Rara Mandalika

Rara Pawang Hujan

Oleh : Dahlan Iskan

SEBENARNYA saya ingin menulis tentang balap motor di Mandalika. Tapi, saya takut bersaing dengan Azrul Ananda.

Sebenarnya saya punya kelebihan darinya: punya nomor kontak Rara Wulandari –si pawang hujan yang menghebohkan itu. Tapi, saya kasihan dia: saya tidak ingin paksa dia untuk bercerita.

Saya memang menghubungi Rara. Tapi, sekadar untuk mengucapkan selamat: Anda top di atas top. ”Rahayuuuuu,” sapa saya kepada Rara.

Saat saya hubungi, Rara sedang menuju Pura Agung. Untuk semedi. Hari itu Kamis malam –malam Jumat Kliwon. Rara harus menenangkan diri. Rara merasa berita tentang dia terlalu banyak. Rara meminta agar saya tidak mewawancarai dulu.

Bagaimana dengan begitu banyaknya sorotan medsos padanya?

”Santai saja, Pak” kata Rara. ”Nanti kan reda sendiri,” tambahnya.

Kali pertama mengontak Rara empat hari lalu. Rara masih belum mau bicara. Dia mengatakan akan menghubungi saya: kalau sudah siap diwawancara. Saya tunggu. Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Rara belum mau bicara. ”Sudah terlalu banyak berita tentang Rara,” katanya.

Berhasilkah Rara?

”Tidak,” bunyi komentar di medsos. ”Buktinya, hujan turun,” katanya.

”Rara sangat berhasil,” tulis yang lain. ”Bisa menghentikan hujan,” tambahnya.

Kalau saja hujan tidak berhenti, balap motor internasional itu berantakan. ”Kalau hujan lebih panjang setengah jam lagi saja, akan langsung diputuskan balapan dibatalkan,” ujar seorang pengamat MotoGP. ”Tidak ada istilah ditunda besoknya, atau lusanya,” tambahnya.

Bahwa hujan itu berhenti, kata ahli cuaca, memang sudah waktunya berhenti. Ada atau tidak ada Rara. Cuaca kini makin bisa dihitung: kapan hujan dan untuk berapa lama.

Bahwa terjadi hujan di Mandalika ternyata justru disyukuri para pembalap. Apalagi, hujan bisa berhenti pada saat yang tepat. Kalau saja tidak sempat ada hujan, menurut media di Barat, cuaca di Mandalika akan terlalu panas. Aspal di lintasannya juga terlalu berpasir. ”Hujan sebentar itu telah membersihkan pasir debu dari permukaan lintasan,” tulis media tersebut.

Itu dibuktikan dari balapan kualifikasi sehari sebelumnya. Seorang pembalap terjatuh. Pakaian balapnya –dengan bahan dari kulit– diperiksa. Ternyata banyak pasir batu yang menancap di bahan kulit itu. Dan hujan sebentar itu telah membersihkan permukaan aspalnya.

Berhasilkah acara MotoGP Mandalika itu? ”Secara umum sangat berhasil. Nama Indonesia terangkat di dunia balap motor,” ujar pengamat balap independen.

Publikasi balap Mandalika di luar negeri sangat positif. ”Sudah layak Indonesia jadi penyelenggara. Dunia tahu penggemar MotoGP di Indonesia terlalu banyak. Terbanyak di dunia,” tulis mereka.

Kalau saja tahun depan balap itu bisa digeser ke Juni atau Juli, tentu jauh lebih berhasil. Cuaca Bali-Lombok di bulan itu luar biasa nyamannya. Pasti pengunjung internasional akan sangat terkesan.

Tapi, di bulan itu Bali dan Lombok sangat ramai. Disebut peak season. Sudah banyak turis yang ke sana. Untuk apa menambah ramai yang sudah ramai.

Mungkin banyak juga yang menginginkan tetap saja di bulan Maret. Di musim hujan. Dengan alasan sederhana: agar Rara bisa beraksi lagi. Menghibur sekali. Pun secara internasional. Ada kearifan lokal dalam event internasional. Ada nama orang Indonesia yang diberitakan hampir sejajar dengan para juara.

Yang sedih adalah tokoh-tokoh yang semula berharap ikut top di event besar tersebut. Yang telah bekerja keras mempersiapkan balapan bergengsi itu. Tiba-tiba nama-nama itu tenggelam oleh Rara.

Siapa Rara?

Anda sudah tahu: dia tarot. Spesialisasinya: mencegah, menahan, menggeser, dan menyetop hujan. Di Bali Rara itu diibaratkan Calon Arang. Di zaman Kerajaan Kadiri-nya Prabu Airlangga.

Sama-sama wanita. Sama-sama single parent. Sama-sama punya anak satu. Sama-sama punya kesaktian.

Calon Arang, perempuan, punya kemampuan magic luar biasa. Sampai pasukan Raja Airlangga saja tidak bisa menundukkannya.

Calon Arang telah mematahkan mitos bahwa orang biasa tidak akan bisa berkuasa. Calon Arang, dengan ilmu magic-nya, telah membuat dirinyi sejajar dengan raja.

Rara punya kelebihan tidak hanya mengatur hujan. Juga, meramal nasib dan memproduksi alam masa datang.

Kisah selebihnya Anda sudah tahu: Calon Arang punya anak yang sangat bertolak belakang dengan ibunya. Ia sangat pengasih dan penyayang rakyat. Ia pernah melihat rakyat tidak bisa memanjat pohon kelapanya. Manggali, sang anak, menjatuhkan kelapa itu dari jarak jauh.

Tapi, Calon Arang juga punya kelemahan. Dia diperdaya. Jimat-jimatnya dicuri intelijen raja. Dia tidak sakti lagi.

Ada yang mengecam kejadian Rara di Mandalika itu telah menimbulkan citra Indonesia seperti negara primitif. Kalau kecaman itu datang dari para ilmuwan, mungkin sulit dilawan. Tapi, karena kecaman itu datang dari kalangan Islam, banyak juga yang menyerang balik: orang Islam minta hujan lewat salat dan doa secara Islam, Rara mencegah hujan juga lewat doa agama Rara. Apa salahnya.

Ada juga tokoh yang sebenarnya sudah berusaha ”menenggelamkan” diri dari Rara maupun dari hiruk pikuk Mandalika –tapi tidak bisa tenggelam begitu saja.

Ia sangat berjasa dalam merintis sirkuit Mandalika. Ia pantas duduk di deretan kursi VIP –bahkan VVIP. Tapi, ia memilih duduk jauh di tempat penonton umum.

Sudah banyak yang merayunya: agar mau pindah ke kursi depan. Sejajar dengan para pimpinan negara. Ia bergeming. Ia bersikukuh duduk di kursi umum. Ia merasa sudah bukan siapa-siapa. Ia sudah menjadi warga Lombok biasa.

Di zona B itu ia duduk bersama istri dan anak-anaknya. Ditemani para alumnus Al-Azhar, Kairo. Sebanyak 350 orang. Mereka lagi kumpul di Lombok. Ia adalah ahli tafsir Qur’an –yang juga hafal Qur’an– lulusan Al-Azhar. Sampai mendapat gelar doktor di sana.

Ia adalah Tuan Guru Bajang. Gubernur NTB pada waktu Mandalika diputuskan untuk balapan MotoGP.

Hebat. Sebagai acara balap motor, Mandalika telah jauh melampaui batas-batas asap knalpotnya. (Dahlan Iskan)