Ramah Lingkungan, Panitia Kurban di Mertoyudan Bungkus Daging dengan Besek

RAMAH LINGKUNGAN. Penggunaan besek dan kantung kresek berbahan pati singkong, diterapkan oleh Panitia Kurban Idul Adha di Mushola Al Ikhsan Dusun Kalimalang Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. (cha)
RAMAH LINGKUNGAN. Penggunaan besek dan kantung kresek berbahan pati singkong, diterapkan oleh Panitia Kurban Idul Adha di Mushola Al Ikhsan Dusun Kalimalang Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. (cha)

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Sebagai langkah penerapan ramah lingkungan hidup, Panitia Kurban Idul Adha di Mushola Al Ikhsan Dusun Kalimalang Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang menggunakan besek bambu dan kantung kresek  biodegradable.

Panitia Kurban bagian perlengkapan, Mushola Al Ikhsan Dusun Kalimalang Mertoyudan, Istifari mengatakan, hal tersebut sudah dilakukan dalam dua tahun ini.

“Tahun lalu kami hanya memakai besek dan masih menggunakan kantung kresek plastik biasa. Namun tahun ini sudah memakai kantung kresek yang mempunyai sifat biodegradable,” ucap Istifari, Selasa (20/7/2021), yang melakukan pemotongan hewan kurban dengan penerapan prokses ketat, dan daging dibagikan kepada warga RW 1 yang terdiri dari tiga RT 180 KK.

Adapun kantung kresek mempunyai sifat biodegradable, mudah terurai kurang dari enam bulan, ditanam dalam tanah atau dikompos. Dikarenakan berbahan dasar dari pati singkong.

Istifari menyebutnya sebagai alternatif. Karena kalau plastik biasa akan bisa terurai selama ratusan juta tahun. Sementara itu dengan plastik dari pati singkong ini dapat terurai (jika dipendam di dalam tanah atau dikompos) selama kurang dari enam bulan. Itulah mengapa panitia mencantumkan notes di kartu ucapan tentang waste management kresek dari pati singkong yang digunakan.

“Kantung kreseknya Eco Plast dari Bandung, harganya lima kali lipat lebih mahal dari kantung kresek biasa. Saya mengetahui hal itu dari membaca informasi yang mana produk tersebut ngetrend beberapa cafe di Jogja. Saat ini menjadi salah satu solusi ramah lingkungan, namun harganya belum bisa dijangkau oleh semua orang. Namun bila kantung tersebut hanya berakhir di TPA atau tidak dikomposkan akan sama saja hasilnya,” terang Istifari.

Sedangkan untuk besek bambu, sebagai wadah daging kurban, oleh panitia juga ditulisi pesan agar besek bisa dimanfaatkan ulang.

Artikel Menarik Lainnya :  Momen HUT ke-20, Partai Demokrat Kabupaten Magelang Peduli dan Berbagi

“Besek bisa dipakai ulang, setelah dicuci dan dijemur dahulu, misal sebagai wadah bumbu. Plastik biasa harusnya tidak sekali pakai, bisa dipakai ulang, tapi prakteknya sekali pakai. Itu yang berpotensi menimbulkan banyak sampah plastik,” papar Istifari.

Di sisi lain, di tengah pandemi covid dan himpitan ekonomi masyarakat yang desanya tidak ada yang berkurban sama sekali menjadi prioritas lazisNU MWC Secang untuk memberi kebahagian bersama masyarakat dengan membagi daging kurban. Dalam kurban ini mengusung Go Green.

“Konsep Go green dimaksud adalah Kurban ramah lingkungan dengan tidak menggunakan kantong plastik untuk bungkus daging kurban, tetapi menggunakan besek dan tali gedebog pisang serta tali dari bambu, Dengan tujuan ikut Berperan menjaga pelestarian lingkungan dengan mungurangi sampah plastik,” ucap M. Aulia Husna Ketua Panitia Kurban Lazisnu MWC Secang.

Menariknya dari salah satu Kurban yang disembelih merupakan tabungan dari anak kelas 5 SD bernama Arya Adiwangsa Darmawan, Warga Kramat Selatan Kota Magelang ini sudah menabung sejak setahun lalu ketika diajak ayahnya mengantar hewan kurban untuk LazisNU MWC Kecamatan Secang, anak kecil tersebut tergerak dan menabung selama setahun.

Satu ekor sapi metal dan tiga ekor kambing dari dermawan disembelih di dusun Ledok desa Pirikan Kecamatan Secang, tetapi distribusi daging ke desa desa lain di kecamatan Secang yang tahun ini tidak ada kurban atau minim kurban.(cha).