Sambut Harlah ke-87, GP Ansor Gelar Bincang Sejarah

KH Chalwani saat memaparkan sejarah lokal tentang NU dan Ansor di Purworejo
BINCANG SEJARAH. KH Chalwani saat memaparkan sejarah lokal tentang NU dan Ansor di Purworejo.

MAGELANGEKSPRES.PURWOREJO – Menyambut Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda Ansor ke-87, Pimpinan Cabang GP Ansor Purworejo menggelar agenda bincang sejarah bersama KH Achmad Chalwani, Pengasuh Ponpes An-Nawawi Berjan Purworejo, kemarin di Pondok Pesantren Hidayatul Ummah Desa Wero Kecamatan Ngombol.

Kegiatan yang digelar secara virtual tersebut dihadiri secara langsung oleh seluruh pengurus harian PAC GP Ansor dari 16 kecamatan se-Kabupaten Purworejo dan disiarkan secara live melalui saluran channel Youtube Ansor Purworejo.

Dalam sambutannya, Ketua PC GP Ansor Purworejo, Ky Habib Anwar Dahlan mengungkapkan, mestinya Harlah Ansor ke-87 ini digelar pada tanggal 24 April 2021 mendatang. Namun jika dilaksanakan sesuai tanggal tersebut bersamaan dengan Bulan Ramadhan.

Baca Juga
Kompol Arie Iman Prasetya Wakapolres Wonosobo

“Banyak pengurus Ansor Purworejo ini yang kebetulan menjadi kyai di kampungnya. Maka kalau dilaksanakan saat Bulan Ramadan akan kerepotan sehingga kami putuskan untuk diajukan hari ini,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, agenda bincang sejarah dalam rangka menyongsong hari jadi ini diharapkan akan meningkatkan ghiroh atau semangat dalam berjuang menegakkan ajaran agama Islam melalui GP Ansor. Terlebih, bincang sejarah ini menghadirkan ahlinya yakni KH Achmad Chalwani, ia yakin akan memompa semangat berorganisasi semangat kader-kader Ansor di Purworejo.

“Karena, nanti akan terungkap betapa keras dan berat perjuangan para pendahulu kita yang tidak hanya korban waktu, tenaga maupun pikirannya, bahkan harta dan nyawa pun di pertaruhkan. Harapannya, kisah-kisah tersebut menjadi tauladan bagi kita yang hari berjuang di GP Ansor,” katanya.

Sementara itu, KH Achmad Chalwani Nawawi saat memberikan paparan mengungkapkan, kader-kader GP Ansor Purworejo diminta untuk senantiasa bekerja keras. Tidak usah gengsi menjalani pekerjaan apapun. Pilih-pilih pekerjaan justru akan membuat rejekinya tersendat.

Artikel Menarik Lainnya :  Dua Pekan Diburu, Polisi Akhirnya Berhasil Amankan ODGJ

“Ini kelakar bapak saya, Alm KH Nawawi Shidiq. Ansor kui artine penolong. Mulakno ekonomine kudu kuat men iso nolong. Nek ekonomine lemah, gaweane ider proposal ra sido dadi Ansor, tapi Mansur (orang yang ditolong),” tutur Wakil Rois Syuriah NU Jawa Tengah ini.

KH Chalwani yang juga mantan Pengurus PC GP Ansor Kota Madya Kediri di era 1976 saat menempuh pendidikan tinggi di Universitas Tribakti tersebut menambahkan, Nabi Muhammad adalah sosok pekerja keras. Usia 11 tahun sudah mengembala kambing, 16 tahun sudah berdagang dan 25 tahun ekonominya sudah kuat.

“Maka saat menikahi Siti Khotijah mahar beliau 20 ekor onta. Kalau pakai kurs sekarang sekitar 800 juta rupiah. Beda dengan kita yang hanya cukup seperangkat alat sholat, sahh…,” ujarnya disambut tawa kader-kader Ansor.

Maka menurutnya kemandirian ekonomi kader itu sangatlah penting. Berjuang di Ansor harus, namun jangan sampai ekonominya terabaikan. “KH Hasyim As’ari, pendiri NU saja meski sudah jadi ulama besar yang santrinya ribuan masih mau jualan tembakau di Pasar Cukir Jombang. Beliau tidak gengsi. Tentu ini harus menjadi motivasi kita untuk meniru para pendahulu,” imbuhnya. (luk)