Polisi Kawal Ketat Distribusi Migor di Temanggung

ANTRE. Ratusan warga Temanggung antre untuk mendapatkan minyak goreng curah di salah satu toko di Temanggung, Senin (4/4).(foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
ANTRE. Ratusan warga Temanggung antre untuk mendapatkan minyak goreng curah di salah satu toko di Temanggung, Senin (4/4).(foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM Kapolres Temanggung AKBP Burhanuddin menegaskan, pengawasan terhadap distribusi minyak goreng (migor) terutama migor curah, akan dilakukan lebih ketat lagi. Bahkan tim satgas pangan dari Polres dan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan setiap hari akan terjun langsung ke pasar dan tempat lainnya.

“Pengawasan akan dilakukan secara berkelanjutan, setiap hari laporan akan kami terima dan kami teruskan,” kata Kapolres saat di temui di ruang kerjanya, Senin (4/4).

Ia mengungkapkan, pasokan migor curah dengan minyak goreng kemasan di Temanggung ada. Namun untuk pasokan migor curah masih sangat terbatas, sedangkan migor kemasan jumlahnya cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kapolres menyebutkan, di Temanggung ada 6 distributor migor curah, di antaranya berada di Kecamatan Temanggung, Parakan dan Jumo. Di tempat-tempat tersebut pihaknya akan melakukan pemantauan secara intensif.

“Migor kemasan persediaan di toko, pasar tradisonal dan tempat lainnya cukup, lebih dari cukup dari berbagai merek, terkait dengan harga disesauikan dengan mekanisme yang ada,” jelasnya.

Polres bersama pejabat dari Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Temanggung terus berkoordinasi melakukan pemantauan di pasar-pasar tradisional, minimarket dan pasar modern.

Satgas pangan dan Dinas Perdagangan akan bertugas mengawasi jalur distribusi minyak goreng curah, memastikan stok ada di pasaran sehingga tidak ada terjadinya penimbunan.

Pengawasan ini dilakukan agar jangan sampai ada kelangkaaan dan penimbunan migor maupun sembako di saat bulan Ramadan hingga menjelang hari raya Idul Fitri mendatang.

“Lebih proaktif memantau mengatasi sembako, dalam waktu dekat ini ada kemungkinan kebutuhan masyarakat akan sembako semakin meningkat,” katanya.

Sementara secara terpisah, Sarwani (43) salah satu warga Kecamatan Temanggung menuturkan, untuk mendapatkan migor curah, dirinya harus rela antre berjam-jam di bawah terik matahari. Satu orang pembeli hanya diberi jatah paling banyak 17 liter saja, dengan harga Rp15.500 per liter.

“Dari jam 06.00 WIB sudah mulai antre, kalau tidak mau antre ya tidak dapat minyak goreng murah,” tuturnya.

Belum lagi lanjutnya, kapan migor curah akan kembali ada tidak bisa dipastikan, padahal minyak goreng menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat, apalagi selama Ramadan hingga Idul Fitri.

“Migor tiap hari dipakai memasak dan untuk berjualan, kadang sudah habis tapi stok juga belum ada, terpaksa kami membeli migor kemasan yang harganya jauh lebih mahal dibanding migor curah,” tuturnya.(set)