Sampah di TPA Sanggrahan Menggunung

    Sampah di TPA Sanggrahan Menggunung
    MENGUNGUNG. Sampah di TPA Sanggrahan Kecamatan Kranggan menggunung.

    //Butuh Revitalisasi//

    KRANGGAN – Permasalahan sampah sepertinya sudah menjadi polemik. Apalagi saat ini tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Sanggrahan Kecamatan Kranggan sudah mulai overloaded.

    Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Temanggung, Sriyono mengungkapkan, sejak awal tahun 2019, sampah yang msuk ke TPA sudah melebihi batas maksimal.

    Dalam kondisi normal, TPA Sanggrahan per harinya menampung sampah hingga 60 ton. Tapi saat ini sampah yang masuk sudah mencapai 65 ton sampah sehari. Jumlah ini sudah melebihi kapasitas penerimaan sampah.

    “Bayangkan saja, dalam sehari overloaded sampahnya sudah mencapai 5 ton, kalau ini terus terjadi tidak menutup kemungkinan TPA Sanggaran akan cepat penuh,” tuturnya.

    Membludaknya sampah yang masuk ke TPA, dikarenakan semua sampah rumah tangga dibuang ke tempat itu. Masyarakat sepertinya tidak peduli lagi dengan sampah yang mereka hasilkan. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA ini adalah sampah rumah tangga.

    Di wilayah Kabupaten Temanggung yang mendapat pelayanan kebersihan sampah baru 80 desa dan kelurahan di 20 kecamatan yang ada.

    “Sebetulnya tidak semua desa dan kelurahan membuang sampah sampai TPA Sanggrahan. Tetapi karena volume sampah yang dibuang masyarakat meningkat, hal ini berpengaruh pada volume sampah di TPA,” katanya.

    Sriyono menyebutkan, saat ini 4,1 hektar sudah disediakan untuk TPA di Sanggrahan. Luasan tanah ini diperkirakan akan mampu menampung sampah hingga tahun 2020 mendatang. Akan tetapi pada awal 2019 ini sampah sudah menggunung hampir memenuhi seluruh tempat yang disediakan.

    Upaya penekanan sampah yang dilakukan berupa pemaksimalan timbunan sampah dari sumbernya. Artinya dari sampah rumah tangga harus dipilah kembali sebelum masuk ke TPA Sanggrahan. Seharusnya sampah yang masuk ke TPA ini sampah yang residu, yang organik itu harus dikelola masyarakat sendiri.

    Artikel Menarik Lainnya :  Melongok Gerak Kereta Api Menerobos Pandemi

    Sementara itu, dari pihak terkait juga menyosialisasikan sampah yang unorganik juga harus dipilah kembali seperti sampah plastik dan sebagainya yang masih mempunyai nilai jual untuk dimaksimalkan.

    “Kedepan akan dilakukan revitalilasi dengan adanya pembangunan broncong yang ada di bagian bawah TPA. Perlu juga penanganan dari masyarakat untuk ikut penekanan dan pemilahan sampah sebelum masuk ke TPA. Kita tidak bisa memungkiri, kalau semua sampah kita ambil otomatis berapapun hektar tanah yang dikhususkan untuk TPA bakal cepet penuh,” jelasnya. (set)