Rupiah Melemah Terus, Pemerintah Diminta Pasang Kuda-Kuda

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Senin (7/4). (foto: ist)
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Senin (7/4). (foto: ist)

JAKARTA,MAGELANGEKSPRES.COM – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank ditutup melemah 29 poin pada perdagangan sore ini. Rupiah ditutup pada angka perdagangan Rp 14.971 per USD atau melemah 25 poin dari penutupan perdagangan kemarin di level Rp 14.941 per USD. Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan melemahnya rupiah hari ini disebabkan oleh faktor eksternal.

Menurut Ibrahim, salah satu penyebabnya ialah dolar mempertahankan mata uang yang sensitif terhadap perdagangan di dekat posisi terendah multi-tahun sehingga investor mencari keamanan karena kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global.

“Data Jumat menunjukkan inflasi zona euro melonjak ke rekor lain, menambah kasus bagi Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga bulan ini,” ujar Ibrahim. Kemudian, di Amerika Serikat dan negara lain, tanda-tanda pelemahan ekonomi menjadi kian nyata.

Selanjutnya, investor sedang menunggu hasil pertemuan mengingat The Fed memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 bps. Selain itu, dari faktor internal pasar terus menyoroti tingginya inflasi global yang berdampak terhadap inflasi di Indonesia.

Tingginya inflasi pada Juni 2022 membuat pemerintah harus mulai menyiapkan strategi untuk menahan kenaikan inflasi hingga akhir tahun.

Strategi pertama, pemerintah harus mewaspadai pergerakan harga-harga komoditas global, seperti gandum dan minyak bumi yang terdampak oleh kondisi geopolitik di Eropa. Kedua, pemerintah harus memikirkan dan membuat roadmap ketahanan pangan, terutama bahan makanan yang selama ini sering menjadi penyebab utama inflasi di Indonesia.

“Masalah kedelai, jagung, cabai rawit, bawang merah, bawah putih, telur ayam, daging ayam, merupakan contoh dari masalah rutin dan selalu berulang karena mismanajemen mulai dari sektor hulu sampai hilir,” ungkap Ibrahim.

Ketiga, melakukan perbaikan komprehensif lintas sektoral dari sektor hulu yang berada di Kementerian Pertanian, sampai sektor hilir yang berada di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. “Hal Ini tidak bisa dilakukan secara instan, perlu waktu yang lebih lama, tetapi bisa dilakukan.

Hanya perlu political will dari pemerintah,” katanya. Lebih lanjut, tngginya inflasi tersebut bisa memberikan ketidakpastian dan mengganggu potensi pertumbuhan sehingga pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan dari kemungkinan kenaikan inflasi hingga akhir 2022. Tantangan terbesar yang dihadapi perekonomian Indonesia lainnya ialah potensi terjadinya stagflasi, yaitu kenaikan inflasi di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan, bahkan kontraksi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 4,35 persen (yoy) pada Juni 2022 atau sedikit lebih tinggi dari proyeksi empat persen plus minus satu persen.

Realisasi ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017. Lebih lanjut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan tingkat inflasi hingga akhir 2022 akan mencapai tingkat 4,5 persen, dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas global akibat disrupsi rantai pasok global dan perang antara Rusia dan Ukraina. Dengan demikian, pada perdagangan besok mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif. Namun, ditutup melemah di rentang Rp 14.960 – Rp 15.020. (mcr28/jpnn)