Ribuan Anak Purworejo Terkena Stunting

SAMBUTAN. Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo, Fatimah Verena saat memberikan sambutan pada kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat dengan sosialisasi stunting, kemarin.(Foto lukman)
SAMBUTAN. Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo, Fatimah Verena saat memberikan sambutan pada kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat dengan sosialisasi stunting, kemarin.(Foto lukman)

MAGELANGEKSPRES.COM, PURWOREJO – Sebanyak 3.589 anak di Kabupaten Purworejo atau 8,22 persen dari 43.664 jumlah anak di Purworejo mengalami stunting. Stunting sendiri merupakan permasalahan gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, terjadi sejak bayi dalam kandungan karena saat hamil sang ibu kurang mengonsumsi makanan bergizi.

Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo Fatimah Verena Prihastyari Agus Bastian SE mengungkapkan, persoalan stunting patut menjadi perhatian untuk segera dituntaskan.

Hal tersebut disampaikannya pada kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat dengan sosialisasi stunting, di Aula kantor PKK Kabupaten, Kamis (3/5). Turut mendampingi Ketua Pokja IV PKK Wiwit Sugiharto SKM, dan narasumber Mujiyani Bambang SKM MM, Sri Wardani AMKeb, Endang Sari Asih.

Lebih lanjut Fatimah Agus Bastian mengatakan, stunting disebabkan oleh faktor multidimensi intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Ini sebagai saat yang terpenting dalam hidup seseorang. Sejak saat perkembangan janin di dalam kandungan, hingga usia anak dua tahun menentukan kesehatan dan kecerdasan seseorang,” ujarnya.

Dikatakan, TP PKK berperan penting dalam pembinaan keluarga karena PKK mempunyai kader dari tingkat pusat sampai daerah, hingga dasa wisma. Oleh karena itu setiap informasi- informasi penting yang diperoleh kader PKK akan sampai kepada setiap keluarga. Apalagi keluarga sebagai faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak menghabiskan waktunya 60-80 persen bersama keluarga.

“Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang anak tidak lepas dari kehangatan dalam keluarga,” tutur Fatimah.

Sementara itu Wiwit Sugiharto SKM dalam laporannya mengatakan, penyelenggaraan kegiatan tersebut dalam rangka mendukung visi misi Bupati Purworejo yakni meningkatkan daya saing sumber daya manusia yang unggul dalam arti luas. Di samping itu sesuai hasil rakon PKK Provinsi Jawa Tengah dalam isu strategis skala prioritas adalah menurunkan masalah gizi khususnya Stunting, maka perlu sosialisasi stunting.

Artikel Menarik Lainnya :  PPKM Level 3, PTM Terbatas di Purworejo Diikuti 50 Persen Siswa

Tujuannya kata Wiwid, untuk meningkatkan pengetahuan PKK, tentang masalah stunting. Mengetahui bagaimana dampak stunting serta mencegahnya. Sosialisasi diikuti 80 orang dari pengurus PKK 16 kecamatan terbagi dalam 2 hari supaya tidak terjadi kerumunan. “Yakni hari Rabu dan Kamis yang masing-masing diikuti 40 orang. Untuk kegiatan Rabu dibuka Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Dra Erna Setyowati Said Romadhon,” jelasnya.

Sri Wardani dalam materinya menjelaskan, perlunya makanan gizi mulai hamil sampai dua tahun. Di desa harus melakukan deteksi dini pada Ibu hamil supaya diamati dan dilaporkan. Kelahiran bayi dengan berat badan rendah selalu dilakukan pemantauan. Karena dampak DBL bisa menjadi stunting. Stunting akibat kurangnya gizi kronis pada 1000 HPK dari hamil sampai melahirkan tidak memperhatikan menu seimbang. Yakni protein, kalori, sayur dan buah atau yang sering disebut antara lain karbohidrat, sayur, buah, hewani, dan nabati. Seperti ikan, daging, tahu, tempe. “Bisa juga didapatkan dari makanan lokal yang ada di lingkungan,” paparnya. (luk)