Petik Merah Kunci Kualitas Kopi

0
305
petik kopi.
PETIK.  Petani kopi di Desa Muncar Kecamatan Gemawang sedang memetik kopi di kebunnya, 

TEMANGGUNG – Petik merah menjadi kunci dalam mempertahankan kualitas kopi. Selain itu dengan cara memetik kopi merah juga meningkatkan harga kopi, baik kopi cery (merah basah) ataupun biji kopi (green bean). Bahkan dengan cara ini juga semakin meningkatkan harga jual kopi.

“Sudah tujuh tahun terakhir ini kami sudah berusaha melakukan petik merah,” ungkap Sarwadi salah satu petani kopi di Desa Muncar Kecamatam Gemawang, kemarin.

Menurutnya, dengan cara memetik merah harga jual kopi merah gelondong basah bisa mencapai antara Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram. Sedangkan jika dipetik campur antara merah dan hijau harga jual paling tinggi hanya Rp5.000 per kilogram.

Selisih harga jual antara petik merah dengan petik asal ini, cukup menarik minat petani untuk melakukan petik merah pada kopi milik mereka. Dan saat ini sudah lebih dari 30 persen petani di daerahnya mulai melakukan petik merah.

“Kami sudah berupaya maksimal, agar petani bisa melakukan petik merah. Dan hasilnya saat ini petani sudah mulai melakukan petik merah, meskipun belum semuanya,” tuturnya.

Dirincikan dengan cara petik merah maka harga jual biji kopi kering antara Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Namun dengan petik campir antara merah dan hijau harga jual biji kopi kering hanya berkisar antara Rp22.000 hingga Rp25.000 per kilogram.

“Perbedaan harganya memang cukup jauh, petani menjadi semakin tertarik mengolah kopi dengan baik,” katanya.

Namun demikian diakui Sarwadi, untuk mengajak petani melakukan petik merah dan mengolah kopi sesuai, bukan perkara yang mudah. Apalagi saat mulai panen raya tiba petani berharap bisa lebih cepat mendapatkan keuntungan dari hasil pertaniannya.

“Ini yang menjadi kendala, tapi kami tetap berusaha agar semua petani di desa kami bisa melakukan petik merah, dengan harapan kopi dari daerah kami kualitasnya semakin meningkat dan dengan demikian kesejahteraan petani juga akan meningkat,” harapnya.

Edi Darmadi petani kopi lainnya menuturkan hal yang sama. Petani asal Kecamatan Kaloran ini mengaku sudah sejak zaman orang tua bahkan dari nenek buyutnya, di Kecamatan Kaloran sudah ada perkebunan kopi.  Hanya saja cara pemetikan dan pengolahannya belum benar maka harga jual kopi masih belum maksimal.

“Dari dulu harga kopi yang dipanen paling mahal hanya Rp27.000 per kilogram itupun baru beberapa kali saja,” tuturnya.

Namun lanjutnya, saat ini sebagian petani sudah mulai meningkatkan kualitas kopi dengan cara melakukan petik merah. Namun pihaknya masih menemui kendala dalam menularkan ke petani yang lain.

“Masih sulit, belum semua petani bisa melakukan petik merah,” ucapnya.

Sementara itu sebelumnya, Wakil Bupati Temanggung Heri Ibnu Wibowo meminta agar petani kopi semakin meningkatkan kualitas kopi, mengingat kopi Temanggung semakin banyak peminatnya.

“Jika kualitas semakin ditingkatkan, ke depan petani kopi akan semakin sejahtera. Sebab harga kopi akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas kopi,” tandasnya. (set)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here