Produksi Udang Vaname di Purworejo Capai 3.000 Ton per Tahun

UDANG VANAME. Pejabat PPN/Bappenas, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Pemkab Purworejo saat meninjau budidaya udang di Desa Jatikontal Kecamatan Purwodadi pada Oktober 2020 lalu. (dokumen Purworejo Ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Kabupaten Purworejo menjadi salah satu lumbung penghasil udang vaname di Jawa Tengah yang dilirik berbagai daerah di Indonesia. Jumlah produksinya yang cukup besar di sepanjang wilayah pantai selatan juga sangat berpotensi untuk menjangkau pasar mancanegara.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo, Wasit Diono SSos, saat dikonfirmasi menyebut potensi udang vaname di Kabupaten Purworejo cukup tinggi. Berdasarkan data yang dimiliki, ada sekitar 400 hektare tambak udang yang tersebar di 12 desa di Kecamatan Purwodadi, Ngombol, dan Grabag.

“Potensi udang di Purworejo memang cukup tinggi dengan kualitas produksi yang cukup baik,” sebutnya, Selasa (23/2).

Menurutnya, udang vaname menjadi komoditas unggulan Purworejo yang memiliki pemasaran cukup luas. Wasit memperkirakan, sebagian produk Purworejo diekspor melalui pedagang perantara.

“Sepertinya belum ada yang bisa menjual langsung kepada konsumen di luar negeri,” ungkapnya.

Secara detail, Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan DPPKP, Eko Paskiyanto API MM, menjelaskan bahwa lokasi tambak terbentang sepanjang lebih kurang 21 Kilometer, mulai pantai Jatikontal Kecamatan Purwodadi hingga Kertojayan Kecamatan Grabag. Dari 400 hektar itu, ada separuh lebih yang saat ini aktif membudi daya dengan jumlah tambak sekitar 1.200 petak.

Baca Juga
Plh Bupati Purworejo Pimpin Ziarah Jelang Hari Jadi

“Jumlah pembudidaya yang tercatat sebanyak hampir 632 orang. Ada sekitar 20 Pokdakan (Kelompok pembudidaya ikan), tapi tidak semua tergabung,” jelasnya.

Dilihat dari kapasitas produksi dalam 1 kali siklus panen udang, yakni 80 sampai 90 hari per petak mencapai 2 hingga 3 ton. Berdasarkan database yang dimiliki, tercatat pada tahun 2018 total hasil produksi mencapai sekitar 3.100 ton dengan nilai produksi sekitar Rp168 miliar, tahun 2019 sekitar 3.202 ton dengan nilai produksi Rp155 miliar, dan tahun 2020 sekitar 2.798 ton dengan nilai produksi sekitar Rp147 miliar. Jika dirata-rata, total produksi per tahun sekitar 3.000 ton per tahun.

Artikel Menarik Lainnya :  Universitas Muhammadiyah Purworejo Kembangkan Media Pembelajaran Smart Learning Torso

“Untuk tahun 2020 memang mengalami penurunan meskipun tidak siginifikan karena dampak pandemi Covid-19. Seperti ada kelesuan pasar, kelesuan usaha, pembatasan keluar, dan lain-lain. Tapi 2021 ini sepertinya sudah mulai normal karena pemerintah juga ada regulasi yang mempermudah,” sebutnya.

Diungkapkan, budidaya udang vaname di Purworejo mulai muncul tahun 2009 dan menggalami booming sekitar tahun 2014-2015. Bisnis ini kian menjanjikan dan terus berkembang karena wilayah pesisir selatan memiliki kualitas air yang sangat baik.

“Budidaya vaname ini menurut analisis saya memang tidak ada yang mengalahkan karena harga jual itu di atas 5 kali harga pakan. Selama ini pemasaran sudah menjangkau berbagai daerah,” ungkapnya.

“Namun, memang seiring perjalanannya petani juga banyak menemui kendala, seperti adanya virus, penyakit, persoalan limbah dan lain-lain,” sambungnya.

Menurut Eko, beberapa persoalan itu kerap muncul akibat ketidaktaatan petambak. Pemerintah lanjutnya, telah menekankan 3 konsep budidaya, meliputi Berkedaulatan, berkesinambungan, dan kesejahteraan.

Dari 3 itu persoalan lingkungan, khususnya limbah, paling krusial. Pasalnya, hampir seluruh tambak berada di tanah negara atau Government Grond (GG) sehingga Pemkab tidak memiliki wewenang untuk melakukan pengaturan.

“Ini memang yang menjadi pekerjaan rumah kita karena sudah cukup lama dalam proses pembahasan. Mudah-mudahan kalau nanti sudah ada kejelasan status tanah, berbagai persoalan ini akan teratasi,” tandasnya.

Persoalan lainnya yakni terkait belum selesainya Perda RT RW yang mengatur penataan kawasan. Dengan adanya Perda RT RW ini nanti proses pemasaran untuk langsung menjangkau pasar mancanegara akan lebih mudah karena investor dapat mendirikan gudang atau perusahaan pengelolaan.

“Apalagi Purworejo ini dekat bandara di Kulonprogro dan pelabuhan di Cilacap. Potensi ekspor langsung ini sangat besar. Jika dapat melakukan ekspor langsung tentu harga jual petambak akan lebih tinggi,” tegasnya.  (top)

Artikel Menarik Lainnya :  Dua Pekan Diburu, Polisi Akhirnya Berhasil Amankan ODGJ