Ruwat Potong Gembel, di Depan Sandiaga Uno Ada Perempuan Dewasa Minta Kambing Bunting

PEMOTONGAN. Menparekraf Sandiaga Uno didampingi Wabup Wonosobo melakukan pemotongan rambut gimbal di pinggir Telaga Cebong Desa Sembungan Kejajar, kemarin.
PEMOTONGAN. Menparekraf Sandiaga Uno didampingi Wabup Wonosobo melakukan pemotongan rambut gimbal di pinggir Telaga Cebong Desa Sembungan Kejajar, kemarin.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Disparbud Wonosobo gelar ritual pemotongan rambut gimbal atau gembel di pinggir Telaga Cebong Sembungan Kejajar kemarin. Proses tersebut digelar, bersamaan dengan kunjungan Menparekraf, Sandiaga Uno.

Tiga orang yang menjalani prosesi ruwat rambut gembel meliputi dua orang anak perempuan. Masing-masing berumur 6 tahun dan satu orang dewasa berumur (38). Mereka memiliki permintaan berbeda diantaranya sepeda, HP dan kambing bunting.

Prosesi ritual potong rambut gimbal diawali dengan kirab budaya kelompok kesenian dan anak yang akan diruwat start dari rumah Kepala Desa Sembungan menuju lokasi prosesi ritual ruwat gembel di komplek Telaga Cebong.

“Sekarang saya sudah lega. Semoga rambut gembel saya tidak tumbuh lagi setelah ikut prosesi  ritual ini,” ungkap Suyatmi (38) peserta ritual rambut gembel asal Pojok Kramatan Kecamatan Wonosobo.

Menurutnya, rambut gembel tersebut tidak tumbuh dari kecil, namun baru muncul sekitar tahun 2015. Pihaknya mengaku berkali-kali memotong rambut tersebut, namun tidak lama kemudian tumbuh lagi. Atas saran sejumlah orang, dirinya diminta agar proses pemotongan rambut tersebut harus melalui ritual khusus.

“Pada awal tumbuh, saya sempat alami demam tinggi, setelah tumbuh gembel berkali kali saya potong, namun tetap tumbuh. Saran dari para sesepuh harus melalui proses ritual untuk menghilangkannya,” ucap Suyatmi.

Berkaitan dengan permintaan kambing hamil sebagai syarat untuk prosesi ritual rambut gimbal tersebut, Suyatmi mengaku tidak tahu alasannya. Sebab, muncul saja dari benaknya keinginan itu. Sedianya kambing hamil tersebut akan dipelihara.

Sementara Itu, Kepala Disparbud Wonosobo, Agus Wibowo mengemukakan, rambut gembel dipercaya sebagai titipan dari Kiai Kolodete yang merupakan manusia pertama yang melakukan babat alas Dieng.

“Kiai Kolodete diyakini memiliki rambut panjang dan gembel/gimbal yang kemudian sebelum beliau meninggal mewasiatkan rambut gembelnya akan dititipkan pada anak cucu dan keturunannya,” ucap Agus.

Menurutnya, ruwat cukur rambut gembel untuk menghilangkan rambut gembel agar si anak memiliki rambut yang normal. Selain itu, anak yang dicukur rambutnya agar memperoleh keberkahan dan kesehatan. Proses yang dilakukan selama upacara juga bermacam- macam. Ada yang masih menggunakan adat Jawa kuno, dengan cara sesepuhnya berkeliling ke tujuh tempat keramat. Yaitu, pertapaan Gunung Pakuwojo, Goa Semar, Sendang Maerokoco, Kawah Sikidang, Tuk Bimo Lukar, Sumur Jalatunda dan Kawah Condrodimuko.

“Prosesi ruwat cukur rambut gembel ini menjadi atraksi wisata yang menarik wisatawan dari mancanegara dan domestic. Bahkan banyak yang rela menginap 2 hari sebelumnya agar tidak ketinggalan acara yang unik ini. Biasanya kegiatan ruwatan ini dilaksanakan pada bulan Juli atau Agustus,” pungkasnya. (gus)