Ranjang Isolasi Covid-19 RSUD Tidar Penuh

PENUH. Kapasitas ranjang isolasi pasien Covid-19 di RSUD Tidar Kota Magelang sudah penuh. Bahkan, rumah sakit plat merah itu terpaksa menerapkan sistem buka tutup pasien. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)
PENUH. Kapasitas ranjang isolasi pasien Covid-19 di RSUD Tidar Kota Magelang sudah penuh. Bahkan, rumah sakit plat merah itu terpaksa menerapkan sistem buka tutup pasien. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Keterpakaian tempat tidur di ruang perawatan pasien Covid-19 maupun umum di rumah sakit rujukan Covid-19 Kota Magelang, mengalami lonjakan. Jumlah tempat tidur hampir penuh sehingga RSUD Tidar menerapkan buka tutup penerimaan pasien.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang, dr Intan Suryahati mengatakan, kapasitas ranjang isolasi pasien Covid-19 di rumah sakit plat merah itu sudah penuh.

”Kalaupun ada yang kosong, itu langsung diganti pasien baru saat itu juga, sehingga kami katakan RSUD Tidar sudah penuh. Lalu RS Budi Rahayu juga penuh. Kalau untuk RSJ Prof Dr Soerojo dan RST dr Soedjono masih ada tapi tinggal sedikit,” kata dr Intan, kepada wartawan, Senin (21/6).

Berdasarkan laman https://covid19.magelangkota.go.id/ yang diperbaharui pada tanggal 21 Juni 2021, pukul 12.06 WIB ketersediaan isolasi di RSJ dan RST masing-masing menyisakan 16 ranjang.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Magelang itu menambahkan, kapasitas tempat tidur di tempat isolasi terpusat juga kian terbatas. Di Hotel Borobudur, Jalan A Yani, Magelang Utara misalnya, sudah penuh sejak beberapa waktu lalu.

”Tapi untuk yang kelompok pertama sudah diperbolehkan pulang karena sudah sembuh. Sebagai langkah antisipasi, kami sudah membuka lagi lokasi isolasi terpusat di Hotel Safira, sejak Minggu (20/6),” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Harian Satgas Covid-19 Kota Magelang, Joko Budiyono menyarankan agar masyarakat memilih menjalani isolasi berbasis institusi atau isolasi terpusat, karena lebih efektif untuk menghentikan penyebaran virus corona dibanding isolasi mandiri di rumah.

”Kalau isolasi terpusat, tingkat kontak bisa berkurang sebanyak 90 persen, sementara isolasi di rumah hanya 75 persen. Isolasi di rumah juga tidak ada jaminan, apakah penyintas ini benar-benar melakukan isolasi atau tidak karena minimnya pengawasan,” tuturnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Tanpa harus Datang ke Kantor, BPJS Kesehatan Magelang Tingkatkan Layanan Online

Pemerintah pusat, kata Joko, sudah merekomendasikan agar hanya pasien yang memiliki gejala parah yang dirawat di rumah sakit. Sementara pasien dengan gejala ringan sebaiknya diisolasi secara terpusat dan mendapat pengawasan ketat dari Satgas Covid-19.

”Isolasi terpusat benar-benar efektif, karena disediakan fasilitas yang mumpuni, seperti triase, perawatan medis dasar, dan hidup yang penting seperti asupan gizi, peralatan sehari-hari, dan lain sebagainya,” terangnya.

Dengan isolasi terpusat, lanjut Joko, bisa mencegah risiko penularan di dalam keluarga dan lingkungan yang sering terjadi belakangan ini.

”Triase sendiri adalah melokalisir orang yang bergejala dan tidak bergejala, karena harus ada pembatasan supaya tidak menyebar di masyarakat. Antara masyarakat yang sehat dan tidak sehat harus terpisah,” katanya. (wid)