Petani Tembakau di Temanggung Mulai Tergiur Bikin Cerutu Sendiri

CERUTU. Salah satu pekerja di WLC sedang membuat cerutu. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
CERUTU. Salah satu pekerja di WLC sedang membuat cerutu. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Berangkat dari keterpurukan, kini cerutu buatan petani Temanggung mulai merambah pasar internasional. Harga jualnya juga melebihi tembakau yang biasa diproduksi petani pada umumnya.

“Awalnya memang dari rasa ketidakpuasan dengan harga jual tembakau yang selalu di luar harapan, kemudian saya mencoba sedikit demi sedikit, dan akhirnya mulai diterima pasar,” ungkap Yudha Sudarmaji pengelola cerutu yang bernaung di bawah CV Air Bus Sindoro Coffee, kemarin.

Ia bercerita, cerutu yang diproduksinya ini memang hasil produksi tangan-tangan petani tembakau di Temanggung. Selain itu juga sebagian bahan baku pembuatan cerutu ini diambil dari daerah Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya.

“Kami tidak mengunakan tembakau luar negeri, semua tembakau nusantara,” tukasnya.

Dijelaskan Yudha, dalam satu batang cerutu, 65 persen bahan bakunya adalah tembakau Temanggung, yakni tembakau dengan varietas kemloko yang memang asli varietas Temanggung.

Selain itu lanjutnya, 35 persen lainnya adalah tembakau dari Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya. Setiap daerah mempunyai karakter sendiri. Sehingga memang masih membutuhkan tembakau dari luar Temanggung,

Namun katanya, ke depan dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan tembakau lokal Temanggung. Selain untuk mengurangi biaya produksi juga untuk membuktikan bahwa tembakau Temanggung bisa menghasilkan produk turunan lainnya.

Menurutnya, saat ini dirinya telah melakukan beberapa percobaan menanam tembakau luar Temanggung di wilayah Temanggung, dengan harapan tembakau itu nantinya bisa memenuhi semua kebutuhan untuk produksi cerutu.

“Jadi cerutu itu ada tiga bagian, filler atau isi cerutu yang terdiri dari berbagai jenis tembakau, Binder, yakni pengikat filter dan wrapper pelapis luar pada sebatang cerutu. Setiap bagian ini membutuhkan tembakau yang berbeda jenis dan karakternya. Saat ini kami sedang berusaha membudidayakan di Temanggung dalam waktu dekat ini juga sudah panen, semoga saja sesuai yang kami harapkan,” jelasnya.

Ia mengaku, saat ini pihaknya sedang berusaha memberikan edukasi kepada beberapa petani tembakau di Temanggung, bahwa tembakau Temanggung itu tidak hanya bisa dijual ke pabrikan rokok kretek saja, namun juga bisa menghasilkan produk yang nilai jualnya cukup fantastis.

“Bisa diproduksi menjadi tembakau lembutan, bisa diberi rasa herbal dan yang lainnya. Bahkan bisa juga dijadikan bahan baku cerutu yang mana cerutu ini pangsa pasarnya menengah ke atas dan pasarnya masih terbuka lebar, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” jelasnya.

Ia mengaku, di awal membuat cerutu di tahun 2016 lalu, memang tantangannya sangat besar, mulai dari bahan baku, pasar dan yang lainnya. Namun ternyata, ketika ditekuni dan dipelajari dengan benar, ternyata seiring dengan berjalannya waktu pasar mulai menerima dan orderan mulai mengalir.

“2016 mulai membuat, 2019 mulai kami pasarkan, alhamdulilah sekarang hampir semua kota-kota besar di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, Kalimanta, Sumatera sudah menjadi pasar kami. Dan terakhir ini kami kirim ke Inggris, Turki dan beberapa negara lainnya,” tuturnya.

Ke depan katanya, tidak menutup kemugkinan semua petani di Temanggung bisa menjadi produsen turunan tembakau, mulai dari tembakau lembutan, tembakau cangklong hingga cerutu.

Jika ini sudah terjadi lanjut Yudha, petani tembakau di Temanggung akan mempunyai nilai tawar yang tinggi, karena kebutuhan tembakau Temanggung akan semakin meningkat. Tidak seperti saat ini tembakau hanya dibeli pabrikan saja, sehingga tidak ada nilai tawar.

“Yang kami harapkan petani tembakau bisa kembali berjaya, punya nilai tawar yang tinggi, produk turunan dari tembakau ini bisa menjadi pilihan bagi petani,” tandasnya. (set)