Program Listrik di Wilayah 3 T Banyak Kendala

Program Listrik di Wilayah 3 T Banyak Kendala

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Rasio elektrifikasi di Indonesia menemukan banyak kendala. Hingga 2020, aliran listrik hanya mencapai 99,20 persen dari target 100 persen.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, kendala utama yang dihadapi di wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) adalah sulitnya akses akibat minimnya infrastruktur dari dan menuju wilayah tersebut, serta seperti di Papua terkendala gangguan keamanan.

“Rasio elektrifikasi ini sedikit banyak terganggu, meskipun kita sudah targetkan 100 persen tetapi nyatanya baru bisa sampai 99,20 persen,” ujar Rida kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (14/2).

PLN sendiri sebenarnya telah mengidentifikasi desa-desa yang belum bisa mengakses listrik tersebut. Sejumlah upaya pun disiapkan untuk itu, mulai dari rencana penggunaan tabung listrik, membangun pembangkit lokal dengan sumber daya yang tersedia di wilayah itu, hingga pembangunan Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL).

“Pengadaan tabung listrik Rp525 miliar itu bisa dianggarkan dari dana desa atau pemerintah daerah,” kata Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini di Jakarta, belum lama ini.

Terpisah, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, baik pemerintah maupun PLN harus terus mengupayakan sekuat tenaga agar rasio elektrifikasi bisa mencapai 100 persen. Dengan demikian, bisa mewujudukan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Jadi saya kira memang perlu langkah nyata baik dari Kementerian ESDM maupun PLN agar rasio elektrifikasi bisa 100 persen. Memang bukan langkah yang mudah, mengingat infrastruktur untuk membangun listrik itu sulit, terutama untuk wilayah-wikayah yang berada di wilayah yang terluar. Jadi butuh suatu effort untuk menjangkau rasio elektrifikasi tersebut,” ujar Mamit kepada FIN, kemarin/

Lanjut dia, Kementerian ESDM maupun PLN harus bisa memanfaatkan potensi sumber listrik yang terdapat di wilayah 3T. Sebab, jika menunggu pembangunan jaringan transmisi atau yang lain-lain, misal menggunakan pembangkit listrik berbasis diesel, maka hal itu akan tidak efektif dan cenderung boros dalam operasionalnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Xiaomi Luncurkan Redmi 10, Jagoannya Smartphone Entry-Level dengan Quad Camera 50MP

“Pemanfaatan energi lokal terkait renewable energi harus jadi prioritas utama. Sebab ini menjadi tulang punggung untuk penyediaan listrik di wilayah 3T, baik dengan energi matahari, angin, atau bahkan dengan biomasa, tergantung potensi yang ada di daerah tersebut. Ini tergantung bagaimana pemerintah menyediakan fasilitas,” jelasnya.

Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto mengatakan, pemerataan energi dalam hal ini akses terhadap listrik, sejalan dengan program pemerataan perekonomian. Menurutnya, melalui penyebaran akses listrik hingga wilayah 3T, juga bisa mendorong perekonomian di wilayah itu tumbuh.

“Sebut saja mungkin pariwisatanya, yang semua orang enggan melirik karena gelap dan tidak ada listrik, sekarang menjadi terang dan terbuka. Belum lagi potensi-potensi lain, termasuk juga akses informasi menjadi lebih baik dengan adanya listrik,” ujar Ryan kepada FIN, kemarin.

Data Kementerian ESDM, dari 433 desa yang masih gelap di 2019, sebanyak 69 desa meliputi 5 desa di NTT, 1 desa di Maluku, 33 desa di Papua, dan 30 desa di Papua Barat sudah dilistriki pada tahun lalu yang membuat rasio desa listrik meningkat menjadi 99,56 persen dan rasio elektrifikasi 99,20 persen

Pada tahun 2020, penambahan pembangkit listrik di Indonesia mencapai 2.866,6 Megawatt (MW), transmisi listrik tercatat bertambah 2.648 kilometer sirkuit (kms), kemudian penambahan gardu induk dilakukan sebesar 7.870 Mega Volt Ampere (MVA).

Jumlah jaringan distribusi terpasang bertambah 27.434 kms, dan penambahan gardu distribusi mencapai 2.590 MVA. Berdasarkan perhitungan pada akhir 2020, konsumsi listrik perkapita mencapai 1.089 Kilowatt hour (kWh) atau 95 persen dari target yang ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2019 sebesar 1.142 kWh.

Pada 2020 juga tercatat ada perbaikan dari sisi System Average Interruption Duration Index (SAIDI) Nasional atau lama pemadaman listrik yang tercatat hanya 12,72 jam/pelanggan/tahun atau berada di bawah target 15 jam/pelanggan/tahun. (git/din/fin)

Artikel Menarik Lainnya :  Youtuber Desa, dengan Sejuta Subscriber Terkesan Yamaha Gear 125