Produksi Menurun Karena Terdampak Covid-19

    BENGKEL. Salah satu anggota perajin bambu sedang bekerja di bengkel pembuatan handycraft.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Melongok Pembuatan Handycraft Bambu Poktan Gemah Ripah, Desa Wates
    Kecamatan Wonoboyo

    Pemasaran masih menjadi salah satu kendala yang belum terpecahkan bagi para perajin handycraft berbahan bambu. Apalagi selama pandemi Covid-19 ini, produktivitas mereka semakin menurun lantaran minimnya orderan.

    Pandemi Covid-19 memang belum juga berakhir, namun sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tetap harus berkarya, demi mendapatkan rupiah untuk keberlangsungan usahanya.
    Meskipun tantangan yang dihadapi saat ini memang cukup berat, namun anggota Kelompok Tani Gemah Ripah, Desa Wates Kecamatan Wonoboyo Temanggung, tidak pernah menyerah. Sudah bertahun-tahun mereka memproduksi pemisah ruangan, meja mini, pot bunga, tatakan gelas dan aneka bentuk kerajinan lainnya.

    Namun hasta karya mereka saat ini belum begitu dikenal di Temanggung apalagi di luar Temanggung, karya mereka bahkan tidak dikenal. Hal ini disebabkan karena pemasaran untuk produk mereka masih mengalami kendala.

    Selama ini, hasil produksi tersebut hanya dipromokan apabila ada pameran-pameran. Untuk pemasarannya, sejauh ini hanya mengandalkan pesanan personal yang minim.

    “Sementara ini kami baru bisa mengenalkan produk buatan kami melalui berbagai pameran saja, apalagi selama setahun terakhir ini sejak pandemi melanda sudah tidak ada lagi pameran,” kata Joko (30) salah satu perajin sekaligus pemilik bengkel kerajinan tersebut.

    Untuk mengembangkan karya mereka, Joko harus merelakan gudang lantai dua yang dijadikan bengkel produksi pembuatan handycraft dari bahan bambu tersebut. Sedangkan jenis bambu yang digunakan adalah bambu Gendani. Bambu tersebut sebelumnya telah dijemur hingga kering sebelum akan dimulai proses produksi.

    Dengan sebilah pisau, ia mulai menghaluskan ruas-ruas bambu dan meratakan pada sisi tersebut. setelah halus, bambu kemudian mulai dipotong sesuai ukuran yang diharapkan berdasarkan bentuk sket kerajinan yang akan dibuat. Tidak hanya dipotong, sebagian diantaranya dibengkok-bengkok untuk mendapatkan lengkungan dan lekukan menurut
    pola.

    Artikel Menarik Lainnya :  Melongok Gerak Kereta Api Menerobos Pandemi

    Memang kalau belum bisa membengkokkan bambu sepertinya sulit. Namun bagi Joko dan ke 13 rekannya, membengkokkan bambu adalah hal yang sangat mudah.

    “Bambu cukup dipanaskan, dengan api yang tidak terlalu panas, sambil ditekuk pelan. Harus pelan jangan sampai patah,” terang Joko sambil membengkokan bambu.

    Dari ke-13 orang yang membantu, masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda, mulai dari menebang bambu sampai mengolahnya menjadi siap edar di pasaran.

    “Kami berkelompok dan memiliki tugas yang berbeda-beda. Pembagian tugasnya sudah kami lakukan,” terangnya.

    Awalnya, untuk menciptakan kerajinan tersebut, Joko bersama dengan warga lainnya mendapatkan pelatihan kerajinan dari Pemkab Temanggung.
    Dari hasil pelatihan tersebut, ia kemudian mengajarkan kepada warga
    lainnya. Atas inisiatif kepala desa setempat, akhirnya sepakat untuk
    mendirikan kelompok tani yang konsentrasi bidangnya pada kerajinan
    hasil bambu.

    “Dana yang digunakan adalah dana swadaya dari kelompok. Kami iuran
    dibantu oleh kas desa juga,” imbuh Setyoko, Ketua poktan Gemah Ripah.

    ‘Kenekatan’ membentuk usaha kerajianan bersama tersebut cukup
    beralasan. Sebab di desa tersebut, sepanjang jalan memasuki komplek hingga di dalam perkampungan, bambu apus dengan mudah
    dapat ditemukan.

    Berjejer memagari tepi jalan dan selama ini tidak banyak digunakan selain untuk mainan anak-anak.

    “Bahan bakunya tersedia cukup, tinggal butuh peralatan dan tenaga
    saja,” tambahnya.

    Untuk pemasaran hasil produksi produk tersebut, saat ini hanya
    mengandalkan pemesanan personal dari orang-orang awam. Selebihnya,
    dijual secara eceran di toko-toko handycraft di Wonosobo dan
    Banjarnegar serta online. (*)