Potensi Longsor Susulan, Warga Windusari Diminta Waspada

Potensi Longsor Susulan Warga Windusari Diminta Waspada
PEMANTAUAN. Tim Penyelidik Bumi Badan Geologi PVMBG Wonosobo melakukan kegiatan pemantuan di lokasi longsor di Dusun Windusari Desa Tlogojati Kecamatan Wonosobo.

WONOSOBO– Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung meminta masyarakat di Dusun Windusari Desa Tlogojati Kecamatan Wonosobo tetap waspada longsor. Pasalnya, kalau dilihat dari struktur tanah masih berpeluang mengalami longsor susulan, saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dengan durasi waktu lama. Masyarakat disarankan mengungsi terlebih dahulu.

“Pascalongsor itu, warga harus waspada. Masih berpotensi terjadi longsor susulan. Mata air  yang ada bisa mendorong terjadinya pengikisan sepanjang rembesan, serta memicu pelunakan pada bagian atasnya, dan batuan paling atas jenis lava yang sudah mengalami retak,” ungkap Penyelidik Bumi Badan Geologi PVMBG Wonosobo, Yunara Dasa Triana, saat meninjau lokasi longsor di Dusun Windusari Tlogojati.

Menurutnya, di lapisan bawah sudah tidak ada penahan karena terus menerus tergerus air, maka bebatuan tersebut kemudian mengalami longsor. Setelah melakukan pengamatan di sejumlah titik lokasi longsor, terdapat bongkahan batu jenisnya lava. Kelihatan sekali jejak-jejak bahwa bebatuan tersebut sudah terjadi retak. Kemudian, di bawah batu jenis lava, ada bebatuan jenis brexi zero plastik. Dan, di bawahnya lagi ada lapisan batu jenis lain yang terdapat mata air.

Di sisi lain  kondisi sumber mata air yang terus menggerus kondisi lapisan batuan berada di tengah-tengah, antara dasar sungai dengan puncak tebing. Berdasar pengamatannya, kondisi sumber air berada di ketinggian delapan meter dari permukaan sungai dan di bawah sekitar 12 meter dari bagian atas.

“Perkiraan kami ketinggian tebing sekitar 20 meter. Selain faktor geologi,  curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir juga menjadi pemicu longsor itu,” imbuhnya.

Faktor lain yang juga mempengaruhi adanya longsor di tebing tersebut adalah vegetasi. Hal ini karena terdapat tanaman bambu dengan rumpun cukup banyak, sangat dekat dengan bibir lereng. Hal itu tentu sangat membebani kondisi bebatuan lava yang dalam posisi retak dan bagian bawah sudah sangat lemah, menjadikan tanah longsor tidak terelakkan. Kemungkinan longsor susulan masih bisa terjadi, jadi butuh kewaspadaan.

Artikel Menarik Lainnya :  Melirik Potensi Usaha Budidaya Tawon Klanceng

Sementara itu Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, Sudarna menyebutkan, dari asssement yang dilakukan BPBD,  sejumlah rumah di lereng yang mengalami longsor, terdapat satu rumah dalam kondisi cukup rawan. Namun, tak menutup kemungkinan ada sekitar tujuh rumah di sekitarnya tetap harus waspada.

“Kami sarankan penghuni rumah di sekitar lokasi longsor tetap berhati-hati, khususnya saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan lama,” katanya.

Langkah awal yang akan dilakukan oleh pemerintahan desa diantaranya mengeringkan kolam ikan. Selain itu, pihaknya juga meminta agar warga tidak membuang air secara langsung melalui tebing tanpa adanya alat bantu paralon. Setidaknya ada sekitar tujuh rumah berada cukup dekat dengan lokasi longsor dan cukup terancam. Tujuh rumah itu cukup berbahaya, namun belum diperlukan relokasi

“Tanah masih sangat labil, ditambah dengan adanya beberapa kolam ikan yang berada didekat tebing sehingga mengakibatkan tanah longsor. Kami pantau jika terjadi cuaca yang ekstrim. Pemilik rumah bisa mengungsi di tempat aman jika cuaca hujan deras dan lama,” pungkasnya (gus)