Petani Terpukul, Harga Hasil Pertaniannya Anjlok

PETIK. Salah satu petani cabai di Desa Jeketro sedang memetik cabai di ladangnya, 
PETIK. Salah satu petani cabai di Desa Jeketro sedang memetik cabai di ladangnya, 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Tidak hanya tembakau saja yang saat ini harganya anjlok, tapi juga hasil pertanian lainnya, terutama komoditas sayuran harganya sangat murah. Kondisi ini cukup memukul perekonomian masyarakat di Kabupaten Temanggung.

Saripin Ahmad salah satu petani cabai di Kecamatan Kledung menuturkan, anjuran dari pemerintah untuk melakukan sistem tanam tumpang sari sudah dilakukan oleh petani. Namun pada kenyataanya dengan sistem ini pun masih belum bisa mengangkat perekonomian petani. Harga jual produksi pertanian rata-rata masih di bawah biaya tanam, perawatan hingga panen raya.

“Tidak hanya tembakau, cabai, tomat, terong, kobis dan sayuran lainnya harganya anjlok,” keluhnya, Minggu (30/8).

Ia menyebutkan, saat ini harga jual cabai keriting merah hanya Rp4.000 per kilogram, tomat Rp500 per kilogram, terong Rp500 per kilogram, kembang kol juga hanya laku dijual Rp1.000 per kilogram. Dengan harga tersebut sudah dipastikan petani akan mengalami kerugian yang sangat banyak.

“Tidak hanya rugi, tapi pasti bangkrut. Mayorita petani memilih tidak memanen tanaman sayuran mereka, sebab hasil panen saja kurang untuk biaya panen,” tuturnya.

Baca juga
PT Giri Digdoyo Mulyo Santuni Anak Yatim

Ia menuturkan, tanaman sayuran ini ditanam di sela-sela tanaman tembakau, atau lebih sering disebut dengan sistem tumpang sari. Dengan sistem ini diharapkan, petani masih tetap bisa mendapatkan penghasilan jika salah satu di antara tanaman itu harga jualnya tidak bagus.

Namun pada kenyataanya, saat ini semua hasil pertanian harganya anjlok, kondisi ini semakin memperparah perekonomian petani. Hasil dari bertanam menjadi satu-satunya penghasilan bagi petani.

“Kalau harga jualnya saja murah, bagaimana petani mau sejahtera,” katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan Mudiharto petani lainnya. Perekonomian petani semakin terpuruk manakala saat ini harga jual tembakau rajangan kering juga tidak sesuai dengan harapan petani. Padahal dirinya sudah berusaha dengan menanam dengan sistem tumpang sari ini.

Artikel Menarik Lainnya :  Ada yang Untung, Banyak yang Buntung, Inilah Nasib Petani Tembakau di Temanggung saat Panen Raya

“Niatnya memang bagus, bisa panen sayuran juga panen tembakau, hanya saja harga jualnya yang tidak sesuai,” tuturnya.

Saat ini lanjutnya, dirinya sudah tiga kali panen tembakau. Pada penen pertama tembakau rajangan keringnya hanya laku terjual Rp25.000 per kilogram. Panen kedua tembakaunya hanya dibeli Rp30.000 per kilogram dan panen ketiga laku terjual Rp40.000 per kilogram.

Harga ini katanya, sangat jauh dari harapan, bahkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya harga jual tembakau saat ini paling murah.

“Tahun kemarin panen pertama saja sudah laku Rp40.000 per kilogram, dan paling mahal bisa diatas Rp100.000 per kilogram,” ujarnya.

Padahal, biaya tanam tembakau saat ini cukup mahal, dalam satu hektar bisa menghabiskan modal Rp65 juta hingga Rp80 juta. Dengan harga jual seperti saat ini maka petani bisa dipastikan akan merugi.

“Tidak hanya petani tembakau saja yang merasakan dampaknya, sebagian besar masyarakat Temanggung juga akan merasakan. Karena tembakau selama ini sudah menjadi bagian dari masyarakat Temanggung,” katanya.

Oleh karena itu Mudiharto berharap, agar pemerintah bisa mencari solusi terbaik, sehingga ke depan harga tembakau bisa mengalami perubahan.

“Ini masih pertengahan panen raya, jika ada perubahan harga maka masih ada harapan bagi petani. Kami sangat berharap pemerintah bisa menjadi jembatan bagi petani,” harapnya. (set)