereka untuk masuk surga Allah ﷻ.

Apa yang sudah kita siapkan? Ga ada. Mungkin sirup, mungkin makanan-makanan ringan, ya keperluan untuk urusan berbuka dan sahur. Karena memang ternyata masalahnya kita punya ambisi terlalu rendah, kita punya ambisi terlalu hina.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala mengatakan:

الْمَطْلَبُ الْأَعْلَى

Target yang luhur, yang agung, itu untuk mendapatkannya tergantung dengan dua hal. Yang pertama: ambisi yang besar dan niat yang benar. Ambisi dan niat.

فَمَنْ فَقَدَ هُمَا

Yang tidak punya ambisi yang besar, yang mulia, dan tidak punya niat yang benar, maka dia ga akan nyampe kepada target. Disebutkan “niah”, niat itu niat yang benar, membuat jalan kita benar, menyatukan niat kita. Kemudian ambisi menyatukan, kita cuma mau satu itu, tentunya.

Tadi kita sudah membaca firman Allah di surat Adz-Dzaariyat bahwa Allah menciptakan kita adalah untuk mengabdi kepada-Nya saja. Tatkala ambisinya, tujuannya itu satu dan jalan yang ditempuh itu benar, nyampe dia.

Ahibbatyfillah, kita itu kalau udah bicara ambisi dan niat kita, maka kedua hal itu sulit diraih kecuali dengan meninggalkan 3 perkara.

1) Perkara yang pertama adalah meninggalkan tradisi-tradisi, kebiasaan-kebiasaan, kesibukan-kesibukan yang dibuat oleh manusia.

Dimana kita tahu manusia ini, yang mereka bikin program-program dalam kehidupan, acara-acara dalam kehidupan. Tempat hiburan, tempat liburan, acara, bikin acara car free day, acara konser, acara macam-macam yang dibuat oleh manusia, tinggalkan! Satukan niat, satukan jalan. Kalau enggak, kita akan sibuk.

2) Kemudian yang kedua, meninggalkan Al  ‘awaa-iq  ( الْعَوَائِقُ ), yaitu penghalang-penghalang eksternal yang membuat kita akhirnya bercabang.

Maka biasanya orang kalau pekerjaannya bercabang, dia jadi bos di satu lembaga, tapi bercabang pikiran dia, punya kerjaan ini dan itu, ga selesai tugas dia, ga sempurna. Berbeda dengan orang yang fokus di satu pekerjaan, sehingga dia dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal. Makanya kenapa ada istilah “nggak boleh pegang jabatan 2” umpamanya, ya udah kalau itu, itu aja. Tujuannya agar dia fokus mengejar target.

3) Yang ketiga memutuskan ketergantungan hati kita dengan perkara-perkara yang melalaikan. Ya..dengan cara meninggalkan hal-hal yang tidak diperlukan dalam kehidupan. Contohnya kalau bicara makan…ooo kita perlu makan, makan perlu, tapi enggak perlu engkau makan harus menempuh jalan 50 km.

Ada kebiasaan orang kuliner. Wisata kuliner, berangkat ke satu tempat hanya untuk makan. Bayangin, perjalananmu ke tempat itu jauh sekali, hanya untuk makan yang beberapa menit selesai, jadi kotoran nantinya, seenak apapun yang engkau makan. Kalau bicara boleh, boleh-boleh aja, tapi kan kita ini sedang menuju ke Allah Azza wa Jalla, kita sedang mau meninggalkan dunia ini. Semua yang kita kumpulkan, semua yang kita timbun, semua yang kita sukai, bakal kita tinggalkan. Kita akan berpisah dengan mereka semuanya.

Maka kita perlu tadi memiliki ambisi yang luhur, niat yang benar, supaya nggak salah jalan dengan niat yang benar tersebut. Dan ada 3 penghalang yang harus kita putuskan.

Untuk menjadi seorang tentara, jamaah, kadang kala dia itu harus diputuskan dari dunia luar. Sekolah.. fokus di sana sudah, enggak ke mana-mana pikirannya. Kadangkala handphonenya diambil, udah fokus di sini, dikasih kegiatan-kegiatan yang berguna. Inilah yang harus kita lakukan menghadapi Ramadhan (Disampaikan Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. dalam kajian online GIS)