Petani Tembakau di Temanggung Untung Besar, di Akhir Panen Varietas Srintil Dibeli Rp850.000 /Kg

Salah satu petani tembakau sedang bertransaksi hasil penjualan tembakau di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo, Senin (22/11). (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
TRANSAKSI. Salah satu petani tembakau sedang bertransaksi hasil penjualan tembakau di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo, Senin (22/11). (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Harga jual tertinggi tembakau asli Temanggung pada panen raya 2021 mencapai Rp850.000 per kilogram. Bahkan transaksi yang tercatat di salah satu pedagang tembakau di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo lebih dari Rp50 miliar.

“Akhir panen raya tahun ini saya beli tembakau dari petani paling tinggi Rp850.000 per kilogram, itu asli tembakau dari Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo,” kata Rame salah satu pedangan sekaligus petani tembakau di desa setempat, Senin (22/11).

Ia mengatakan tembakau yang laku dengan harga Rp850.000 tersebut adalah Tembakau Srintil asli tanpa campuran yang kualitasnya terbaik pada panen raya tahun ini.

Menurutnya, memang tidak semua tembakau dibeli dengan harga Rp850.000 per kilogram, namun rata-rata Tembakau Srintil di akhir panen raya ini di harga Rp300.000 hingga Rp450.000 per kilogram.

“Di awal panen raya memang harga ada di kisaran Rp50.000 sampai dengan Rp80.000, tergantung dari kualitas dan grade tembakau itu sendiri,” jelasnya.

Dikatakan, memang di tahun ini adalah musim kemarau basah, namun untuk kualitas tembakau justru lebih baik dari tahun kemarin, dengan catatan varietas kemloko perawatan dan pengolahan dilakukan dengan cara terbaik.

“Yang kami beli ini adalah tembakau asli Temanggung, tidak ada tembakau campuran dari daerah lainnya, kami berusaha mempertahankan kualitas tembakau asli Temanggung,” tukasnya.

Menurutnya, dengan mempertahankan tembakau asli Temanggung, kualitas tembakau juga akan jauh lebih baik dari yang dicampur dengan tembakau daerah lainnya. Pihak pabrikan juga mau membeli tembakau dengan harga yang cukup mahal sesuai dengan kualitasnya.

“Dari dulu kami memang sudah berusaha mempertahankan kualitas, jadi kami bisa menawar harga ke pabrikan, karena tembakau yang kami jual adalah tembakau asli Temanggung,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Nasib Tragis Dua Kakak Beradik Pembobol Konter HP

Dalam kurun waktu satu kali panen raya, setidaknya sudah ada 8.000 keranjang yang dijual ke perwakilan PT Gudang Garam di Temanggung. Dengan jumlah tersebut kurang lebih ada perputaran uang sebanyak Rp50 miliar.

“Yang saya berikan kepada petani hari ini (Senin_red) kurang lebih ada Rp20 miliar, lainnya sudah kami berikan langsung kepada petani saat jual beli. Ini yang terakhir di panen raya tahun ini. Semoga saja tahun depan panen raya tembakau bisa lebih baik dari tahun ini,” harapnya.

Bupati Temanggung M Al Khadziq yang meninjau langsung proses transaksi jual beli tembakau menuturkan, dari pembayaran yang dilakukan petani kali ini adalah periode akhir dari panen raya. Harga tembakau asli Temanggung sesungguhnya bagus untuk tahun ini.

Terbukti yang grade C diharga Rp60.000 – Rp65.000 per kilogram, grade D Rp75.000-Rp80.000, bahkan sampai grade G dan H ada harga yang mencapai Rp850.000.

“Harga ini jauh lebih baik dari harga tembakau di tahun 2020 lalu,” kata Bupati.

Dengan mempertahankan kemurnian tembakau asli Temanggung terbukti harga jual lebih tinggi dan lebih stabil.

Bupati mengimbau agar petani tidak mencampur tembakau asli dengan tembakau dari luar daerah, karena tembakau asli Temanggung terkenal dengan kualitas terbaiknya.

Sementara itu salah satu petani Jenggo menuturkan, tembakau miliknya dengan kualitas srintil terbaik dibeli dengan harga Rp850.000 per kilogram. Dari sejumlah tembakau yang dikelolanya, hanya ada satu keranjang saja yang menjadi tembakau srintil.

“Tembakaunya asli tidak ada campuran, daerah kami memang sudah komitmen untuk tidak mencampur tembakau dari daerah lainnya,” tuturnya. (set)