Resah, Kenaikan Sejumlah Barang Semakin Membebani Masyarakat Temanggung

Salah satu unit truk tengah mengisi BBM jenis solar di sebuah SPBU di Kabupaten Temanggung
Salah satu unit truk tengah mengisi BBM jenis solar di sebuah SPBU di Kabupaten Temanggung (Foto: rizal ifan chanaris.)
TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Bulan Ramadan tahun 2022 menjadi fenomena istimewa bagi masyarakat. Pasalnya sebagian besar masyarakat dibuat resah dengan adanya kenaikan sejumlah barang. Mulai kebutuhan pokok hingga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax belum lama ini.
Terkait kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter, kekhawatiran mereka cukup beralasan, hal ini dikarenakan setiap adanya kenaikan harga BBM jenis tertentu diprediksi berimbas pada kenaikan harga barang-barang lain akibat meningkatnya biaya operasional transportasi.
Belum lagi, tak sedikit kalangan masyarakat yang pengguna kendaraan pribadi yang sudah nyaman menggunakan BBM jenis Pertamax karena alasan kualitas.
“Saya buruh pabrik biasa, hanya punya satu sepeda motor. Istri saya tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga biasa. Kalau harga Pertamax naik otomatis pengeluaran kami naik karena seriap hari pasti beli bahan bakar, padahal gaji tetap. Pusing rasanya,” keluh Abu Setiawan (32), salah seorang warga Kecamatan Kranggan, Sabtu (2/4).
Sutiyono (50), warga lain juga mengeluhkan adanya kenaikan harga BBM jenis Pertamax. Ia mengaku kebijakan tersebut sangat mencekik masyarakat kalangan bawah. Tak hanya masalah membengkaknya pengeluaran mereka, namun untuk beralih kembali menggunakan BBM jenis Pertalite juga sebuah pilihan yang sulit karena bahan bakar ini perlahan mulai sulit dijumpai.
“Saya beberapa kali menemukan kekosongan BBM Pertalite di sejumlah SPBU dan harus membeli Pertamax. Memang kualitasnya lebih bagus buat kendaraan, tapi selisih harganya lumayan. Setelah harga Pertamax naik kemarin, Pertalite di beberapa pedagang eceran juga mulai susah didapat. Adanya Pertamax harganya Rp 13.500 per liter,” keluhnya.
Tak berhenti sampai di situ saja, BBM jenis solar bersubsidi juga mulai sulit didapat. Kalaupun ada, beberapa SPBU memberlakukan pembatasan pembelian. Hal itu diungkapkan oleh Hari (45), salah seorang pengemudi truk ekspedisi asal Kabupaten Batang.
Kepada Magelang Ekspres.com, ia mengaku beberapa SPBU yang ia jumpai mulai membatasi pembelian Solar yang tak lain merupakan bahan bakar truk dan sejumlah kendaraan pribadi baik angkutan umum maupun pribadi.
“Mulai agak susah sekarang dapat Solar. Memang belum sampai antri lama, tapi di beberapa SPBU yang saya jumpai di berbagai daerah setiap saya melintas, pembelian Solar terkadang dibatasi, ada juga yang kosong,” ungkapnya usai mengisi BBM di salah satu SPBU Temanggung.
Situasi tersebut diperparah dengan naiknya sejumlah kebutuhan pokok, salah satu yang paling mencolok adalah minyak goreng kemasan yang harganya tembus Rp 25.000 per liternya.
Tak pelak, kenaikan harga Pertamax, mulai langkanya Pertalite dan Solar, hingga melonjaknya berbagai kebutuhan pokok membuat masyarakat khawatir hal ini berpengaruh luas terhadap harga berbagai barang lain.
“Ramadan biasanya harga-harga naik, ini malah BBM naik sesaat sebelum memasuki Ramadan. Bagaimana nanti kondisi ekonomi rakyat kecil. Harus menghitung ulang pengeluaran, belum lagi mikir persiapan Lebaran besok. Harus pinter-pinter ngatur keuangan meski kurang-kurang,” tutup Sugiyani (38), salah seorang ibu rumah tangga. (riz)